Prahara Keluarga yang Menyakitkan

Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang

Oh, bunda ada dan tiada

Dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku

Sepenggal bait lagu yang dinyanyikan oleh Melly Guslaw yang telah mengisahkan gambaran jasa seorang ibu yang senantiasa memanjakan anak-anaknya; dan gambaran anak yang akan senantiasa merindukan bundanya baik ada ataupun sudah tiada, keduanya saling merindukan. Betapa indah gambaran lagu tersebut.

Namun pada faktanya gambaran lagu tersebut tidaklah sejalan dalam kehidupan saat ini. Ada anak yang menggugat orangtua atau orangtua menggugat anak, seakan tidak lagi saling menghormati dan saling menyayangi.

Sedih, perih melihat kelakuan generasi saat ini. Bagaimana tidak, anak yang seharusnya berbakti pada orangtua, namun tega memenjarakan ibu kandungnya sendiri. Seperti kasus yang terjadi di Demak, seorang anak tega memenjarakan ibunya sendiri hanya karena masalah baju, bahkan menolak didamaikan dan bersikukuh melanjutkan kasus tersebut ke ranah hukum. Hingga akhinya sang ibu terancam hukuman 5 tahun penjara.

Kasus serupa pun terjadi di Lombok, Seorang anak tega melaporkan ibunya yang sudah tua renta. hanya gara-gara motornya dipakai oleh saudaranya. Polisi sempat menolak laporan ini dan menasehatinya, tapi sang anak menolak dan tetap menjebloskannya ke penjara.

Fakta terbaru adalah apa yang dialami oleh Koswara, seorang bapak tua yang telah digugat oleh anaknya sendiri. Dan ketika ditelusuri ternyata gugatan itu berhubungan dengan harta warisan. warisan turun-temurun yang belum dibagikan dan masih dimiliki keluarga besar. Ketika tanah itu bermaksud dijual untuk dibagi sebagai warisan keluarga, anak kedua kakek Koswara ini tidak terima hanya karena telah mengontrak tanah warisan itu untuk usaha dan membangun warung klontongan. (kompas.com, 23/01/21)

Hati merasa tersayat dan sakit. Karena anak yang ketika kecil diasuh dan dibesarkan serta disayangi dan orangtua berharap anaknya akan mampu menjadi anak yang shaleh dan berbakti pada orang tuanya, ternyata berperilaku sebaliknya. Ibu yang senantiasa memberikan ASI yang terbaik dan pengasuhan pada anaknya. Kemudian seorang ayah yang senantiasa membanting tulang untuk menafkahi dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya, ternyata ketika dewasa justru berani bersikap buruk seperti itu.

Persoalan-persoalan seperti itu memang bukanlah hal yang baru, banyak kasus anak yang tega menelantarkan orangtuanya. Ada yang menitipkan orangtuanya ke panti jompo atau juga menelantarkan di jalanan. Seakan-akan orangtua adalah beban. Betul pepatah mengatakan orangtua mampu mengasuh anak berapun jumlahnya tapi anak tidak mampu mengasuh kedua orangtuanya.

Tentu kita miris menyaksikan kondisi seperti ini. Ibu yang sudah bertaruh nyawa melahirkan anak ke dunia. Namun mata hati terkadang dibutakan oleh emosi sesaat. Uang dan kekayaan menjadi segalanya. Seolah tidak ada lagi hubungan darah, yang ada hanyalah bisnis. Jika ada tindakan yang dianggap merugikan, hubungannya langsung gugatan, hubungan darah pun dilupakan.

Nilai-nilai liberal (kebebasan) telah menghilangkan penghormatan kepada kedua orangtua. Juga gagal mengahadirkan ketenangan dalam keluarga, dan hanya menghasilkan generasi durhaka. Kondisi ini memang tidak mengherankan karena kita hidup dalam sistem yang rusak, yaitu kapitalis sekuler yang diterapkan di negeri yang mayoritas muslim terbesar dan menjadi biang keladi rusaknya generasi.

Agama yang seharusnya menjadi benteng penjaga diri, dijauhkan perannya dalam kehidupan. Materi pun akhirnya menjadi standar perbuatan. Wajar jika manusia mudah tertekan. Dan urusan dosa pun diabaikan. Inilah hasil pendidikan ala kapitalisme. Pendidikan yang menanamkan materialisme dalam benak manusia, sehingga hubungan darah tidak bernilai dan tidak berharga. Manusia tidak lagi bisa membedakan yang benar dengan yang salah, bisikan syahwat terhadap gemerlap dunia telah menutup mata dari syariat.

Islam sebagai agama yang fitrah memiliki solusi yang tuntas dalam mengatasi masalah ini. Karena Islam bukan hanya sekadar agama tetapi juga sistem kehidupan yang Allah turunkan untuk kebaikan seluruh umat manusia. Ajaran Islam mencakup abluminallah, yaitu hubungan manusia dengan Allah, seperti shalat, shaum, zakat, ibadah haji, doa dan sebaginya, Islam juga mengatur hablumbinafsi, yaitu hubungan manusia dengan dirinya sendiri mencakup, makanan, minuman, pakaian dan akhlak. Dan juga Islam mengatur hubungan manusia yang satu dengan manusia lain yaitu habluminanas, mencakup muamalah, ekonomi, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, pergaulan dan sebagainya.

Islam mengajarkan bagaimana anak harus berbakti pada orangtua selama bukan perkara maksiat. Bahkan jika ortangtuanya itu orang kafir sekalipun, seorang anak tidak boleh menyakiti orangtuanya. Terlebih kepada seorang ibu yang telah mengadung, melahirkan dan menyusui. Allah Swt. berfirman:

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orangtua, ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu” (TQS. Luqman: 14)

Islam dengan keimanannya kepada Allah, mengajarkan anak untuk taat kepada orangtua. Janganlah berlaku kasar, mengatakan “ah” saja tidak diperkenankan (lihat TQS. al-Israa: 23-24).

Islam juga menjadikan rida orangtua sebagai rida Allah dan murka Allah tergantung murka orangtua (HR. Thabrani). Artinya kedudukan orangtua sangat penting. Tidak selayaknya disakiti. Perintahnya adalah kewajiban untuk ditaati. Kecuali perintah untuk berkhianat kepada Allah.

Tidak hanya itu, aturan Islam yang komprehensif akan mendukung keluarga dalam mendidik anak. Sistem pendidikan Islam yang menanamkan keimanan dan rida Allah sebagai orientasi. Sistem ekonomi yang menjamin sandang, pangan, papan, pendidikan, keamanan dan kesehatan. Sistem sanksi yang tegas pada setiap pelanggaran hukum syariat. Sistem pemerintahan yang mengatur segala kebijakan disesuaikan dengan syariat. Keseluruhanya akan membentuk kepribadian individu yang sempurna. Individu yang taat kepada Islam. Secara otomatis tidak akan menyia-nyiakan keduaorangtuanya. Betapa indahnya keluarga-keluarga jika semua berlandaskan pada aturan Islam yang membawa pada kerukunan dan kedamaian dalam keluarga.

Oleh Inayah

Ibu Rumah Tngga Dan Pegiat Dakwah

Loading...

loading...

Feeds

Kereta LRT Tabrakan di Cibubur

Kereta LRT Tabrakan di Cibubur

POJOKBANDUNG.com- Kecelakaan transportasi umum kembali terjadi. Jika tadi pagi melibatkan 2 bus TransJakarta. Kali ini kereta Lintas Rel Terpadu (LRT) …