Pengrajin Kurangi Produksi karena Pandemi

OLEH-OLEH : Salah seorang pengrajin oleh-oleh kalua jeruk, Elin Ratna Asmara di sebuah toko oleh-oleh kalua jeruk Ciwidey. (foto : Fikriya Zulfah/Radar Bandung)

OLEH-OLEH : Salah seorang pengrajin oleh-oleh kalua jeruk, Elin Ratna Asmara di sebuah toko oleh-oleh kalua jeruk Ciwidey. (foto : Fikriya Zulfah/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com, CIWIDEY – Akibat pandemi Covid 19 yang melanda Indonesia khususnya wilayah Kabupaten Bandung, pengrajin oleh-oleh khas Ciwidey yaitu kalua jeruk terpaksa mengurangi jumlah produksi. Hal tersebut dikarenakan jumlah wisatawan yang datang terus berkurang.


“Kurangin produksinya, kalau dulu sebelum ada pandemi, setiap hari saya bikin 100 kilogram lebih, kalau sekarang dua minggu sekali baru bikin, jadi sangat terdampak dengan adanya pandemi ini,” ujar salah seorang pengrajin oleh-oleh kalua jeruk, Elin Ratna Asmara saat wawancara di Ciwidey, Selasa (9/3/2021).

Elin mengungkapkan bahwa usaha pembuatan kalua jeruk ini merupakan bisnis yang dilaksanakan oleh neneknya, Eneh Sutinah, sejak tahun 1989. Kata Elin, kalua jeruk ini merupakan olahan dari kulit jeruk bali. Karena kiosnya berdiri di jalur wisata Ciwidey, maka mayoritas pembelinya adalah wisatawan.

Kalua jeruk ini diolah dengan berbagai macam rasa, diantaranya duren, melon, strawberry, jeruk hingga rasa gula merah. Elin biasa menjual kalua jeruk dengan harga Rp70 ribu per kilogram untuk semua rasa. Jika ada pelanggan yang ingin beli satu kilogram dengan beraneka macam rasa.

“Selain kalua jeruk, ada macam-macam makanan lagi. Biasanya ibu buat manisan kelapa, karena sekarang lagi pandemi Covid 19 pengunjung berkurang, jadi manisan kelapanya enggak dibuat, cuman kalua jeruk, sama ada yang titip barang disini,” ungkap Elin.

Adapun untuk proses pembuatan kalua jeruk, kata Elin, bisa memakan waktu hingga dua hari lamanya. Kulit jeruk bali yang hijau dikupas kemudian dibuang, barulah kulit putih dari jeruk bali ini dipotong membentuk segitiga.

Langkah selanjutnya adalah kulit putih itu direndam selama satu malam menggunakan kapur sirih. Akibat perendaman tersebut kulit akan berwarna kuning. Selanjutnya cuci hingga warna kapurnya itu menghilang. Lalu direbus sampai empuk kemudian cuci lagi sampai tidak ada rasa pahit. Terakhir barulah dimasak pakai gula asli, bisa pakai gula aren atau gula putih.

“Kekuatan tahannya bisa dua minggu, tetap cantik, kalau lebih dari dua minggu rasanya masih tetap tapi cantiknya berkurang, tidak bening,” pungkas Elin.

(fik/b)

Loading...

loading...

Feeds