Pendonor Plasma Konvalesen Masih Minim

LUSTRASI: Seorang pasien yang dinyatakan sembuh Covid-19 sedang mendonorkan plasma darahnya. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung masih membutuhkan lebih banyak pendonor plasma konvalesen untuk pasien terinfeksi Covid-19.( foto : muh/b)

LUSTRASI: Seorang pasien yang dinyatakan sembuh Covid-19 sedang mendonorkan plasma darahnya. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung masih membutuhkan lebih banyak pendonor plasma konvalesen untuk pasien terinfeksi Covid-19.( foto : muh/b)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung masih membutuhkan lebih banyak pendonor plasma konvalesen untuk pasien terinfeksi Covid-19. Selain minimnya pendonor, keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan peralatan pun diakui menjadi kendala.


Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Bandung, Uke Muktimanah mengakui, meski ada pertumbuhan jumlah labu yang terdistribusi namun pasokan labu masih tak sebanding dengan tingkat kebutuhan.

“Saya juga ingin mengupayakan, tapi kita juga terbentur oleh peralatan. Saya ke staf pengennya ditarget memenuhi 75 persen, tapi kenyataannya tidak bisa karena alatnya juga cuma ada tiga. Terus SDM kita juga sedikit,” ungkapnya.

Per 3 Februari, katanya, PMI Kota Bandung sudah mendistribusikan sekitar 500 labu. Sebelumnya, dari data yang disampaikan Uke, per 21 Januari lalu, PMI Kota Bandung disebut baru mendistribusikan sekitar 340 labu.

“Pasien yang antre (mendapatkan labu plasma) sekitar 69 pasien. Sudah dalam seminggu ini sekitar segitu, kami terkesan tidak memberi labu, padahal yang antrenya terus tambah. Hari ini kami sudah mengeluarkan lebih 20 labu, (pasien yang antri) harusnya turun, tapi tetap saja kembali ada penambahan,” kata Uke.

Dengan minimnya pasokan, kata Uke, distribusi labu hanya bisa menjangkau kebutuhan rumah sakit di wilayah Bandung Raya. Padahal, menurut penuturan Uke, kebutuhan labu plasma juga diminta dari luar Bandung. Terlebih, tidak semua UTD PMI dapat melayani donor plasma konvalesen.

“Kami hanya membackup Bandung Raya, seperti untuk kebutuhan di RSHS dan Al-Ihsan,” katanya.

“Dari luar Jawa juga pada nanya ke kita, cuma kita kan tidak bisa, untuk tempat kita saja tidak terpenuhi. Berikutnya, kendala transportasi, plasma tersebut harus kita bekukan, maka selama perjalanan itu suhunya harus terjaga,” imbuh Uke.

Adapun, menurut Uke, jumlah ideal pendonor perhari bisa mencapai 12 pendonor atau sekitar 36 labu. Namun, hingga kini itu masih belum tercapai. Rata pendonor plasma konvalesen di PMI Kota Bandung hanya sekitat 7 hingga 8 orang.

“Saya berharap sosialisasi soal donor plasma yang dibutuhkan oleh pasien Covid-19 ini bisa semakin luas, sehingga diharapkan banyak yang tergerak untuk mendonor,” pungkasnya.

Untuk diketahui, syarat bagi pendonor plasma konvalesen adalah mereka yang merupakan penyintas Covid-19, berusia 17 – 60 tahun. Khusus bagi wanita yang belum pernah hamil. Selanjutnya, tidak memiliki komorbiditas (seperti diabetes, HT, penyakit penyerta lainnya). Memiliki berat badan di atas 55 kilogram.

Selain itu, dapat mendonor sejak 14 hari hingga 12 minggu setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19 berdasarkan swab PCR negatif dengan menunjukan surat keterangan dari RS yang merawat.

(muh/b)

Loading...

loading...

Feeds