Kentang Murah Berbiaya Mahal, Petani Kab. Bandung Keluhkan Harga Pupuk

MEMANEN : Sejumlah orang tengah memanen kentang di Blok Walik Kampung Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu.

MEMANEN : Sejumlah orang tengah memanen kentang di Blok Walik Kampung Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu.

POJOKBANDUNG.com, PASIRJAMBU – Petani kentang di Blok Walik Kampung Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu mengeluhkan sejumlah kendala saat menanam tanaman-tanaman umbi-umbian tersebut, dari mulai cuaca ekstrim hingga biaya tanam yang cukup mahal.


Seorang petani kentang, Rustandi (54) mengatakan salah satu masalah yang kini dihadapi oleh petani kentang adalah harga pupuk dan obat-obatan yang mahal. Kata Rustandi, biaya dikeluarkan itu tidak sebanding dengan harga panen, yang kini sedang mengalami penurunan.

“Harga pupuk terlalu tinggi untuk kategori hama, dan untuk obat-obatannya juga terlalu tinggi, makanya saya mohon bantuannya dari pemerintah untuk menurunkan harga pupuk dan obat-obatan. Karena akan berpengaruh pada kenaikan harga jual. Terlebih, saya tidak punya kartu tani sehingga kesulitan untuk membeli pupuk,” ujar Rustandi saat wawancara di kebunnya, Pasirjambu, Minggu (24/1).

Selain mahalnya harga pupuk dan obat-obatan, cuaca ekstrim juga menjadi masalah yang membuat perolehan panen menjadi berkurang. Rustandi menjelaskan bahwa cuaca ekstrim yang terjadi belakangan ini cukup berpengaruh karena curah hujan sangat tinggi sehingga riskan terhadap penyakit. Salah satu cara yang harus dilakukan agar kentang bisa tumbuh dengan baik, adalah dengan melakukan daur ulang pengobatan. Dimana tadinya 5-6 hari diperpendek menjadi 3-4 hari.

“Ini kan berarti penggunaan fungisida dan insektisida itu jadi double,” jelas Rustandi.

Tak sampai disitu, adanya pasokan kentang dari luar juga membuat harga kentang menjadi turun. Oleh karena itu, pihaknya melakukan sejumlah strategi saat melakukan penanaman kentang.

“Jadi kita (petani) harus pintar dalam perhitungan dan membuat strategi. Ketika orang lain tanam, kita nggak tanam, begitu juga sebaliknya. Jadi ketika barang langka dan permintaan tinggi, disitu nanti akan ada harga yang bagus,” tutur Rustandi.

Untuk menjaga stabilitas harga, Rustandi mengaku sejak lama sudah mengajukan ke pemerintah agar turun langsung ke lapangan untuk mengatur pola tanam.

“Sektor ini harus tanam ini, sektor itu harus tanam apa, ya mungkin kayak ada pembatasan gitu, yang penting bisa menjaga stabilitas ekonomi dari segi harga mungkin harus menjaga dari segi penanaman itu sendiri,” ungkapnya.

Rustandi menyebutkan sudah sepuluh tahun ini dirinya menggarap lahan seluas lima hektar itu, yang dikerjasamakan dengan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung dengan metode simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan antara petani dan perusahaan.

“Sistem tanam awalnya kami gunakan sistem replanting dimana tanamannya bervariasi diantaranya yang sekarang sedang saya tanam adalah kentang,” kata Rustandi

Saat panen, dirinya mempekerjakan sekitar 25 orang di lahan perkebunan kentang tersebut dengan sistem upah harian.

“Kalau dibantu tenaga dari luar jadi totalnya bisa sampai 30 orang tenaga kerja,” katanya.

Dari lahan yang digarapnya, Rustandi mengaku bisa menghasilkan kentang industri kisaran 25-30 ton per hektar, sedangkan kentang untuk pembibitan kisaran 10-12 ton per hektar dengan harga kentang sekitar 8 ribu rupiah per kilogramnya.

“Tapi kalau sekarang sedang turun harganya, cuma tujuh sampai tujuh ribu lima ratus per kilogramnya,” pungkas Rustandi.

 

Loading...

loading...

Feeds

Sampah Menumpuk di Pasar Gedebage

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Terjadi penumpukan sampah di Pasar Gedebage, Kota Bandung, Senin (17/5). Tumpukan sampah disebut terjadi menjelang lebaran, akibat …