Pulihkan Ekonomi Jabar dengan Gerakan Silih Tulungan

Wakil Ketua Pemulihan Ekonomi Daerah (PED) Aat Soertin (kiri), Ketua Divisi Komunikasi dan Gerakan Eric Wiradipoetra (tengah), Wakil Ketua Harian PED Herman Muchtar (kanan) saat Forum Group Discussion (FGD) PED di Grand Hotel Preanger, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu (16/12/2020).

Wakil Ketua Pemulihan Ekonomi Daerah (PED) Aat Soertin (kiri), Ketua Divisi Komunikasi dan Gerakan Eric Wiradipoetra (tengah), Wakil Ketua Harian PED Herman Muchtar (kanan) saat Forum Group Discussion (FGD) PED di Grand Hotel Preanger, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu (16/12/2020).

Logo Silih Tulungan sendiri bergambar dua tangan saling mencengkeram dengan kencang yang menunjukan gerakan saling menolong, dengan tulisan Silih Tulungan dan warna biru, kuing, hijau dan coklat sebagai warna dasarnya.


“Logo ini cukup menarik dan bisa menjadi gambar unik di kaos distro atau motif batik. Jadi silahkan saja pakai untuk keperluan saling menolong,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Divisi Komunikasi dan Gerakan Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Daerah Jabar Aat Soeratin mencontohkan bagaimana Silih Tulungan bergerak di tengah masyarakat.

Untuk menyelamatkan UMKM, kata Aat, masyarakat yang memiliki penghasilan dapat membeli barang ke UMKM-UMKM sekitar tempat tinggalnya.

Dengan begitu, UMKM dapat kembali menghidupkan roda produksi. Pun demikian dengan pelaku UMKM itu sendiri. Bahan dasar yang diperlukan untuk berproduksi bisa didapatkan dari pelaku UMKM lainnya.

Pulihkan Ekonomi Jabar dengan Gerakan Silih Tulungan

“Untuk membuat kaus. UMKM bisa mencari kain dari UMKM lain. Begitu juga saat proses penyablonan. Jika itu terjadi, bayangkan ada berapa UMKM yang kembali berproduksi karena satu kaus saja. Masyarakat dapat memberi kontribusi dalam pemulihan ekonomi dengan mengubah perilakunya. Menggunakan dan membeli produk lokal adalah upaya menolong pemulihan ekonomi,” tambahnya.

Guna menyelamatkan sektor pariwisata, kata Aat, Silih Tulungan dapat menjadi basis Gerakan Silih Anjangan atau saling mengunjungi antar kabupaten/kota maupun antar daerah tujuan wisata.

“Saling mengunjungi ini cocok untuk Jabar yang memiliki beragam ekosistem. Karena berkunjung, wisatawan harus berlaku baik. Misal dengan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Begitu juga tuan rumah, harus mencegah adanya penularan COVID-19 di tempatnya,” katanya.

Jika itu dilakukan, sektor pariwisata akan mulai bergerak. Pelaku pariwisata yang terdampak secara ekonomi dapat kembali berkegiatan. Daya beli masyarakat pun perlahan akan menguat.

“Saling menolong atau gotong royong merupakan nilai kemasyarakatan yang perlu direvitalisasi,” kata Aat.

(*)

Loading...

loading...

Feeds