Katanya  Harus Cinta Produk Lokal, tapi  Impor Beras

MENATA : Sejumlah pegawai tengah menata karung-karung beras di gudang beras Bulog, Bandung. Foto:TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/POJOKBANDUNG

MENATA : Sejumlah pegawai tengah menata karung-karung beras di gudang beras Bulog, Bandung. Foto:TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/POJOKBANDUNG

POJOKBANDUNG.com,  SOREANG – Ketua Departemen Litbang Teknologi Pertanian KTNA Kabupaten Bandung, Andri Ramadani menolak kebijakan pemerintah yang akan melakukan impor beras. Menurutnya, kebijakan peningkatan produktivitas padi lebih efektif dibandingkan dengan kebijakan membeli beras dari negara lain.


“Kalau dengan impor ini, ya dengan cepat langsung terpenuhi, tapi kan merugikan petani. Sampai kapan terus begini, kapan bisa swasembada padi lagi. Padahal presiden menyatakan kita harus cinta produk nasional dan benci produk luar,” ujar Andri saat dihubungi via telepon, Kamis (11/3).

Tanpa adanya impor, lanjut Andri, kondisi petani sudah kurang bagus, apalagi kalau sudah diterapkan kebijakan impor. Menurutnya, masih ada alternatif yang bisa mengatasi masalah kekurangan stok beras. Salah satunya adalah dengan peningkatan produksi padi. Kata Andri, produksi padi saat ini yaitu lima sampai enam ton per hektarnya.

“Jadi sebenarnya ada teknologi yang bisa diedukasi ke petani agar bisa menghasilkan produksi padi delapan sampai sepuluh ton per hektar. Hal itu akan membuat petani sejahtera dan stok nasional akan terpenuhi,” jelas Andri.

Meskipun jumlah lahan pertanian terus berkurang, namun ada teknologi yang bisa meningkatkan produksi padi. Kata Andri, namanya teknologi tepat guna. Yaitu dari mulai bibit, proses pengairan, cara tanam hingga proses pemupukkan itu harus dilakukan secara benar dan tepat sasaran.

“Contohnya penggunaan benih, itu benar-benar yang bersertifikat dan benar-benar unggul, dan menggunakan bibit yang cocok dengan kondisi daerah. Kemudian tentang pengairannya, jadi kapan harus menggunakan air yang banyak, kapan airnya harus dikurangi. Terkait pupuk, ketika umur tujuh hari pakai pupuk apa, setelah umur 21 hari gimana. Jadi tepat guna dan sasaran dan bisa menghasilkan butiran padi yang benar-benar berisi,” tutur Andri

“Jika benar penanganannya, maka bisa sampai sepuluh ton per hektar. Kalau sekarang masih ada yang produksinya kurang, itu karena masih ada yang kurang pupuk, terlalu banyak air, atau ada yang karena bibitnya kurang cocok,” sambungnya.

Andri mengungkapkan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan institusi berikut dengan tim teknisnya, yang bersedia untuk memberikan edukasi kepada petani untuk meningkatkan produktivitas padi, khususnya di wilayah Kabupaten Bandung.

“Lahan pasti akan berkurang, karena dengan adanya pembangunan. Maka caranya adalah meningkatkan produktifitas. Kalau lahan berkurang 20 persen, maka kita harus meningkat produksi padi lebih dari 20 persen, biar bisa mengimbangi, jadi hasil panen tidak berkurang,” katanya.

“Pemerintah harus selektif, mana yang boleh jadi perumahan, mana yang harus menjadi lahan pertanian abadi. Jadi kajiannya harus lebih matang lagi. Jangan sampai lahan yang basah dan airnya cukup berlimpah tapi dijadikan perumahan,” pungkas Andri.

(jpg)

Loading...

loading...

Feeds