Anggaran Besar, Angkot Online Kab. Bandung Gagal dan Harus Distop

ILUSTRASI : Ilustrasi angkutan online yang ada di Kabupaten Bandung

ILUSTRASI : Ilustrasi angkutan online yang ada di Kabupaten Bandung

POJOKBANDUNG.com, BANJARAN – Meski telah mengeluarkan anggaran yang cukup besar, eksistensi program angkutan online dianggap tak memiliki konsep yang jelas. Apalagi saat ini, masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan menggunakan angkot.


Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Bandung, Toni Permana mengatakan program angkot online hanyalah suatu tindakan reaktif dari Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung terhadap kemajuan teknologi. Namun, tidak diimbangi dengan kesiapan secara matang dan dari sisi konsep tidak jelas.

“Anggaran untuk angkot online ini, cukup besar. Oleh karena itu, harus segera dievaluasi. Jika memang program angkot online tersebut tidak memungkinkan untuk dilanjutkan, maka sudah selesai. Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung bisa mencari ide atau inovasi lain,” ujar Toni saat wawancara di Banjaran, Rabu (2/9).

Toni melanjutkan sosialisasi program angkot online masih kurang. Ditambah lagi, tingkat kesadaran masyarakat untuk menggunakan transportasi publik masih kurang. Kata Toni, dibandingkan menggunakan angkot, masyarakat lebih memilih untuk menggunakan ojek online. Selain itu, saat ini juga masyarakat dimudahkan untuk mengakses kredit kendaraan. Sehingga, banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan bersusah payah menggunakan angkutan yang kondisinya tidak terlalu bagus.

“Angkutan online ini memang agak sulit dipraktekan, dan realisasi di lapangan juga sulit. Jika hanya mengandalkan potensi yang ada, maka akan sulit dan program angkot online ini hanya bisa menjadi isapan jempol saja. Oleh karena itu, harus ada kerjasama dengan pihak ketiga, pihak swasta atau pihak yang lebih profesional untuk pengelolaannya, misalnya pengelolaan server dan sebagainya,” tutur Toni.

Menurut Toni, ada dua hal yang berkaitan dengan transportasi. Yaitu pemilik kendaraan dan pengemudi kendaraan. Dua hal tersebutlah yang harus terus dibina secara maksimal dan serius, seperti menggelar pembinaan tentang cara berlalu lintas, pembinaan tentang mengelola tampilan kendaraan, dan sebagainya. Sehingga, angkutan publik jadi salah satu pilihan bagi masyarakat. Toni mengungkapkan, beberapa pemilik kendaraan angkutan mengalami kerugian sehingga terpaksa menjual beberapa kendaraannya. Selain itu, banyak orang yang terpaksa menjadi pengemudi angkut, daripada tidak ada pekerjaan lain.

“Dulu itu supir angkot bisa mendapatkan Rp200 ribu per hari. Saat ini, untuk mendapatkan Rp50 ribu saja, sangat sulit. Karena, memang peminat dari angkutan ini semakin terbatas,” pungkas Toni.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqwa program transformasi angkutan harus melibatkan banyak pihak. Saat ini, pihaknya sedang melakukan sosialisasi, diskusi dan negosiasi dengan sejumlah pihak agar transformasi angkutan ini bisa berjalan dengan baik. Dan juga agar investasi dari pengusaha bisa diamankan dengan baik.

“Kita ingin layanan angkot bisa menjadi pilihan bagi masyarakat dan menjadi transportasi yang ekonomis,” kata Zeis.

Angkot online juga termasuk dalam program transformasi angkutan. Nantinya, angkutan online akan terintegrasi agar lebih memudahkan dalam melakukan pengendalian, seperti aturan pembayaran secara cashless untuk mendukung Adaptasi Kebiasaan Baru.

“Angkot online ini kan pasarnya anak sekolah. Karena, anak sekolah sedang libur, maka otomatis kita slow down kan dulu. Apalagi, angkutan online ini tidak dibiayai pemerintah tapi memungut dari tarif angkutan yang tidak dinaikan. Saat ini, kita sedang melakukan penyesuaian terkait bagaimana pola yang cocok,” pungkas Zeis.

(fik)

Loading...

loading...

Feeds