Bisnis Ayam Impor, Omset Pria di Baleendah Ini Capai Miliaran dari Bisnis Ayam Impor

Peternak Ayam Aseel dan Ayam Shamo saat memperlihatkan bisnis ayam impornya di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah, Jumat (23/10).

Peternak Ayam Aseel dan Ayam Shamo saat memperlihatkan bisnis ayam impornya di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah, Jumat (23/10).

POJOKBANDUNG,com, BALEENDAH – Berawal dari hobi, seorang pria yang tinggal di Baleendah, Kabupaten Bandung, Deki Fajar, berhasil mengembangkan bisnis peternakan Ayam Aseel dan Shamo. Kedua ayam itu ayam impor, sehingga tak heran usaha ayam ini bisa menghasilkan miliaran rupiah.


Deki mengungkapkan, pasar dari bisnis Ayam Aseel dan Ayam Shamo masih sangat terbuka.

Apalagi, dalam proses pemasarannya banyak secara online, sehingga bisnis ayam impor ini bisa mencakup banyak wilayah.

Dalam menjalankan bisnis ayam impornya ini, Deki memiliki moto UMKM. Artinya, bukan Usaha Menengah Kecil dan Mikro, tapi Usaha Menengah Kecil Miliaran.

“Bukan plesetan, tapi memang realitasnya ya begini keadaannya. Ini sangat terbuka marketnya. Untuk harganya, saya jual minimal itu Rp2 juta per satu ekor yang berumur satu bulan,” ujar Deki saat wawancara.

Peminat ayam impor dalam bisnis ini sangat banyak
Kata Deki, banyak sekali peminat dari Ayam Aseel dan Ayam Shamo ini. Bahkan ia sampai kekurangan dalam memenuhi permintaan pasar.

Karena itu, Deki berniat mencari mitra agar bisa saling bekerjasama, termasuk dalam proses penjualannya.

“Penjualan seminggu minimal, yang paling kecil bisa sampai lima ekor. Jika kali Rp2 juta maka per minggu sudah mendapat Rp10 juta,” katanya.

Untuk perawatan Ayam Aseel dan Ayam Shamo, kata Deki, sama seperti perawatan ayam biasa. Untuk makanannya pun sama seperti ayam biasa.

Namun yang menjadi catatan adalah karena Ayam Aseel dan Ayam Shamo memiliki gen luar negeri, maka dari umur empat bulan ke bawah harus terjaga suhunya yaitu harus selalu hangat.

“Yang pasti untuk perawatan hewan pasti kembali ke masalah kebersihan. Itu faktor yang paling harus perhatikan, terutama kebersihan ayam dan kandang,” jelas Deki.

Bibit dari Ayam Aseel dan Ayam Shamo ini bisa mencapai harga Rp4 juta sampai Rp6 juta per pasang. Namun, pendapatan akan lebih besar dari modal.

Apalagi, ayam betina bisa bertelur dan menghasilkan anak sejak umur tujuh bulan. Deki menjelaskan bahwa, satu ayam jantan banding lima ayam betina.

“Semua bibit saya impor. Khusus Ayam Shamo, ada yang dari Jerman, Belanda, Amerika, beberapa dari Belanda dan Jerman. Sedangkan untuk Ayam Aseel saya dapatkan dari Pakistan dan India,” sebutnya.

Di Philipina, kata Deki, harga sepasang Ayam Shamo dewa atau siap ternak sebesar Rp15 juta. Sedangkan Eropa bisa mencapai Rp20 juta.

Saat pandemi Covid-19, bisnis Ayam Shamo dan Ayam Aseel justru semakin banyak peminat. “Pembelinya berasal dari masyarakat kalangan menengah ke atas,” ungkap Deki.

Demi menjaga kepercayaan pembeli, apalagi pemasarannya secara online, Deki tak segan-segan menyediakan garansi. Misalnya jika ada pembeli dan harga telah disepakati, kemudian saat pengiriman, ayam mati maka Deki tak segan-segan menggantinya.

“Meskipun setelah terima juga, saya ada garansi selama satu minggu. Jadi, kalau seminggu ayamnya matinya karena sakit, dan bisa buktikan maka pasti akan saya ganti. Kemudian jika ada pelanggan yang beli sepasang, karena umuran sebulan itu kan masih belum bisa diprediksi jantan betinanya, maka kalau tertukar pastinya akan saya ganti lagi,” paparnya.

Kepada pemerintah, khususnya Kabupaten Bandung, Deki berharap bisa menjadi inisiator UMKM Ayam Aseel dan Ayam Shamo. Karena pasar dari UMKM ini sangat jelas.

Pemerintah dari pusat hingga daerah, harus terintegrasi baik dalam hal menjadi inisiator permodalan.

“Penanganannya juga seperti ayam biasa. Jadi cobalah usaha Ayam Aseel dan Ayam Shamo ini bisa dikembangkan pada kecamatan, desa hingga kelurahan. Untuk pasarnya bisa kita diskusikan, karena sekali lagi pasarnya masih terbuka,” pungkas Deki.

(fik/radarbandung)

Loading...

loading...

Feeds