Ulama Jadi Tumbal, Dimanakah Peran Negara?

Ilustrasi Ulama

Ilustrasi Ulama

“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman siapa saja memusuhi waliku maka aku nyatakan perang terhadapnya.” (HR. Bukhari)


Kembali lagi negara berflower +62 diguncangkan dengan kasus percobaan pembunuhan terhadap ulama yaitu Syekh Ali Jaber. Keguncangan kasus tersebut menghiasi jagad media, baik media elektronik, media cetak, maupun media sosial.

Dilansir oleh Kompas.co, (13/09/20) Syekh Ali Jaber ditusuk seorang pemuda saat menghadiri pengajian dan wisuda tahfidz Al-Qur’an di Masjid Falahudin yang berada di Jalan Tamin, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Lampung, Minggu (13/9/2020) sore.

Kejadian tersebut berlangsung secara cepat dan tiba-tiba. Seorang pria berinisial AA memainkan debutnya di arena panggung. Ia berlari sekencang-sekencangnya dan mencoba menancapkan senjatanya di bagian incarannya, akan tetapi syekh berhasil menangkis serangan tersebut. Sehingga yang terkena tusukan adalah lengannya, bukan bagian vital tubuhnya.

Kasus tersebut telah menggegerkan penduduk bumi pertiwi. Pasalnya Syekh Ali Jaber merupakan ulama tersohor dengan kesejukan dakwahnya yang khas.

Namun, gempa emosi penduduk bumi pertiwi semakin meningkat, ketika diklaim bahwa pelaku penusuk Syekh Ali Jaber adalah orang yang memiliki gangguan jiwa (gila). Sebagaimana disampaikan oleh ayah pelaku bahwa ia memiliki riwayat gangguan jiwa sejak empat tahun terakhir.

Pengakuan seperti ini adalah keliru. Apalagi tanpa disertai keterangan medis dari pihak rumah sakit terkait dengan riwayat penyakit pelaku. Sementara jejak digital pelaku menunjukkan dua tahun terakhir pelaku bermain media sosial, selfi, posting status layaknya orang sehat wa alfiat. Jelas pernyataan tersebut merupakan pernyataan yang mencederai akal sehat kaum berpikir. Lantas, apakah benar pelaku itu orang gila?

Seandainya pelaku memang orang gila, tentunya dia tidak akan hidup selayaknya orang normal. Dan jika memang gila, tentunya dia akan menghabisi secara membabi buta orang-orang di sekitarnya, bukan berlari menuju syekh dengan kekuatan motor GP.

Penyakit gila nyatanya tidak mempan menjadi dalih penusukan tersebut. Pasalnya, dalih tersebut menuai komplain dan hujatan dari berbagai kalangan, sebab dalih tersebut dinilai irasional. Dengan adanya kontra terhadap pengklaiman terhadap pelaku, maka motif pembunuhannya mengalami metamorfosis yaitu terjadi karena ada rasa kebencian pelaku terhadap dakwah korban, sehingga korban menjadi gentayangan di pikiran pelaku. Perasaan kebencian itu timbul ketika pelaku menonton acara televisi yang dibawakan oleh korban.

Jika memang benar motif penusukan adalah perasaan kebencian yang berawal dari tontonan. Pertanyaannya, tontonan seperti apa yang ditonton? Apakah acara Hafiz Indonesia?

Tentu, klaim-klaim motif pembunuhan seperti ini tidak jelas buktinya dan tidak logis. Sangat sulit dicerna oleh akal orang-orang yang berakal.

Negara Tidak Hadir Sebagai Pelindung Ulama

Negara yang memproklamirkan diri sebagai negara hukum, wajib menjalankan amanah untuk melindungi nyawa dan keselamatan segenap rakyat.

Sebagaimana yang tertera dalam pasal 28I Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan:

“Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani”

Berdasarkan konstitusi UUD 1945, negara tentu hadir untuk menunaikan kewajibannya dengan menjamin hak warga negara. Negara harus siap siaga menjamin kehidupan segenap rakyatnya, melindungi dari segala bahaya yang berbau penyiksaan dengan penjagaan keamanan, dan konsisten menjamin kemerdekaan baik pemikiran maupun hati nurani.

