Puncak Musim Hujan di Bandung Raya Januari-Februari, Ini Prediksi BMKG

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, Yan Firdaus memprediksi puncak musim hujan akan terjadi Januari-Februari ini.


Pihak BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap risiko bencana.

“Puncak musim hujan untuk wilayah Bandung Raya prediksi Januari dasarian 3 sampai Februari dasarian 1,” ungkapnya kepada Radar Bandung.

Yan menegaskan, potensi itu selalu ada. Secara empiris, ungkap Yan, banjir Bandung Raya terjadi ketika curah hujan berada pada kisaran 30mm/jam.

“Kalau potensi bencana selalu ada, karena multidimensi sifatnya. Kalau kita runut secara empiris, mungkin di era (tahun) 80-an, hujan 30 mm/ jam di Bandung tidak akan menimbulkan genangan, tapi di era 2010 ke atas, sudah menimbulkan genangan dan banjir,” terangnya.

Sementara dalam skala nasional, sebagaimana Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati sampaikan, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi multi risiko baik dari aspek cuaca, iklim, gempa atau tsunami hingga Maret 2021.

“Sampai Maret masih ada potensi multirisiko, tapi untuk hidrometeorologi puncaknya Januari-Februari. Tapi seiring dengan itu, potensi kegempaan juga meningkat, mohon kewaspadaan masyarakat,” katanya.

Berdasarkan data BMKG pada Dasarian III Januari 2021 terdapat daerah dengan potensi banjir menengah yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur.

Selian itu, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi tenggara, Maluku dan Papua.

BMKG memprakirakan pada periode 16-21 Januari 2021 potensi hujan lebat dengan intensitas sedang-lebat terdapat pada wilayah, Aceh, Sumatera Utara, Jami, Sumatera Selatan, Banten.

Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Utara.

Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Malukua, Papua Barat dan Papua.

“Jadi, untuk saat ini dalam periode puncak musim hujan ini, masyarakat agar tetap mewaspadai potensi multi-bencana hydrometeorologi, gempabumi dan tsunami,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jabar Dani Ramdan menyatakan, pihaknya sudah menyusun kajian risiko bencana dan peta rawan bencana.

Dari 27 kabupaten kota, 16 daerah masuk kategori risiko bencana tinggi dan 11 sisanya berisiko bencana sedang.

Semua jenis kebencanaan, mulai dari banjir, longsor, gempa bumi, sampai tsunami, berpotensi terjadi.

Adapun, empat besar daerah paling berisiko Kabupaten Garut, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Sukabumi.

“Hanya gempa yang tidak bisa diprediksi kapan dan dimana terjadi. Tapi kalau banjir, kita lihat dari kondisi alam termasuk banjir rob karena air laut yang naik. Sedangkan, tsunami dan gempa tidak bisa diprediksi,” ujar Dani, Selasa (19/1).

Menurutnya, sudah menyusun kajian risiko bencana dan peta rawan bencana sampai tingkat desa.

Hal itu agar masyarakat memahami kondisi kebencanaan pada lingkungannya. Pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk tetap waspada amat krusial.

“Hanya gempa yang tidak bisa diprediksi kapan dan di mana terjadi. Tapi kalau banjir, kita lihat dari kondisi alam termasuk banjir rob karena air laut yang naik. Sedangkan, tsunami dan gempa tidak bisa diprediksi,” tutur Dani.

Setelah penyusunan peta rawan bencana, kata Dani, langkah selanjutnya menyusun rencana penanggulangan bencana (RPB) tingkat kabupaten kota dan provinsi.

Dari RPB itu, rencana kontingensi jenis kebencanaan untuk setiap kabupaten kota dapat disusun.

“Dari rencana dan peta rawan bencana itu, pemerintah desa bisa menyusun, misalnya jalur evakuasi manakala akan berpotensi bencana, tempat evakuasi atau pengungsian. Kalau itu sudah menambah kesiapan personel dan peralatan bencana, maka bencana itu bisa kita hadapi,” ucapnya.

“Ada yang bisa kita cegah, ada yang tidak bisa, seperti gempa. Tapi, kalau kita punya kesiapsiagaan, paling tidak bisa meminimalisasi dampak atau risiko,” imbuhnya.

Kewaspadaan dan kesadaran masyarakat akan potensi bencana menjadi mutlak. Selain untuk mencegah terjadi bencana, dua hal tersebut dapat meminimalisasi potensi korban meninggal dunia dan kerugian harta benda.

Dani mengatakan, jika masyarakat sadar akan potensi bencana pada lingkungan sekitarnya, maka mereka dapat melakukan mitigasi bencana.

Contohnya dengan rutin memeriksa dan membersihkan saluran-saluran air di sekitarnya, supaya tidak tersumbat oleh sampah atau material lainnya. Memeriksa tebing-tebing, apakah vegetasinya atau tembok penahan tanahnya masih bagus.

Jika terjadi retakan di tanah atau di tembok penahan tersebut apalagi ada aliran air yang merembes, hal itu merupakan tanda bahwa bisa terjadi potensi longsoran yang berbahaya.

“Dalam kondisi demikian khususnya ketika terjadi hujan lebat, sebaiknya masyarakat yang bermukim sekitar tebing seperti itu melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman,” pungkasnya.

(muh)

Loading...

loading...

Feeds

Sampah Sumbat Sungai, Aktivis Demo

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Terkait timbunan sampah yang kerap menyumbat aliran Sungai  Cigadung yang berasal dari gundukan sampah di tempat pembuangan …

Setahun Zona Merah di Indonesia

PADA 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan dua warga Depok, Jawa Barat, terpapar virus mematikan Covid-19. Setelah pengumuman menyeramkan itu, suasana …

Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 di Bandung

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Vaksinasi Covid-19 menjadi salah satu kunci Indonesia untuk keluar dari situasi pandemi. Program tersebut membutuhkan partisipasi dari …

46 Warga Kampung Jati Dievakuasi

POJOKBANDUNG.com, SUKABUMI – Aktivitas bencana pergerakan tanah yang memprakporandakan tiga perkampungan penduduk di wilayah Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, kian meluas …