Wanita Dimuliakan tanpa ‘Kesetaraan’

Peringatan Hari Perempuan Internasional di Gedung Sate, Rabu (8/3/2017). Foto: Iman Herdiana

Peringatan Hari Perempuan Internasional di Gedung Sate, Rabu (8/3/2017). Foto: Iman Herdiana

BICARA tentang kaum hawa hari ini masih berkutat seputar problem kesetaraan gender yang menjadi komoditi propaganda barat yang dikampanyekan pada kaum perempuan. Karenanya, hal ini pun menjadi sesuatu yang rutin diproyeksikan di negeri-negeri Muslim, tak terkecuali di negeri tercinta ini.


Untuk terus mempromosikan kesetaraan upah, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan UN Women, dua badan PBB yang memimpin pendirian Koalisi Internasional untuk Kesetaraan Upah (Equal Pay International Coalition/EPIC), bersama dengan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD). (https://kumparan.com/kumparanwomen)

Koalisi ini bertujuan untuk mencapai kesetaraan upah bagi semua perempuan dan laki-laki dengan mendukung pemerintah, pengusaha, pekerja dan organisasi mereka di tingkat global dan nasional untuk membuat kemajuan nyata dan terkoordinasi menuju tujuan ini. (https://m.bisnis.com/entrepreneur/)

“Mempertimbangkan kesenjangan gender di pasar kerja kita saat ini, kementerian saya, bersama dengan semua mitra sosial kami dan organisasi internasional, terus mendorong aksi bersama menentang diskriminasi berbasis gender di tempat kerja. Ini saatnya bagi perempuan dan laki-laki untuk dihargai secara setara berdasarkan bakat, hasil kerja dan kompetensi, dan bukan berdasarkan gender,” ungkap Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam pernyataan pers yang dibagikan UN Women.

Fakta yang menjadi titik asal masalah hanya diselesaikan dengan fakta yang baru, tanpa dihilangkan akar masalahnya. Tentu saja solusi hakiki tidak akan pernah didapatkan, karena sumber masalah bagi kapitalisme adalah sekularisme itu sendiri. Kita lihat hari ini kaum perempuan diatur dengan aturan sekuler

Profil mereka kian bebas dieksploitasi, baik media massa dan ide barat yang liberal memberi ruang lebar kebebasan berekspresi. Dalihnya, demi aktualisasi hak asasi dan kesetaraan gender. Seolah-olah kaum perempuan selama ini ‘terkekang’ dengan aturan Islam yang diopinikan sudah ketinggalan zaman, kampungan, udik, kuno. Padahal stigma negatif ini bertujuan menjauhkan kaum perempuan dari Islam itu sendiri.
Alih-alih berdaya, perempuan di era ini seolah dijadikan kambing hitam kemiskinan. Dilansir dari detiknews.com (28/4/17) menteri keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa penyebab kemiskinan di negeri ini diantaranya adalah karena masih banyak perempuan yang belum berpartisipasi dalam kegiatan perekonomian. Untuk itu menurutnya harus ada upaya penyetaraan gender agar partisipasi perempuan dalam perekonomian semakin optimal. Pembukaan lapangan kerja dan kesempatan berperan seluas luasnya bagi perempuan menjadi titik penting agar perempuan bisa ambil bagian di dalamnya.

Pandangan perempuan yang “diam” di rumah dianggap sebagai masalah, menggiring pada satu pertanyaan besar : sebenarnya ide apa yang sedang ditawarkan? Ya, ide kesetaraan gender yang menganggap bahwa partisipasi perempuan dalam kehidupan publik, serta turut sertanya mereka dalam bekerja akan menambah value dalam perekonomian. Harapannya adalah dengan ikut bekerja, maka pendapatan meningkat dan kemiskinan bisa berkurang. Pemikiran ini jelas bathil karena bersumber dari satu pemikiran pangkal yang juga fasad, yakni sekulerisme kapitalis.

