Selamatkan Indonesia dari Darurat HIV-AIDS

Ilustrasi : HIV/AIDS

Ilustrasi : HIV/AIDS

BAGAI bola salju yang menggelinding kian lama kian membesar. Mungkin ungkapan ini cocok untuk kondisi saat ini. Dimana tepat tanggal 1 Desember nanti, akan ada ceremonial tentang penanggulangan penyakit menular, Hari Aids sedunia. Namun ternyata tahun ini kondisi semakin memburuk, ditengah guncangan pandemi Covid-19 melanda negeri.


Miris tahun 2020 ini jumlah orang dengan HIV AIDS bukannya berkurang tapi diperkirakan lebih dari 600 ribu orang. Perlu diketahui Indonesia melaporkan adanya kasus acquired immune deficiency syndrome atau AIDS ke Badan Kesehatan Dunia alias WHO pada tahun 1987. Saat itu hanya tercatat lima kasus saja.Namun 33 tahun kemudian, jumlahnya terus meningkat setiap tahun. (tempo.com, 25/04/2020)

Dilansir dari laman Beritaaktualnews.com (09/09/2020) Kepala Dinas Kesehatan dr. Nunung melalui Kabid P2P Dinas Kesehatan Subang dr.Maxi, SH,M. Kes mengatakan, bahwa Kabupaten Subang, saat ini berada di urutan ke 8 di Jawa Barat, terkait tingginya penderita HIV/AIDS di Kabupaten Subang, hingga bulan September tahun 2020 sebanyak 2050 Orang. Ini bukanlah suatu prestasi yang bisa dibanggakan, namun ini adalah tamparan keras untuk penguasa bahwasanya moral masyarakat Indonesia sedang dalam kondisi darurat AIDS.

Tak dapat dipungkiri terjadinya penularan HIV-AIDS ini, sebagian besar di tularkan melalui hubungan haram. Yaitu melalui wanita pekerja seks, perilaku seks bebas, dan penyuka sesama jenis. Hal itu menjadi penyebab tertinggi munculnya penderita VIH-AIDS baru di Kabupaten Subang. Namun untuk kondisi Ibu yang menyusui ke bayinya dan transfusi darah adalah risiko kecil dari penularan ini.

Hal ini dianggap wajar karena faham yang dianut bangsa ini masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Hal ini dimana aturan agama tidak boleh ikut campur dengan aturan kehidupan. Sekulerisme inilah yang menjadi induk dari segala biang kebobrokan negeri ini. Paham kebebasan yang menjadi dasar perilaku masyarakat. Atas dasar suka sama suka, tidak dianggap sebuah kejahatan yang harus dihapuskan.
Pemerintah seolah tidak mempersoalkan perilaku dan kehidupan seks bebas, jika tidak ada pelaporan pihak yang dirugikan.

Penyebab utama penyebarluasan virus HIV/AIDS ini tidak mereka persoalkan. Hal ini karena alasan utamanya adalah perilaku seks bebas alias zina adalah salah satu perilaku yang dijamin dalam sistem demokrasi, sebagaimana yang diberlakukan di Indonesia saat ini. Di Indonesia, misalnya, salah satu buktinya adalah tidak adanya UU yang bisa menjerat pelaku perzinaan. Yang ada adalah pasal dalam KUHP yang terkait dengan delik pemerkosaan. Artinya, selama hubungan seks di luar nikah alias zina dilakukan suka sama suka, maka hal itu tidak masalah. Wajar saja jika di Tanah Air lokalisasi pelacuran di berbagai tempat kerap dilegalkan, karena di sana transaksi seksual antara pelacur dan lelaki hidung belang memang dilakukan atas dasar suka sama suka.

Hal itu karena itu, satu-satunya solusi untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS adalah dengan membuang demokrasi yang memang memberikan jaminan atas kebebasan berperilaku, termasuk seks bebas, sekaligus memberlakukan hukum Islam secara tegas, antara lain hukuman cambuk atau rajam atas para pelaku seks bebas (perzinaan). Allah SWT berfirman:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

Pezina wanita dan pezina laki-laki, cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah jika kalian memang mengimani Allah, dan Hari Akhir. (QS an-Nur [24]: 2).

Hukuman yang berat juga harus diberlakukan atas para pengguna narkoba. Sebab, di samping barang haram, narkoba terbukti menjadi alat efektif (mencapai 62%) dalam penyebarluasan HIV/AIDS.

Lebih dari itu, sudah saatnya pemerintah dan seluruh komponen bangsa ini segera menerapkan seluruh aturan-aturan Allah (syariah Islam) secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan itulah keberkahan dan kebaikan hidup—tanpa AIDS dan berbagai bencana kemanusiaan lainnya—akan dapat direngkuh dan ridha Allah pun dapat diraih.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

Oleh : Siti Aisah
(Praktisi Pendidikan Kabupaten Subang)

Loading...

loading...

Feeds