Pertanian Kab. Bandung Terancam Dialihfungsikan, Program LP2B Meragukan

POJOKBANDUNG.com, BALEENDAH – Menjaga sumber ketahanan pangan adalah tugas semua pihak. Salah satu cara menjaga lahan pertanian yang merupakan sumber ketahanan pangan adalah dengan menerapkan program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.


Program tersebut bertujuan agar lahan yang sudah ada tidak mudah dialihfungsikan menjadi lahan bukan pertanian, misalnya dijadikan perumahan. Namun, program tersebut juga harus diiringi dengan adanya dorongan intensif bagi masyarakat yang mengikuti program LP2B.

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Bandung, Firman B Somantri mengungkapkan, Kabupaten Bandung telah memiliki Peraturan Daerah untuk program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Berdasarkan undang-undang, lahan yang sudah ditetapkan masuk dalam program, LP2B, tidak boleh dialihkan fungsikan menjadi lahan bukan pertanian.
Hal tersebut, tentunya bertujuan untuk menjaga sumber ketahanan pangan. Dengan mengikuti program LP2B, maka masyarakat pemilik lahan tidak boleh menjual lahannya untuk dijadikan fungsi lain, seperti perumahan. Tapi dilahan tersebut, kata Firman, masyarakat tetap bisa membangun rumah untuk keluarganya.

“Guna mendukung program LP2B, maka tidak hanya membutuhkan Peraturan Daerah (Perda), tapi juga membutuhkan dorongan agar masyarakat pemilik lahan yang mengikuti program LP2B, bisa merasa beruntung, misalnya dengan diberi insentif, masyarakat pemilik lahan bisa mendapatkan diskon Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), selain itu juga ada bantuan sarana dan prasarana pertanian. Di daerah lain sudah memberikan insentif –insentif tersebut, namun untuk Kabupaten Bandung masih belum ada intensifnya,” ungkap Firman di Baleendah, Minggu (23/8).

Firman mengakui, masih ada masyarakat pemilik lahan yang takut mengalami kerugian jika mengikuti program LP2B. Karena masyarakat menilai jika menjual lahan untuk  dijadikan perumahan lebih menguntungkan dibandingkan dengan mengikutsertakan lahan dalam program LP2B. Apalagi, program LP2B ini, tutur Firman, hanya baru memiliki Perdanya, sedangkan Peraturan Bupatinya masih belum ada.

Padahal, Perbup tersebut digunakan agar dinas terkait bisa menerapkan program LP2B, hingga pada akhirnya bisa keluar insentif untuk masyarakat.

“Kita ingin masyarakat pemilik lahan yang ikut serta dalam program LP2B bisa merasa bangga. Karena, dengan adanya program LP2B, maka persediaan pangan bisa tetap bertahan,” sambung Firman.

Banyak wilayah di Kabupaten Bandung yang sudah berubah warna atau berubah peruntukan, misalnya beralih fungsi menjadi perumahan. Jadi, saat ini lahan pertanian di Kabupaten Bandung hanya 60-70 hektar, sehingga luas LP2Bnya akan lebih kecil. Jika lahan yang berstatus LP2B ingin dirubah menjadi, misalnya perumahan, maka harus ada pengganti untuk lahan tersebut, yang luasnya harus dua kali lipat dan lahannya harus berada di Kabupaten Bandung juga.

“Insyaallah program LP2B ini efektif menjaga lahan pertanian yang ada di Kabupaten Bandung,” jelas Firman.

Kendala lain dari upaya menjaga eksistensi lahan pertanian adalah mindset anak muda saat ini yang enggan menjadi petani. Hal tersebut, kata Firman, disebabkan perkembangan teknologi yang justru mengubah mindset anak masa kini.
Padahal, bekerja dibidang pertanian memiliki banyak keuntungan, seperti mendapatkan penghasilan yang baik juga bisa dianggap sebagai pahlawan, dalam hal ini adalah pahlawan pangan.

“Sebetulnya bekerja di pertanian itu tidak rutin, jadi bisa dikerjakan sembari mengerjakan perkerjaan lainnya. Sayangnya, saat ini banyak anak muda yang memilih bekerja di industri. Tak jarang ditemukan sawah yang dikelilingi oleh industri, sehingga membuat lahan tersebut tidak berwarna hijau tapi justru berwarna abu-abu,” pungkas Firman.

(fik)

Loading...

loading...

Feeds

43 Prajurit TNI Ditukar US Army

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa menerima kunjungan beberapa perwakilan dari tentara Amerika untuk Indonesia. Dalam pertemuan …