Menyongsong Peradaban Baru Era 5.0

SEIRING perjalanan hidup manusia beserta peradaban yang dilahirkannya, kemajuan industri dan teknologi kerap tercermin dari masa ke masa. Generasi demi generasi mengalami pengalaman yang berbeda satu sama lainnya. Dari mulai zaman batu, logam hingga mesin. Dari pemanfaatan alam secara sederhana hingga menggunakan listrik dan komputer menunjukkan bahwa revolusi terjadi sedemikian cepatnya, maka di kenallah revolusi industri (RI) 1.0; 2.0; 3.0; 4.0 dan berikutnya RI 5.0 yang disebut dengan society 5.0 menurut Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe. Sementara menurut Prof. Dadi Permadi, M.Ed (Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung) adalah era human religion.


Namun apa jadinya jika derasnya industri serta teknologi memunculkan masalah baru dengan berkurangnya populasi masyarakat? Jepang misalnya. Beberapa dekade terakhir telah menghadapi masa sulit dengan penurunan generasi secara drastis. Lebih banyak lansia ketimbang generasi produktif.

Society 5.0 muncul di awal Januari 2019 lalu. Society 5.0 disampaikan dalam Forum Ekonomi Dunia 2019 di Davos, Swiss oleh Shinzo Abe. Gagasan ini muncul atas respon revolusi Industri 4.0 sebagai signifikannya perkembangan teknologi, tetapi peran masyarakat kurang menjadi pertimbangan atas terjadinya revolusi industri 4.0 ini.
Sebenarnya, konsep revolusi industri 4.0 dan society 5.0 tidak memiliki perbedaan yang jauh. Revolusi industri 4.0 menggunakan kecerdasan buatan (artificial intellegent) sedangkan society 5.0 memfokuskan kepada komponen manusianya.

Revolusi industri 5.0 dianggap lebih memperhatikan sisi kemanusiaan. Jutaan data dikumpulkan di internet untuk kemudian diolah demi menghasilkan teknologi yang bisa diterapkan di berbagai bidang kehidupan.

Jika society 4.0 memungkinkan kita untuk mengakses juga membagikan informasi di internet. Society 5.0 adalah era di mana semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Internet bukan hanya sebagai informasi melainkan untuk menjalani kehidupan. Sehingga perkembangan teknologi dapat meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan masalah ekonomi di kemudian hari. (Republika.co.id, 22/08/2019)

Revolusi Industri dalam Peran Peradaban
Revolusi indistri dan teknologi memiliki peran strategis terhadap peradaban manusia. Maju ataukah mundur tergantung siapa pengendalinya. Dampaknyanya pun cukup signifikan, baik ekonomi, sosial atau hukum. Negara yang mengadopsi pemahaman kapitalisme atau demokrasi dalam mengatur bangsa dan pemerintahannya sebagaimana diusung oleh Amerika Serikat dan followernya akan berbanding lurus dengan peradaban yang diciptakannya. Beragam kebijakan, program, hukum hingga regulasinya bertujuan pada dua kepentingan, yakni materi dan manfaat. Masyarakatnya bisa saja maju secara ilmu dan teknologi tapi secara moral akan terpuruk bahkan terjadi dekadensi moral di berbagai lini kehidupan. Perilaku hedonis, antipati, asosial, korup, penipu, bengis, culas, dsb.

Di tangan kapitalisme, revolusi industri ataupun teknologi tidak didesain terwujudnya ketakwaan individu, masyarakat atau negara. Pasalnya, sistem pemerintahan seperti ini menjauhkan aturan agama dalam aktivitas kehidupannya. Jika pun dipakai, agama hanya ranah ritual (mahdhah) dengan skup terbatas. Rumah, masjid, majlis taklim, dan pondok pesantren. Di tangan paham ini pula manusia-manusia serakah akan bermunculan. Terjadi kesenjangan sosial yang sangat dalam antara pengusaha dan buruh. Ada jarak antara penguasa dan rakyat. Kaum pengusaha/kapitalis umumnya berpengaruh kuat terhadap pemerintahan untuk memuluskan berbagai kepentingannya. Walhasil, rakyat bisa menjadi subjek peradaban sekaligus korban dari peradaban tersebut.

Dengan demikian kemajuan intelektual sebagai pengaruh dari revolusi industri 4.0 ataupun 5.0 terhadap generasi penerus bangsa selama landasan berpikir serta bertindak masih mengacu pada kapitalisme maka tidak akan mampu mencapai target yang diinginkan untuk mewujudkan individu religius secara sempurna. Generasi muda hanya digiring menguasai kemampuan secara ilmiah dengan memanfaatkan teknologi tapi tidak diarahkan tujuan akhir dari semua capaian tersebut yakni kebahagiaan akherat.

