Jilbab Bukti Eksistensi dan Konsekuensi Sebagai Muslimah

“Anak Polah Bapa Kepradah”. Pribahasa ini mungkin terasa asing, namun bermakna dalam. Maksudnya adalah di balik tingkah laku anak ada tanggung jawab orang tua. Jika anak bertingkah, maka nama orang tua akan ikut terbawa. Malu dan kecewa akan menjadi ancaman orang tua, ketika anaknya mulai bertingkah diluar batas kewajaran.


Namun di era kapitalis saat ini, terkadang hanya hal-hal bersifat keduniawian saja yang sangat diperhatikan oleh para orang tua terhadap buat hatinya. Bagaimana prestasi akademik di sekolahnya, penampilannya, dan kenyamanan hidupnya. Orang tua bahkan menyiapkan tabungan masa depan anak, ada yang sampai mengasuransikan pendidikan dan jiwanya.

Mirisnya, orang tua seakan abai tentang pendidikan agama anak. Mereka lebih bangga mendapati anaknya berlenggak-lenggok di panggung, bernyanyi ataupun menari ria dengan berpenampilan lucu (baca : buka aurat). Memakaikan anak tanktop ataupun hotpants membuat penampilannya lucu dan menggemaskan. Mereka tidak sadar bahwasanya apa yang dilakukannya itu akan dimintai pertanggungjawaban. Hal ini menjadi lain ketika anak dikenakan pakaian yang menutup aurat.

Beberapa waktu yang lalu sempat viral di twitter, akun sosial media berlogo biru. @dw_indonesia milik Deutsche Welle (Gelombang Jerman) yang berada di Indonesia, kali ini menjadi bulan-bulanan netizen karena mencoba untuk “mengusik” persoalan pelajaran akidah kepada anak-anak perempuan yang menggunakan jilbab, oleh orang tua mereka. (geloranews.com, 26/09/2020). Salah satu psikolog wanita berkomentar tentang penggunaan kerudung dan jilbab pada anak-anak. Ia berpendapat bahwasanya hal itu akan menjadikan anak ekslusif. Artinya ia tidak bisa berbaur dengan komunitas plural. Sehingga lambat laun, ia menjadi pribadi yang tertutup.

Media asal Jerman DW yang membuat video kontroversial itu mengklaim konten video tersebut sudah berimbang, imparsial dan akurat. Melalui akun Twitter resmi @dw_indonesia, mereka menyatakan hal sebagai berikut : “Terima kasih atas perhatian Anda pada konten video DW Indonesia, yang menurut kami sudah berimbang, imparsial dan akurat. DW mendorong kebebasan berpendapat dan diskusi terbuka, selama sifatnya adil dan tidak diskriminatif atau berisi hinaan terhadap siapa pun,” (pojoksatu.id, 26/09/2020)

Serangan ini nyata dari kaum liberal yang kembali diarahkan pada ajaran Islam. Pendidikan ketaatan dalam berpakaian disoal dan dianggap sebagai pemaksaan. Dianggap berakibat negatif bagi perkembangan anak.

Perlu dipahami bahwasanya penggunaan jilbab pada anak bukan hanya mendidik sebagai eksistensi diri seorang muslimah yang taat. Namun, penggunaan jilbab ini tidak lain adalah konsekuensi karena keimanannya kepada Allah Swt. Sebagai muslimah, bila sudah mencapai usia baligh (baca: dewasa), ia mempunyai kewajiban untuk menutup aurat.

Serangan liberal ini berdampak pada keinginan untuk bebas sebebas-bebasnya, tanpa ada aturan yang mengikat (baca: agama). Terlebih lagi pemikiran anak yang seperti spons, menyerap cepat segala perbuatan yang dilakukan, dilihat ataupun didengarnya. Dengan demikian, agar mampu terbiasa menutup aurat, anak harus kenalkan dan diajarkan menutup tubuhnya dengan jilbab dan kerudung sejak dini dan ditanamkan pula, bahwasanya ini adalah konsekuensi keimanan kepada Sang Khaliq.

Namun demikian, masih banyak kesalahpahaman yang ada di tengah masyarakat. Bahwasanya jilbab itu adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam Al Qur’an surah An-Nuur [24]: 31 disebut dengan istilah khimar (jamaknya: khumur), bukan jilbab. Adapun jilbab yang terdapat dalam surah al-Ahzab [33]: 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.

Kesalahpahaman lain yang sering dijumpai adalah anggapan bahwa busana muslimah itu yang penting sudah menutup aurat, sedang mode baju apakah terusan atau potongan, atau memakai celana panjang, dianggap bukan masalah. Dianggap, model potongan atau bercelana panjang jeans oke-oke saja, yang penting ‘kan sudah menutup aurat. Kalau sudah menutup aurat, dianggap sudah berbusana muslimah secara sempurna. Padahal tidak begitu. Islam telah menetapkan syarat-syarat bagi busana muslimah dalam kehidupan umum, seperti yang ditunjukkan oleh nash-nash Al Qur’an dan sunnah.

Menutup aurat itu hanya salah satu syarat, bukan satu-satunya syarat busana dalam kehidupan umum. Syarat lainnya misalnya busana muslimah tidak boleh menggunakan bahan tekstil yang transparan atau mencetak lekuk tubuh perempuan. Dengan demikian, walaupun menutup aurat tapi kalau mencetak tubuh alias ketat —atau menggunakan bahan tekstil yang transparan— tetap belum dianggap busana muslimah yang sempurna.

Berkaitan dengan itu, Nabi saw. pernah bersabda bahwa akan tiba suatu masa di mana Islam akan menjadi sesuatu yang asing —termasuk busana jilbab— sebagaimana awal kedatangan Islam. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak boleh larut. Harus tetap bersabar, dan memegang Islam dengan teguh, walaupun berat seperti memegang bara api. Dan insyaAllah, dalam kondisi yang rusak dan bejat seperti ini, mereka yang tetap taat akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Bahkan dengan pahala lima puluh kali lipat daripada pahala para shahabat. Sabda Nabi saw.:

“Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” [HR. Muslim no. 145].

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata, “Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah Saw menjawab, “Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” [HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan]

Jadi jelaslah, bahwa yang diwajibkan atas wanita adalah mengenakan kain terusan (dari kepala sampai bawah) (Arab: milhafah/mula`ah) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah, seperti daster, tidak langsung pakaian dalam) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya. Untuk baju atas, disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada. Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum (An-Nabhani, 1990 : 48).

Jika seorang wanita muslimah keluar rumah tanpa mengenakan jilbab seperti itu, dia telah berdosa, meskipun dia sudah menutup auratnya. Sebab mengenakan baju yang longgar yang terulur sampai bawah adalah fardu hukumnya. Dan setiap pelanggaran terhadap yang fardu dengan sendirinya adalah suatu penyimpangan dari syariat Islam di mana pelakunya dipandang berdosa di sisi Allah. [M. Shiddiq al-Jawi]

Oleh : Siti Aisah, S. Pd
(Guru RA Al-Huda Jati Cipunagara Subang)

Loading...

loading...

Feeds