Wabah Masih Melanda, Sekolah Hendak Dibuka

WABAH Covid-19 yang melanda dunia belumlah usai, keberadaannya seolah tak mampu terkalahkan meskipun dunia melakukan perlawanan yang demikian gencar. Mulai dari berbagai macam pengobatan serta proses penyembuhan para korban, Covid-19 seolah memenangkan pertarungan dengan banyak menumbangkan korban jiwa. Justru dibelahan bumi lainnya, wabah ini masuk pada gelombang ke 2.


Di Indonesia terhitung sejak Maret 2020 hingga saat ini badai Corona belum menampakkan kapan akan segera berakhir. Kasus positif tercatat dari hari ke hari korban semakin banyak, ditambah dengan kebijakan new normal yang dirasa memberikan andil pada bertambahnya kasus positif Corona.
Dengan dikeluarkannya kebijakan new normal, secara otomatis segala aktivitas akan berjalan seperti biasanya. Termasuk wacana dibuka kembali sekolah pada tahun ajaran baru ini meskipun angka positif Corona kian menghawatirkan jumlahnya. Di Kabupaten Bandung misalnya, digelar rapat dinas bersama kepala sekolah TK dan kelompok bermain (kober) dari empat gugus Kecamatan Cileunyi yang diselanggarakan oleh kepala Korwil TK, SD, SMP dan Non Formal Kecamatan Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Pertemuan ini dilakukan dalam dua season, pertama kepala TK 1 dan 2 selama dua jam, dilanjutkan season kedua gugus 3 dan 4. Ketua PGK Kecamatan Cileunyi Nunung Ratnaningsih, S.pd.MM mengatakan kegiatan belajar mengajar selama Covid-19 banyak memberikan dampak, sehingga dengan pertemuan ini berharap mendapat masukan dari Korwil untuk mempersiapkan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Rencananya kegiatan belajar mengajar tatap muka akan dilaksanakan pada 31 Juli mendatang dengan tetap menjalankan protokol kesehatan (patrolicyber.com, Senin 22 Juni 2020)

Wacana kegiatan belajar mengajar secara tatap muka yang saat ini tengah digodog, menimbulkan kekhawatiran dari para orang tua dan sebagian masyarakat. Pasalnya akan ada dampak dan risiko penularan Covid-19 secara cepat dan tak terduga, apabila kegiatan belajar mengajar ini tetap dijalankan. Sumber kegalauan yang dirasakan bukan hanya terpusat pada Covid-19, melainkan buruknya aturan negara yang tak memiliki panduan lengkap dan benar tentang penyelenggaraan pendidikan. Sebab selama pendidikan diselenggarakan dalam sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang menyimpang dan tak jelas arah, maka tak ada jaminan pendidikan di Indonesia dapat mencetak generasI yang berkualitas.

Beban berat pun dirasakan oleh para guru, sebab pemerintah tidak juga mengeluarkan kurikulum darurat saat pandemi berlangsung, baik pembelajaran jarak jauh maupun belajar tatap muka. Tentu hal ini membingungkan karena ketidakjelasan kurikulum dan metode pencapainya.

Loading...

loading...

Feeds

Gubernur Jabar Siap Divaksin Covid-19

Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jabar menyatakan kesiapan menjadi relawan uji klinis vaksin COVID-19 …