Kebutuhan Peti Mati untuk Korban COVID Melonjak

SETIAP yang bernyawa pasti mengalami kematian” (TQS Ali Imran (3):185), ayat ini menggambarkan bahwa setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, baik itu binatang , hewan, tumbuhan, ataupun manusia.artinya punya batas waktu tertentu yang tidak bisa di lampauinya lagi. Akan tetapi masalah kematian adalah rahasia Allah SWT, manusia harus menyakini dan mengimani akan takdir Allah SWT. Kapan dan seperti apa manusia meninggal tidak ada yang mengetahuinya, hanya doa yang harus senantiasa dipanjatkan memohon kepada Allah SWT agar kita mati dalam keadaan husnul khatimah (baik di akhir hayat).


Berkaitan dengan hal itu, apa yang terjadi saat ini, yaitu sejak Allah SWT menurunkan kekuasaanya yaitu dengan adanya virus corona yang melanda seluruh dunia, Allah SWT pun menguji manusia dengan banyak korban yang terjangkiti covid-19, baik yang terinveksi ataupun yang meninggal dunia. Apalagi sejak di berlakukan New normal korban meninggal dunia sudah menembus angka 10.000. Hal ini menjadi sebuah permasalahan baru berkaitan dengan banyaknya permintaan peti mati , karena selama ini begitu cepatnya pertambahan korban yang meninggal dunia, sehingga persediaan peti mati semakin menipis, sementara permintaan semakin meningkat.

Kebutuhan peti mati yang meningkat di alami oleh pemerintah kabupaten Bandung, karena sejumlah rumah sakit saat ini telah membuat permohonan peti mati, jadi nanti akan dibuatkan sesuai permohonan dan akan membuat lagi 50 peti mati , dan persediaan ini sampai akhir tahun ini..kita akan salurkan ke Rumah sakit Soreang, Majalaya, Rumah Sakit Al-Ihsan dan Rumah Sakit Cicalengka.

Sedikitnya 50 peti mati untuk korban pasien positif Covid- 19 yang di siapkan Dinas Perumahan Rakyat, kawasan pemukiman , dan pertanahan(Disperkintam) kabupaten Bandung telah habis digunakan. Kepala Bidang Pertamanan dan pemakaman Disperkintam, Erma Marlena mengatakan, pihaknya selama ini telah menyediakan peti- peti mati untuk pasein yang meninggal akibat terpapar covid- 19. Akan tetapi , karena banyaknya permintaan dan meningkatnya korban , maka, Disperkintam kembali menyiapkan peti- peti mati yang nantinya akan di salurkan ke Rumah Sakit rujukan.

Erma menyebutkan, pihaknya saat ini sudah menyiapkan lubang yang tersedia untuk korban covid- 19 yaitu sekitar 300 lubang dengan pertimbangan aksebilitas lebih mudah untuk mobil dan tidak terlalu jauh dari jalan utama. Pemakaman itu ada di kecamatan Soreang, Tegalluar Bojongsoang, Cikoneng Cileunyi dan ada makam non muslim di Nagreg’’. Terangnya .

Erna juga menambahkan, saat ini masyarakat sudah bisa menerima . apabila ada pasein covid-19 yang ingin di makamkan , misalnya di makam keluarga , itu tidak dipermasalahkan.

Untuk prosesi pemakaman pihaknya sudah menekankan protocol kesehatan mulai dari rumah sakit sampai perjalanan hingga ke lokasi pemakaman, sedangkan untuk petugas pemakaman, Disperkintam memiliki tim petugas harian Lepas sekitar lima sampai tujuh orang yang berasal dari masyarakat sekitar. ‘’ khusus untuk covid , yang bisa membantu untuk pemakaman, dan itu sudah ada intensifnya dari Pemda untuk mereka’’. Tandasnya ( JabarEkspres, 25 sept 2020).

Kalau kita mencermati tentang meningkatnya permintaan peti mati , sementara persediaan kurang , dan hal tersebut adalah salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi,dari banyaknya kebutuhan masyarakat, berkaitan dengan kematian akibat covid. Kalaulah pemerintah cepat tanggap dalam menangani penyebaran virus corona, mungkin korban meninggal dunia bisa ditekan. Dan agar tidak cepat menyebar virusnya . Bisa di berlakukan karantian ( lokwdon) bagi yang sdh terpapar virus dengan di penuhi seluruh kebutuhanya oleh pemerintah baik secara individu atau wilayah tertentu, sehingga korban tidak banyak yang berjatuhan, tapi karena pemerintah sejak awal memang tigak serius dalam menangani virus, artinya tidak memikirkan bagaimana menyelamatkan nyawa rakyat, hanya pertumbuhan ekonomi yang menjadi focus perhatiaanya sehingga abai terhadap keselamatan nyawa rakyat, terlihat juga dari awal bencana ini terjadi, tenaga kesehatan mengeluhkan kurangnya alat kesehatan, seperti APD, Masker termasuk juga tenaga medis , kurang diperhatikan.