Tawaran “kesetaraan” pada perempuan nyatanya menafikan kewajiban mereka sebagai ibu dan pendidik generasi. Janji manis ide gender yang akan melibas batas diskriminasi pada perempuan di sisi lain malah menjadikan kaum perempuan semakin tak memiliki pelindung. Betapa kerasnya dunia kerja yang harus dihadapi? betapa mengerikannya kampanye kesetaraan saat perempuan didorong untuk hidup dibawah bendera liberalisme? perempuan mulai dikenalkan hak untuk memilih tidak menikah bahkan menolak menjadi ibu.

Artinya kaum muslimah dan dunia Islam harus jeli melihat persoalan ini dan tentunya mesti segera berbenah. Harus mengganti arah pandang tentang nasib kaum perempuan yang selama ini penuh dengan derita.

Perlu ada edukasi dan kampanye bersama yang bertujuan untuk menentang narasi dominan tentang kesetaraan gender dan klaim-klaimnya dalam memajukan hak-hak kaum perempuan dan kemajuan bangsa.
Dalam ajaran Islam laki-laki dan perempuan itu sama kedudukannya dihadapan Allah Swt. yang membedakan hanyalah takwanya. Hak dan kewajiban pun sudah diatur sedemikian adilnya oleh Islam bagi laki-laki dan perempuan. Yang jika dijalankan dengan penuh keimanan akan memberikan kebahagiaan.

Ketika Islam menetapkan semua itu, tidak lain Islam menetapkannya sebagai hak dan kewajiban terkait dengan kemaslahatan pria dan wanita menurut pandangan asy-Syaari (Sang Pembuat Hukum). Sekaligus menetapkannya sebagai solusi atas perbuatan mereka sebagai suatu perbuatan tertentu. Islam menetapkannya satu ketika karakter laki-laki dan perempuan mengharuskannya satu. Sebaliknya Islam menetapkannya berbeda ketika karakter masing-masing mengharuskannya berbeda. Kesatuan (kesamaan) dalam berbagai hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan tidak bisa disebut kesetaraan. (Taqiyuddin an Nabhani: An-Nizham Al-Ijtima’i fi al Islam).

Islam memuliakan perempuan dengan cara ditinggikan derajatnya sebagai seorang Ibu, mulai dari perjuangannya hamil dengan bersusah payah, pengorbanan melahirkan, sampai mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Rasulullah bersabda kala seorang sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, Siapakah yang harus saya perlakukan dengan baik? Rasul menjawab, “Ibumu.” Lelaki tersebut bertanya lagi, ”Kemudian siapa?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, ”Kemudian siapa?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bapakmu.” (Shahîh al-Bukhâri, no 5971 dan Muslim, no. 2548)

Para ulama perempuan dalam masa kekhilafahan Islam saat masanya itu, menjalani kehidupan Islam sepenuhnya. Mengatur rumah tangga mereka, mengasuh anak-anak mereka, meraih predikat ulama, berpartisipasi dalam urusan masyarakat, menjadi advokat untuk keadilan, menyeru kepada kemakrufan, melarang kemungkaran, dan mengoreksi penguasa.
Hanya implementasi sistem Islam yang berasal dari Allah Swt. yang bisa mencapai visi unik mewujudkan pendidikan perempuan yang memaksimalkan pemikiran dan keterampilan mereka untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, dan di sisi lain, menjamin perlindungan martabat dan keselamatan mereka.

Sungguh sangat naif solusi kesetaraan gender dalam pendidikan perempuan akan bisa menuntaskan semua masalah perempuan baik masalah kekerasan, masalah ekonomi dan hak-hak perempuan. Apalagi jika sistem aturan yang dijalankan adalah sistem kapitalis sekuler yang justru merendahkan harkat dan martabat kaum hawa.
Hanya sistem Islam yang diterapkan secara kaffah-lah yang akan mampu memuliakan dan mensejahterakan kaum perempuan sesuai dengan fitrah dan kodratnya.

Wallahu a’lam bi ash shawwab.

 

Oleh: Ayu Unzia Anggraini
Perekam Medis dan Pegiat Dakwah

 

Loading...

loading...

Feeds

Pordi Bersiap Menjadi Bagian dari KONI

Permainan Domino sangat populer di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bahkan di Sulawesi Selatan sudah menjadi budaya seperti acara pesta biasanya …