Islam dan Peadaban Gemilang
Jika demokrasi kapitalisme utopis mewujudkan peradaban maju dalam seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk mewujudkan manusia religius, maka lain halnya dengan Islam. Di tangan sistem pemerintahan Islam (Dawlah Islam) kemajuan industri dan teknologi akan bersinergi dengan ketakwaan individu, masyarakat dan negara sebagai implementasi dari pendidikan bersakhsiyah (kepribadian) islamiyyah yang diciptakan negara.

Sinergisitas negara dengan individu, masyarakat serta dunia pendidikan yang memanfaatkan industri dan teknologi telah dan akan kembali melahirkan mujtahid cemerlang di bawah naungan institusi penerap syariat sebagaimana tokoh besar masa keemasan Islam di abad ke- 7 hingga abad ke- 12 masehi.

Pada masa kejayaan Islam, masjid tidak hanya jadi tempat beribadah. Di masjid, orang-orang dapat mengkaji ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan Alquran. Banjirnya antusiasme tentang ilmu pengetahuan membuat banyak ilmuwan Islam lahir dengan karya terbaiknya. Bahkan karya tersebut masih berpengaruh hingga zaman modern ini. Berikut beberapa diantaranya:

1. Ibn Sina (980 – 1037)
Dunia medis kini semakin berkembang. Perkembangan tersebut berkat eksplorasi ilmuwan Persia, Ibn Sina yang menulis buku The Canon of Medicine. Buku yang ia tulis menjadi pedoman mahasiswa kedokteran di Eropa hingga tahun 1600-an.

2. Al-Khawarizmi (780-850)
Al-Khawarizimi ialah ilmuwan muslim yang ahli di bidang matematika. Imuwan dari Persia ini menemukan sistem penomoran 1-10. Ia juga berjasa menemukan konsep aljabar dan algoritma.

3. Jabir Ibn- Hayyan (721-815)
Jabir ialah ilmuwan dari Iran yang ahli di bidang kimia. Dia adalah orang pertama yang mengidentifikasi zat yang bisa melarutkan emas. Jabir juga orang pertama yang menemukan asam sulfat, klorida dan nitrat. Kontribusi lainnya ialah pada penemuan alkali. Karya-karya Jabir antara lain Kitab Al-Kimya, Kitab Al-Sab’een, Kitab Al Rahmah dan lain sebagainya.

4. Ibnu al-Nafis (1213 – 1288)
Ibnu al-Nafis merupakan ilmuwan dari Damaskus yang punya kontribusi besar di bidang medis. Ia merupakan ilmuwan pertama yang mengungkapkan teori pembuluh darah kapiler. Ia secara akurat dapat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh. Ibnu al-Nafis sering dijuluki sebagai bapak fisiologi peredaran darah.

5. Ibnu Khaldun (1332 – 1406)
Ibnu Khaldun ialah ilmuwan dari Tunisia yang dikenal sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalam Muqaddimah. Ilmuwan ini bahkan sudah hafal Alquran sejak dini.

6. Al Zahrawi (936 – 1013)
Al Zahrawi ialah ilmuwan dari Cordoba yang ahli di bidang kedokteran. Dia yang menemukan konsep operasi modern. Penemuannya yang sangat berguna hingga kini korsep untuk membantu proses persalinan.

7. Ibnu al-Baithar (1197 – 1248)
Ibnu al-Baithar ialah ilmuwan dari Malaga yang terkenal di bidang botani dan kedoteran. Dia yang mencatat penemuan dokter abad pertengahan secara sistematis.

Demikianlah produk pendidikan Islam yang bersinergi dengan peran negara. Mampu mencetak ilmuwan handal meski teknologi belum sepesat sekarang. Bayangkan jika ilmuwan muslim tersebut mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi modern. Di sinilah urgensi tegaknya dawlah Islam sebagai sebuah institusi yang akan menyatukan berbagai potensi umat termasuk teknologi. Dengannya, umat Islam akan menjadi umat terbaik, terdepan dalam peradaban sebagaimana terjadi selama kurang lebih 13 abad ketika Islam ditegakkan.

Di era ini, revolusi industri akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan seluruh umat manusia, akan melahirkan peradaban baru yang membebaskan dunia dari berbagai bentuk penjajahan. Tidak akan ada lagi ketertinggalan, sebab umat akan menguasai teknologi melalui topangan negara adidaya penerap syariat. Terlebih lagi, Islam yang diterapkan dalam kondisi ini akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS. Al Anbiya: 107)
Wallahu a’lam bi ash Shawwab.

Oleh : Uqie Nai
Alumni Branding for Writer 212

Loading...

loading...

Feeds