Harga Rapid Test Buatan Indonesia Bernama RI-GHA Covid-19 Hanya Rp75 Ribu

KURASI NYARIS SEMPURNA: Alat rapid test RI-GHA Covid-19 bikinan BPPT bekerja sama dengan UGM, Unair, ITB, dan Universitas Mataram. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

KURASI NYARIS SEMPURNA: Alat rapid test RI-GHA Covid-19 bikinan BPPT bekerja sama dengan UGM, Unair, ITB, dan Universitas Mataram. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

POJOKBANDUNG.com – Indonesia akhirnya memiliki alat rapid test inovasi dalam negeri. Namanya RI-GHA Covid-19. Alat yang diluncurkan kemarin (9/7) itu diklaim memiliki akurasi nyaris sempurna.


Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, inovasi itu diharapkan mampu menjadi solusi atas pemenuhan kebutuhan rapid test yang sangat mendesak.

Dengan produk dalam negeri tersebut, Indonesia tak lagi bergantung pada produk luar.

Penggunaan RI-GHA Covid-19 juga akan terus didorong. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa regulasi yang berkaitan dengan belanja pemerintah lebih disederhanakan sesuai kebutuhan saat ini. Selain itu, belanja pemerintah harus mengutamakan produk-produk dalam negeri. Dengan begitu, belanja pemerintah di dalam negeri akan memacu pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, perlu ada revolusi mental untuk bangga pada produk dalam negeri dan bisa menggunakan secara penuh percaya diri. ’’Saya mohon, dengan kehadiran kepala LKPP, upaya kita untuk menunaikan arahan presiden bisa betul-betul dilaksanakan dengan baik,’’ ujarnya dalam peluncuran RI-GHA Covid-19 di kantor Kemenko PMK kemarin.

Para produsen dan peneliti juga diminta untuk tidak berhenti berinovasi. Sebab, setiap produk pasti memiliki kekurangan dan menuntut penyempurnaan dari waktu ke waktu.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro menjelaskan secara lebih detail mengenai RI-GHA Covid-19. Alat itu buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama dengan Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Mataram. Alat tersebut terbilang cepat dan praktis dalam penggunaannya. Hanya butuh waktu 15 menit untuk mengetahui hasil deteksi.

Mantan kepala Bappenas itu juga mengklaim bahwa alat buatan dalam negeri tersebut terbilang baik dari segi akurasi dan reliabilitasnya. Hal itu sudah dibuktikan melalui sejumlah pengujian yang dilakukan para peneliti.

Dia mengatakan, RI-GHA Covid-19 sudah melalui uji validasi skala laboratorium dengan hasil nilai sensitivitas untuk Immunoglobulin M-nya (IgM) 96,8 persen dan Immunoglobulin G (IgG) sebesar 74 persen. Tes dilakukan melalui pengujian pada 40 serum pasien positif dari Balitbangkes. Kemudian, tingkat spesifisitas IgM 98 persen, bahkan spesifisitas IgG-nya 100 persen pada 100 koleksi serum.

Pengetesan juga telah dilakukan di sejumlah rumah sakit. Menurut dia, sudah dilakukan uji akurasi terhadap rapid test lokal tersebut. Sekitar 4 ribu kit sudah digunakan di sejumlah rumah sakit di Jogjakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya. Uji lapangan dengan menggunakan sekitar 6 ribu kit pun dilakukan di sejumlah puskesmas.

’’Alat uji ini tergolong fleksibel karena mampu mendeteksi OTG, ODP, PDP, dan pasca-infeksi dengan menggunakan sampel serum, plasma, atau whole blood,’’ paparnya.

Produk tersebut telah mendapat izin edar dari Kemenkes. Proses produksi dilakukan dua mitra industri, yakni PT Hepatika Mataram dan PT Prodia Diagnostic Line. Dia berharap akan lebih banyak industri yang tertarik untuk bergabung. Dengan begitu, upaya pemenuhan rapid test untuk kebutuhan dalam negeri bisa tercapai.

Untuk saat ini, rapid test tersebut hanya diproduksi sekitar 200 ribu. Ditargetkan bakal naik dua kali lipat pada bulan depan. ’’Kami masih terus mencari mitra industri tambahan sehingga produksinya nanti bisa menutup kebutuhan,’’ katanya.

Disinggung soal harga, Bambang mengatakan sangat murah. Hanya Rp 75 ribu. Dengan harga itu, tentu rumah sakit masih bisa menutupi biaya lainnya sehingga tak melampaui batasan harga yang ditetapkan Kemenkes. ’’Aturan itu bukan monopoli. Memang kan kita tidak pernah tahu harga sebenarnya berapa. Tapi, dibanderol di rumah sakit sangat mahal,’’ ungkapnya.

(jpc)

Loading...

loading...

Feeds

Gubernur Jabar Siap Divaksin Covid-19

Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jabar menyatakan kesiapan menjadi relawan uji klinis vaksin COVID-19 …

Idul Adha, Telkomsel Serahkan 777 Hewan Kurban

POJOKBANDUNG.com,JAKARTA–Menyambut Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriyah, Telkomsel memberikan bantuan 777 hewan kurban yang akan disalurkan kepada sekira 43.000 penerima …

Hadirkan Popok Dewasa Berkapasitas Besar

POJOKBANDUNG.com – SEIRING dengan meningkatnya harapan hidup penduduk Indonesia yang mencapai 66 tahun, maka terjadi juga peningkatan pada jumlah lanjut …
Array ( [browser_mode] => smartphone [post_views_count_208077] => 1 )