Situasi Pandemi, Mitra dan Perusahaan Harus Saling Menguatkan

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Situasi pandemi yang terjadi berdampak pada perkonomian dari segala lini bisnis, termasuk perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi atau ojek online. Pihak perusahaan dan mitra harus saling mengerti agar kinerja bisnis bisa tetap bertahan di tengah pandemi.


Hal ini disampaikan oleh Richard Saepul Ketua GPRS, Komunitas Taksi Online Bandung. Sejauh ini, pihak mitra tidak mempermasalahkan setiap kebijakan selama semuanya dilakukan secara trasnparan.

“Kebijakan Gojek kan dinamis, bisa selalu berubah seusuai kondisi. Kalau dibilang merugikan mitra ya tidak juga,” ujar Richard saat dihubungi, Jumat (25/9/2020).

Menurutnya, di tengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini, Gojek dan mitra harus saling menguatkan agar tetap bertahan melalui berbagai tekanan akibat pandemi. Kedua belah pihak memiliki hubugan berkesinambungan.

“Dengan kondisi pandemi yang dihadapi dunia saat ini, kita harus sama-sama memahami. Dulu mungkin Gojek masih bisa memberikan kita insentif atau bonus setiap harinya. Agar sama-sama bisa bertahan, insentif itu sekarang diganti dengan Program Jago untuk memberi jaminan pendapatan untuk driver yang orderannya turun drastis saat pandemi,” ujar Richard.

Kebijakan yang diberlakukan Gojek cukup membantu para mitra untuk tetap bertahan. Sehingga rekan sesama mitra diharapkan memahami kebijakan Gojek saat ini.

Meski dihadapkan pada kondisi pendapatan yang turun akibat pandemi, para mitra driver yang tergabung dalam komunitas GPRS memilih tetap bertahan dan berharap sutuasi segera kembali normal.

“Saat ini rekan-rekan di GPRS sudah tidak begitu menghiraukan masalah insentif, yang penting masih bisa meng-cover operasional harian, seperti bensin, setoran mobil, dan untuk dibawa pulang ke rumah. Kami berharap kondisi ini hanya sementara. Kalau kondisi sudah normal, harapan kami Gojek bisa kembali memberikan reward untuk mitranya,” terang dia.

Terkait penetapan tarif, Richard meyakini Gojek memiliki pertimbangan, seperti menimbang tarif kompetitor. Ini memang dilematis. Kalau tarif dinaikkan konsumen bisa lari. Kalau terlalu rendah driver mengeluh.

“Kebijakan tarif ini juga yang harus kita pahami. Saya sih yakin, kalau ditekuni, pendapatan dari GoCar masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi kalau cuma sambilan apalagi iseng-iseng mungkin agak sulit,” akunya

Terkait upaya rekan-rekan sesama driver yang mengadukan pihak aplikator kepada DPRD dan pemerintah daerah, Richard menilai sah-sah saja. Namun pemerintah pun telah berupaya memberikan jaminan kesejahteraan kepada driver online melalui Permenhub 118/2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus.

“Pemerintah sudah membuat regulasi untuk menjamin kesejahteraan mitra driver online, terkait tarif, kuota, sudah detail diatur dalam Permenhub 118/2018. Ke depan pemilik taksi online harus mempunyai izin,” tutupnya.

(rls)

Loading...

loading...

Feeds

Pordi Bersiap Menjadi Bagian dari KONI

Permainan Domino sangat populer di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bahkan di Sulawesi Selatan sudah menjadi budaya seperti acara pesta biasanya …