Relawan Dilarang Melihat Vaksin Covid-19, tapi Rela Disuntik

Tiga kakak beradik saat menunjukan kartu peserta uji vaksin Covid-19 usai mengikuti uji klinis penyuntikan vaksin di Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Kota Bandung, Selasa (11/8). 
(TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

Tiga kakak beradik saat menunjukan kartu peserta uji vaksin Covid-19 usai mengikuti uji klinis penyuntikan vaksin di Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Kota Bandung, Selasa (11/8). (TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sebanyak 19 relawan melakukan penyuntikan pertama uji klinis vaksin Covid-19 hasil kerjasama PT Bio Farma dan perusahan Tiongkok, Sinovac, di RSP Unpad, Jalan Prof. Eyckman, Kota Bandung, Selasa (11/8/2020).


Tiga dari 19 relawan tersebut merupakan kakak-adik.

Nina, (32) salah satu pegawai administrasi di sebuah klinik di Kota Bandung menjadi relawan bersama kakaknya, Rohaeni (33) yang merupakan seorang ibu rumah tangga, dan adiknya Yuanan (26), yang masih kuliah.

Nina mengaku mendaftar menjadi relawan secara online pada Senin (2/8). Ia sengaja mengajak kedua saudaranya dengan harapan terhindar dari ancaman Covid-19.

“Ini untuk masa depan juga ya. Kita tidak tahu pandemi ini akan berakhir sampai kapan, jadi setidaknya kita punya benteng (kesehatan),” katanya.

Nina mengatakan, ia mau menjadi relawan lantaran dorongan keinginan untuk membantu masyarakat mengakhiri pandemi.

Nina memberanikan diri menjadi relawan uji klinis vaksin Covid-19 karena ia percaya bahwa, pemerintah telah mengatur perihal uji klinis sebaik mungkin dan menjamin jika dikemudian hari terjadi sesuatu.

Nina mengaku disuntik di bagian bahu sebelah kiri. Ketika ditanya bentuk atau warna cairan vaksin, Nina menjawab tidak mengetahuinya, sebab ia dilarang untuk melihat vaksin covid-19 tersebut.

Setelah disuntik, Nina mengaku tidak merasakan apa-apa, selain rasa sakit tertusuk jarum. Oleh petugas, ia diberitahu akan dihubungi kembali untuk penyuntikan tahap kedua, yakni 14 hari ke depan.

“Saya masuk ke grup WA (relawan),” ucapnya.

Nina mengaku, masing-masing dari mereka diberi uang Rp200 ribu. “Katanya ini untuk mengganti transportasi dan waktu kami,” akunya.

“Sebelum penyuntikan kami mengisi dulu data, lalu dicek kondisi kesehatan, dan rapid test dulu. Setelah hasil rapid test keluar, kami baru disuntik,” lanjut Nina.

Nina berharap uji klinis vaksin Covid-19 yang dilakukan berhasil, sehingga dapat segera memulihkan kondisi yang kini dianggapnya begitu sulit dan serba terbatas. “Semoga pandemi cepat selesai,” harap Nina.

(muh)

Loading...

loading...

Feeds

PDRI Siap Kawal Distribusi KIP Kuliah Merdeka

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Persaudaraan Dosen Republik Indonesia (PDRI) akan memantau dan mengawal distribusi penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Merdeka …