Pakta Integritas Membunuh Hak Mahasiswa

JAGAD raya khususnya para mahasiswa dikejutkan dengan informasi yang beredar baru-baru ini. Bahwa di salah satu universitas ternama di Indonesia yaitu Universitas Indonesia (UI), beredar penandatangan pakta integritas yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa baru. Mereka menandatanganinya secara beramai-ramai dan dengan kesadaran penuh. (beritasatu.com, 12/09/2020).


Dalam media yang sama disebutkan bahwa pakta integritas ini menjamin mahasiswa UI tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan tapi juga penguatan karakter dan kepribadian sebagai orang Indonesia, melalui berbagai kegiatan akademik dan non-akademik. Bahkan mahasiswa dijamin untuk tidak terlibat dalam politik praktis yang mengganggu tatanan akademik dan bernegara. Pakta integritas ini juga menjamin adanya demakarsi (batas pemisah), mengingat di masa lalu, kampus UI dan juga kampus lain menjadi persemaian jaringan fundamentalisme, gerakan tarbiyah kemudian mendominasi Badan Eksekutif Mahasiswa. Mereka banyak dibina oleh dosen-dosen lulusan Perguruan Tinggi di Timur Tengah dan sempalan binaan intelejen.

Dari poin-poin pakta integritas tersebut menuai penolakan dari kalangan mahasiswa. Sebagaimana dilansir oleh (cnnindonesia.com, 13/09/2020) bahwa Fajar selaku ketua BEM UI mempertanyakan sejumlah poin pada pakta tersebut, di antaranya aturan mahasiswa tidak boleh terlibat dalam politik praktis yang mengganggu tatanan akademik dan bernegara. Mahasiswa juga disebut tidak boleh mengikuti kegiatan yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang tidak mendapat izin resmi pimpinan fakultas atau kampus. Fajar menyatakan bahwa poin ini dianggap mengekang kehidupan berdemokrasi mahasiswa, salah satunya mahasiswa tidak akan bisa mengkritik kebijakan pemerintah atau melakukan aksi demonstrasi.

Padahal permasalahan di Indonesia bukan terletak pada keaktifan mahasiswa dalam melakukan demonstrasi maupun menanggapi isu-isu politik saat ini. Sejatinya problem yang sedang dihadapi sekarang, adalah narkoba, perzinaan, korupsi, kebebasan, hingga radikalisme. Semua problem itu tak mungkin bisa diselesaikan dengan pakta integritas bagi mahasiswa baru.

Apalagi dengan munculnya pakta integritas bagi mahasiswa baru justru diarahkan untuk memberangus kesadaran politik dan sikap kritis yang distigma sebagai radikalisme. Padahal mahasiswa punya hak demokrasi yang selalu digaung-gaungkan selama ini. Seperti kebebasan berpendapat, berekspresi, beragama, dan kebebasan berkumpul. Akan tetapi, dengan adanya pakta integritas membuktikan dengan gamblang bahwa penguasa kampus ingin mematikan hak-hak yang dimiliki oleh mahasiswa.

Sebagaimana dilansir (beritasatu.com,12/09/2020) bahwa dengan pakta integritas ini, pimpinan UI memperlihatkan bahwa mereka benar-benar ingin menjalankan amanah pendidikan, amanah yang dititipkan para orangtua mahasiswa kepada mereka. Selain itu, pimpinan UI juga memperlihatkan bahwa mereka mendukung arahan presiden untuk mempersiapkan SDM unggul yang memiliki kepribadian Indonesia dan siap mengamalkan Pancasila. Semuanya untuk mempersiapkan masa depan anak bangsa.

Sungguh ini suatu alasan yang bertolak belakang dengan yang diinginkan oleh para orangtua. Pasti orangtua menginginkan anak-anak mereka bukan hanya pintar akademik saja, tapi juga mampu melakukan suatu perubahan besar bagi agama, bangsa dan negara. Tetapi, justru dengan adanya kebijakan sejenis ini menunjukkan bahwa ini adalah tindakan represif yang justru akan melahirkan masalah baru.

Semestinya kampus menyadari dan mengakui bahwa akar permasalahannya adalah problem sistemik yang semestinya dipahamkan kepada mahasiswa dan didorong terlibat dalam menghadirkan solusi. Karena mengingat para pemuda (mahasiswa) sangat besar peran mereka dalam mewujudkan perubahan nyata dari kondisi saat ini. Sebagaimana sejarah telah mencatat bahwa dominasi yang melakukan gerakan perubahan adalah para pemuda yang sadar akan kondisi permasalahan yang ada. Seperti Muhammad Al-Fatih yang sampai saat ini namanya tercatat dalam sejarah sebagai penakluk Konstantinopel, Salahuddin Al-Ayyubi yang telah berhasil membebaskan Al-Quds, dan deretan pemuda muslim lainnya. Kemudian di tanah air juga masih segar dalam ingatan kita bahwa gerakan reformasi yang dilakukan oleh mahasiswa pada tahun 1998 berhasil menurunkan Presiden Soeharto dari jabatannya.

Maka, sangat disayangkan ketika suara kritis dan gerakan politik mahasiswa diberangus dari diri mereka. Harusnya kalangan mahasiswa diajak dan dipahamkan untuk bergerak bersama mewujudkan perubahan yang hakiki yakni dengan penerapan aturan Allah Swt. yang akan mampu menyelesaikan segala problem negeri saat ini.

Wallahu’alam bishawab

Oleh: Zahra Aulia (Pemerhati Sosial, Aktivis Dakwah Kampus dan Member AMK)

Loading...

loading...

Feeds

Pordi Bersiap Menjadi Bagian dari KONI

Permainan Domino sangat populer di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bahkan di Sulawesi Selatan sudah menjadi budaya seperti acara pesta biasanya …