Hal ini suatu hal yang wajar tatkala negara yang menerapkan system kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan . karena landasannya adalah sekuler, jadi pemerintah tidak serius dalam penangannya, bahkan dalam memenuhi kebutuhan rakyat, baik untuk yang meninggal dunia, terlebih- lebh bagi rakyat masih hidup, dari mulai sandang, pangan, papannya , apalagi dampak dari covid ini banyak kena PhK, berdampak pada ketahanan keluarga sehingga angka perceraian makin meningkat.

Berbeda dengan Islam, tatakala Islam sebagai agama yang paripurna , menyeluruh dan sekaligus sebagai ideologi, Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan, maka Islam akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat baik yang hidup dengan terpenuhinya sandang, pangan dan papanya, kemudian yang sudah meninggal pun di urus dengan baik. Mulai dari pengurusan jenazah, dari memandikan atau mengkafani ataupun menyolatkatnya.

Jangan sampai jenazah wanita dimandikan oleh petugas pria karena jelas itu bertentangan dengan syariah Islam berkaitan aurat wanita dan posisi petugas pria adalah laki- laki asing yang haram untuk menyetuh aurat wanita.

Sampai-sampai pernah diceritakan terkait perhiasan itu harus dijaga. Fatimah Az- Zahra berpesan kepada Asma ‘ binti Umaisi, yang hampir setiap hari menjenguk dirinya, ‘’ saya tidak senang atas apa yang diperbuat terhadap wanita jika meninggal. Jenazah mereka hanya ditutupi dengan kain kafan sehingga lekuk tubuh terlihat,’’ kata Fatimah kepada Asma’, putri Abu Bakar ash-shidiq.

‘’Apakah engkau mau aku tunjukan sesuatu yang pernah aku lihat di Habasyah?’’ ujar Asma.’

Asma ‘ lalu membuat semacam keranda . kerangkanya terbuat dari pelepah kurma, sedangkan bagian luarnya ditutup dengan kain . dengan begitu , jenazah yang dibawa dengan keranda itu tidak terlihat dari luar. Begitu Fatimah melihat keranda itu, ia sangat gembira hingga tertawa.

Lalu ia berpesan , ‘’ nanti aku aku meninggal , kamu dan suamiku , Ali, yang memandikan aku. Jangan ada orang lain yang ikut memandikan aku, setelah itu buatkan keranda seperti itu untuk diriku’’. (HR adz-Dzahabi dalam Syiar A’la an -Nubala, dari penuturan Qutaibah bin Said dan Jafar ra).

Itulah sekelimut gambaran berkaitan dengan jenazah yang harus tetap dijaga auratnya. Jangan sampai seperti apa yang baru- baru ini viral jenazah perempuan dimandikan oleh petugas pria kemudian difoto lagi dengan alasan untuk dokumentasi. Tapi dalam Islam sangat dijaga.

Seorang pemimpin dalam Islam yaitu khalifah adalah sebagai kepala negara yang wajib memenuhi kebutuhan rakyatnya, karena khalifah sebagai penanggung jawab atas apa yang dia pelihara. Rasulullah SAW bersabda: ‘’ pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya’’ ( HR. al- Bukhari, Muslim dan Ahmad). Khalifah juga sebagai penjaga rakyatnya, artinya khalifah akan berupaya menjaga nyawa rakyatnya dengan memberlakukan hukum- hukum syariah yang berkaitan dengan hukum qishah atau diyat dalam pembunuhan , diyat dalam serangan terhadap organ tubuh, dsb. Juga larangan atas segala yang menyebabkan dharar (bahaya) dan mengancam keselamatan baik bagi dirinya sendiri, orang lain atau masyarakat, disamping juga islam menjaga harta .

Sehingga dengan terjaganya nyawa rakyat dan harta rakyat maka akan meminimaliris angka kematian. Dan kebutuhan masyarakat baik yang hidup ataupun yang meninggal dunia akan terpenuhi.

Maka dari itu, mari kita campakan system yang busuk ini dengan kembali menerapkan aturan Allah SWT, Yaitu dengan menegakkan system kehidupan yang berasal dari pencipta dan warisan dari Rasulullah SAW yaitu daulah khilafah Islamiyah yang akan menerapkan aturan-aturan islam, baik untuk mengurus manusia yang hidup ataupun mengurus orang yang sudah meninggal dunia secara manusiawi.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Oleh : Inayah
Aktivis : pemerhati lingkungan

Loading...

loading...

Feeds

Pordi Bersiap Menjadi Bagian dari KONI

Permainan Domino sangat populer di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bahkan di Sulawesi Selatan sudah menjadi budaya seperti acara pesta biasanya …