Bisakah, Isolasi Mandiri Dihindari?

Jumlah penderita Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Data terkini korban virus Corona yang dilansir oleh Merdeka.com, pada hari Selasa, 9 Februari 2021, bertambah 8700 menjadi 1.174.779 kasus. Angka penularan Covid-19 di Indonesia, berpotensi akan terus bertambah, jika tidak ada upaya segera mengurangi laju penyebaran.


Minimnya informasi lokasi penderita, dan kuantitas pemeriksaan pasien, sikap masyarakat yang kurang peduli, juga tidak adanya ketegasan dan keseriusan pemerintah dalam usaha menanggulangi atau mengurangi penyebaran virus Covid-19, sehingga penyebaran terus bertambah dan meningkatnya jumlah pasien Covid-19. Banyaknya pasien Covid-19 mengharuskan tersedia sarana Rumah Sakit disetiap daerah.

Dilansir dari JabarEkspres.com, Soreang, belum lama ini Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, meminta seluruh kepala daerah kota/kabupaten, yang ada di Provinsi Jawa Barat, agar tidak membiarkan warga yang terpapar virus Covid-19, menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Pasalnya menurut Ridwan Kamil, hal tersebut akan memunculkan klaster keluarga di Jawa Barat. Menanggapi hal demikian Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, Osin Permana, menghargai statement dari orang nomor satu di Jabar tersebut yang bertekad untuk menekan penyebaran Covid-19. Namun kata Osin, Kabupaten Bandung masih belum mendukung dihilangkannya isolasi secara mandiri.

“Apabila tidak ada isolasi mandiri, maka yang terkonfirmasi harus ditangani oleh rumah sakit. Sehingga otomatis rumah sakitnya harus tersedia dan pelayanan juga harus tersedia. Tetapi kondisi ini memang untuk Kabupaten Bandung, nampaknya belum bisa,” ungkap Osin saat dihubungi melalui telepon seluler, Rabu (3/2). Dikatakan Osin, apabila memang ada penambahan jumlah warga yang terkonfirmasi Covid-19, otomatis isolasi mandiri tidak bisa dihindari. Namun jika memang ketersediaan kamar, sarana dan pelayanannya memadai, pihaknya akan mendukung untuk tidak ada yang mekakukan isolasi mandiri.

Islam agama yang sempurna, yang mengatur seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali bagaimana cara Islam dalam menanggulangi suatu wabah. Cara pandang Islam, dalam menghadapi sesuatu hal yang terjadi sudah dipandu dalam Al-Qur’an, terdapat dalam surat Al-Baqarah [2] : 155-157.

Allah Swt. berfirman: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikan lah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” (sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya lah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang yang mendapat petunjuk. (Q.S Al-Baqarah : 155-157).

Merujuk pada ayat tersebut, dalam konteks sekarang dengan adanya virus Corona, merupakan salah satu ujian dari Allah Swt. Semua orang dibuat takut oleh penyebaran dan penularan virus Corona ini. Oleh sebab itu sikap yang diambil adalah meyakini bahwa virus Covid-19 ini adalah mahluk Allah Swt., yang tunduk dan taat atas perintah Allah Swt. Dengan demikian manusia diharuskan kembali kepada jati dirinya, yaitu ada yang maha kuasa di balik semua kejadian dimuka bumi ini, dan manusia hanyalah makhluk yang lemah dan terbatas, yang sangat bergantung kepada sang Khaliq. Wabah penyakit menular sudah dikenal sejak zaman Rasulullah saw. Pada masa itu wabah yang cukup dikenal adalah pes dan lepra, Nabi pun melarang umatnya memasuki daerah yang terkena wabah tersebut. Rasulullah saw. bersabda: “Jika kalian mendengar wabah-wabah disuatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah disuatu tempat kalian berada maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah orang yang terkena lepra seperti kamu menjauhi singa.” (HR. Bukhari)

Rasulullah saw., atas bimbingan Allah Swt. selalu mengingatkan umatnya untuk selalu menjaga kebersihan, yaitu dengan aktivitas membersihkan diri dan lingkungan. Rasulullah saw., menganjurkan untuk isolasi bagi yang sedang sakit, agar tidak menular pada yang lain. Rasulullah saw. bersabda: “Dan jangan lah yang sakit dicampur baurkan dengan yang sehat.” (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah). Inilah yang dikenal sekarang dengan sosial distance, yaitu menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.
Pada masa ke kekhalifahan Umar bin Khattab, wabah kolera menyerang negeri Syam. Khalifah Umar bersama rombongan yang saat itu dalam perjalanan menuju Syam, akhirnya terpaksa menghentikan perjalannya dan kembali ke Madinah.

Begitulah Islam dalam memberikan solusi atas seluruh permasalahan umat, semua telah dipandu dalam Al-Qur’an dan telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sehingga sepatutnya umat kembali kepada ajaran Islam dan menegakkan hukum-hukum Islam dimuka bumi, agar tecipta Islam rahmatan lil’alamiin. Dan seyogyanya seorang pemimpin meriayah rakyatnya sesuai dengan petunjuk yang telah termaktub dalam Al-Qur’an dan telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Wallahu a’lam bishshawab.

Oleh Enung Sopiah

Loading...

loading...

Feeds

249 Tersangka Curanmor Diciduk Polres

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Jabar besama Polres maupun Polresta jajaran wilayah hukum Jabar berhasil meringkus …

Pantau Pelayanan, Bupati Sidak RSUD

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Bupati Subang H. Ruhimat menggelar inspeksi mendadak (sidak) di rumah sakit umum daerah (RSUD). Hal ini dilakukan …

Jumlah Penduduk Terus Meningkat

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Jumlah penduduk di Kota Cimahi terus bertambah, mengakibatkan kepadatan penduduk wilayah Kota Cimahi menjadi yang tertinggi di …