PHRI dan Objek Wisata Protes Pemangkasan Libur Panjang, Sudah Tekor Makin Merugi

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Pemerintah mewacanakan kebijakan tentang pemangkasan jumlah hari libur akhir tahun. Hal tersebut tentunya memberikan dampak bagi pelaku pariwisata. Seperti bagi pengusaha hotel dan restoran maupun pengelola objek wisata.


Ketua Perhimpunan Hotel Dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bandung, Use Juhaya mengatakan bahwa libur panjang akhir tahun menjadi harapan besar bagi hotel dan restoran, dimana jika kondisi normal selalu menjadi andalan. Dimasa-masa pandemi Covid 19, libur panjang akhir tahun diharapkan bisa menjadi oasis untuk bisnis hotel dan restoran.

“Sampai sekarang masih kerepotan, belum untung, masih tekor terus. Ada harapan di tahun baru,” ujar Use saat dihubungi via telepon, Selasa (1/12).

Dirinya mengaku tidak setuju jika libur panjang akhir tahun dipangkas. Menurutnya, klaster-klaster atau penambahan jumlah orang yang terpapar Covid 19, bukan terjadi di hotel atau restoran. Apalagi, hotel dan restoran telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat, dan juga ada pengawasan yang dilakukan oleh dinas terkait.

“Tidak setuju jika libur akhir tahun dipangkas, karena itu harapan, kami sudah merencanakan apa-apa. Setidaknya kita bisa tarik napas, bayar-bayar apa, karena saya sering mendengar keluhan dari anggota kami, seperti terkendala bayar pajak, listrik, ya untuk bayar-bayar seperti itu,” tutur Use.

Tak bisa dipungkiri bahwa akibat libur panjang sebelumnya, terjadi penambahan jumlah orang yang positif Covid 19. Use menegaskan bahwa setiap ada event atau long weekend, pemerintah dan PHRI selalu mengingatkan kepada hotel dan restoran untuk protokol kesehatannya. Dan memang, sejak awal juga, utamanya objek-objek wisata favorit, sudah dengan ketat sekali menerapkan protokol kesehatan.

“Bahkan waktu libur panjang kemarin itu, ada beberapa petugas yang memang khusus untuk meninjau aktivitas ketika di long weekend, baik hotel, restoran maupun di objek wisata,” katanya.

Kata Use, akibat pandemi Covid 19 ini membuat objek wisata yang pertama jatuh dan yang terakhir pulih. Saat ini, kondisi hotel dan restoran masih jauh dari kata normal. Bahkan, kata Use, okupansi di beberapa hotel hanya 20 persen. Hal tersebut tentu tidak menguntungkan lagi.

“Kalau anggota PHRI yang aktif itu sekitar 100. Memang untuk hotel dan restoran tidak banyak. Untuk jumlah semua hotel, vila, penginapan di Kabupaten Bandung itu sekitar 70 an, yang banyak restoran yaitu sekitar 6 ribu termasuk restoran yang kecil-kecil,” pungkas Use.

Berbeda dengan ketua PHRI, Pengelola objek wisata Glamping Lakeside, Marcel mengaku setuju dengan kebijakan pemangkasan libur panjang akhir tahun, jika memang alasannya karena ada penambahan jumlah orang yang terpapar Covid 19.

“Kalau menurut saya, daripada nanti benar-benar sakit, lebih baik mengobati sekarang. Buat saya ada ruginya, cuman kan daripada nanti imbasnya, engga kebayang kalau Covid 19 ini sangat tinggi, maka tidak terbayang akan tutupnya seperti apa, akan lebih repot,” ujar Marcel saat dihubungi via telepon, Selasa (1/12).

Marcel mengungkapkan bahwa di objek wisata Glamping Lakeside, untuk libur akhir tahun, sudah ada wisatawan yang booking. Namun tetap ada pembatasan dan penjagaan protokol kesehatan yang benar-benar diutamakan.

“Kemaren, kita ada sertifikasi dari CHSE dari Kemenpar, kita sudah di cek dan sangat memuaskan, arena fasilitas itu ada semua, sudah terpenuhi ruangan kesehatan, setiap malam selalu dilakukan penyemprotan disinfektan, setiap penggantian tamu selalu disemprot disinfektan. Kita berusaha dan tidak mau kecolongan,” tutup Marcel.

(fik)

Loading...

loading...

Feeds