Desa Wisata Didorong Bisa Berkembang dan Jadi Andalan Sektor Pariwisata

KONFERENSI PERS: Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Masata, Panca R Sarungu (kedua dari kiri) saat konferensi pers, Jumat (27/11).

KONFERENSI PERS: Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Masata, Panca R Sarungu (kedua dari kiri) saat konferensi pers, Jumat (27/11).

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pemerintah terus mendorong peningkatan sektor pariwisata disetiap daerah di Indonesia. Hal itu menyusul terus menurutnya gairah pariwisata selama pandemi Covid-19.


Menyikapi hal tersebut, Masyarakat Sadar Wisata (Masata) berkomitmen untuk terus mengembangkan sektor pariwisata di Indonesia, yakni dengan pengembangan Desa Wisata.

“Desa Wisata potensinya sangat luar biasa. Ini mampu memberikan keunikan tersendiri kepada wisatawan,” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Masata, Panca R Sarungu
saat ditemui usai Rakernas, Jumat (27/11).

Panca menyebut, hingga saat ini kunjungan wisatawan ke Desa Wisata masih sangat kecil jumlahnya. Meski demikian, kata dia, Masata memiliki strategi dan langkah konkret untuk mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.

“Makanya kami (Masata) akan coba dorong stakeholder lainnya untuk mengembangkan Desa wisata. dan kita lihat beberapa tahun kedepan perkembanganya,” terangnya.

Panca menjelaskan, salah satu ciri daerah yang berpotensi menjadi Desa Wisata yakni memiliki ciri khas untuk ditonjolkan atau di ‘jual’ kepada penikmat pariwisata.

“Wisatawan datang untuk ‘membeli’ kesenangan. Jadi setiap desa tidak boleh sama keunikannya. Harus cari ciri khasnya untuk ditunjukkan pada wisatawan,” imbuhnya.

Dari sisi ekonomi, sambung Panca, Desa Wisata dinilai bisa meningkatkan sektor ekonomi daerah. Misalnya roda UMKM akan berjalan dan potensi ekonomi suatu daerah bisa tergali dan dimaksimalkan dengan baik.

“Seandainya ekonomi di desa berjalan, maka urbanisasi tidak akan terjadi. Pemuda akan diam di desa dan membangun desa. Tak perlu cari kerja ke luar daerah. Termasuk UMKM akan berjalan dan berkembang,” jelasnya.

Sementara itu, Sekjen DPP Masata, Andi Azwan menambahkan, saat ini di Indonesia memiliki 74.954 desa, dan 1.786 desa diantara memiliki potensi pengembangan wisatanya. Dari jumlah tersebut ada sekitar 2.000 desa yang bisa dijadikan dan di implementasikan jadi Desa Wisata.

Melihat hal tersebut, Masata ingin agar pelaku, pemerhati dan pecinta pariwisata memiliki kesamaan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan. Sebagai bagian integral pembangunan Indonesia, kepariwisataan harus mendorong pemerataan kesempatan berusaha dalam memberikan manfaat untuk keadilan dan Kesetaraan.

“Kami berharap kepariwisataan mampu menjamin keterpaduan antar sektor, antar aktor dan antar daerah selaku pemangku kepentingan dalam integritas dan kolaborasi antar pihak yang menjaga keharmonisan hubungan pusat dengan daerah,” bebernya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Republik Indonesia, Wishnutama Kusubandio menyatakan geliat pariwisata mulai terasa di beberapa destinasi wisata. Ke depan, pariwisata yang dikembangkan ialah pariwisata yang menumbuhkan pengalaman yang unik quality tourism memberikan tawaran pengalaman yang berbeda.

“Desa wisata menjadi bagian quality tourism tersebut misalnya makanan yang khas. Banyak salah kaprah bahwa quality tourism dianggap hanya menginap di hotel bintang lima,” jelasnya.

Wishnutama menerangkan, untuk pengembangan amenitas dan atraksi yang melibatkan partisipasi masyarakat melalui pengembangan Desa Wisata secara terintegritas dari hulu ke hilir, maka pemerintah desa didorong mengoptimalkan pemanfaatan dana desa.

“Karena itu, sebagai arah kebijakan Desa Wisata dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, ditargetkan 205 wisata desa mandiri di tahun 2024,” tutupnya.

(muh)

Loading...

loading...

Feeds