Tetapi pada realitasnya, teori tidak sesuai ekspetasi. Konstitusi yang tertera di kertas putih UUD, tidak benar-benar dijalankan.

Ulama kerap kali jadi tumbal di negeri muslim. Dan penganiayaan terhadap ulama pun bukan kali pertama terjadi, melainkan ini penganiayaan yang kesekian kali terjadi. Dan pelakunya terus dilabeli dengan orang gila.

Miris sekali, penganiyaan terhadap ulama di negara demokrasi sudah menjadi rahasia umum. Sistem demokrasi sekuler membuat eksistensi para ulama merasa terancam.

Dan ini menjadi bukti bahwa kebebasan yang dikoar-koarkan oleh negara mengadopsi demokrasi, hanya ilusi nestapa yang tidak terbukti.

Ulama dalam Prespektif Islam

Islam merupakan agama yang memiliki segudang regulasi baik yang sederhana sampai kompleks. Islam juga mengatur bagaimana cara dan taktik melindungi ulama. Islam memandang ulama sebagai pewaris para Nabi, yang mewarisi ilmu tentang hakikat hidup, baik hidup di dunia maupun di akhirat. Ulama adalah penjaga ilmu. Selama ada ulama, selama itu pula dunia akan terus disinari dengan pelita ilmu. Maka manusia akan mendapatkan jalan cahaya dan petunjuk lewat jalur ulama.

Ulama mempunyai peran besar dalam berbagai peristiwa. Ada beberapa peran dan fungsi ulama, yaitu:

Pertama, pemelihara dan penjaga warisan para nabi, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ulama akan selalu menjaga agama Allah dari kebengkokan dan penyimpangan, bersama dengan umat berupaya menerapkan, memperjuangkan serta menyebarkan risalah Allah.

Kedua, sumber ilmu. Ulama merupakan orang yang faqih fiddin dalam masalah halal dan haram berdasarkan konstitusi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ulama menjadi tempat rujukan untuk menuntut ilmu agar senantiasa berdiri tegak dan berjalan di atas tuntunan Allah dan Rasulullah.

Ketiga, pembimbing, pembina dan penjaga umat, agar senantiasa berjalan di atas shirotal mustaqin. Mencerdaskan umat dari kebodohan dan menjaga dari penyesatan kaum kafir.

Keempat, pengontrol penguasa. Ulama adalah orang yang memahami konstelasi politik global dan regional. Dengan demikian umat terhindar dari segala kebijakan-kebijakan yang merugikan dan menyengsarakan rakyat.

Demikianlah tugas mulia para ulama dalam menjaga kesucian Islam dan melindungi kepentingan umat Islam. Maka tidak pantas jika ulama yang mempunyai eksistensi, diteror dengan tindakan tidak etis.

Wallahu’alam bi Ash-Shawwab

Oleh : Nur Elmiati
Aktivis Dakwah Kampus dan Member Akademi Menulis Kreatif

Loading...

loading...

Feeds

Pordi Bersiap Menjadi Bagian dari KONI

Permainan Domino sangat populer di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bahkan di Sulawesi Selatan sudah menjadi budaya seperti acara pesta biasanya …

Telkomsel Alihkan 6.050 Menara ke Mitratel

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA – Memperkuat transformasi menjadi perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, Telkomsel melakukan aksi korporasi untuk penataan portofolio bisnis …

BPJAMSOSTEK Tasikmalaya Bagikan Helm bagi Pekerja

BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) Cabang Tasikmalaya melakukan kegiatan Program Promotif Preventif tahun 2020 dengan membagikan alat pelindung diri (APD) berupa helm …

Tergoda! Lezatnya Sate Bulan Pican Bandung

Mengambil dari bahasa asing, Pican, bermakna kelezatan suatu hidangan. Mengambil makna kelezatan makanan, Sate Bulan Pican hadir dengan menu sate …