KPJ Kecam Perlakukan Oknum Petugas Saat Penertiban

Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ)

Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sejumlah musisi jalanan dari Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Kota Bandung menggelar aksi di Balai Kota Bandung, Kamis (12/3/2020). Mereka menuntut agar razia musisi jalanan segera dihentikan. Merekapun mengecam keras perlakuan tidak manusiawi yang kerap dilakukan oknum-oknum Satpol PP saat melakukan penertiban.


Salah seorang anggota KPJ Bandung, Sandi (21) mengaku pernah mengalami tindak kekerasan yang dilalukan Satpol PP dan Dinas Sosial. Itu terjadi sekitar Januari ketika selesai mengamen di Alun-alun Bandung. Oleh sejumlah petugas Satpol PP Sandi dikejar, bahkan mendapat beberapa pukulan di kepala.

“Saya diperlakukan seperti maling. Padahal saya tidak berbuat apa-apa, saya baru selesai ngamen,” ujarnya.

Sandi mengaku, atas pengalaman pribadinya tersebut akhirnya ia terdongrong untuk bergabung dalam aksi di depan Balai Kota bersama musisi jalanan yang lainnya. Dalam unjuk rasa tersebut Sandi menuntut hal yang sama dengan kawan-kawannya.

“Hentikan razia serta hentikan tindakan kekerasan yang kerap dilakukan oleh petugas,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua KPJ Bandung, Cepi Suhendar menyampaikan, aksi tersebut sejatinya merupakan upaya mengkritis Perda 11 Tahun 2005 tentang ketertiban, kebersihan dan keindahan.

Cepi menyayangkan, implememtasi Perda tersebut justru kerap menjadi tindakan yang diskriminatif terhadap para musisi jalanan. Musisi jalanan akhirnya kerap dianggap sebagai citra buruk dari sebuah wajah kota.

“Sebetulnya kami mengharapkan dengan Perda tersebut lebih lanjut diatur tentang pola yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut tanpa harus menggap bahwa kami adalah citra buruk bagi wajah kota,” terangnya.

Dengan adanya Perda tersebut, sambung Cepi, justru seharusnya dapat digagas penyediaan ruang-ruang bagi para musisi jalanan untuk berkreatifitas dan mencari nafkah. Perda tersebut sepatutnya mendorong terciptanya wadah untuk berkesenian.

Selain itu, Cepi pun mengecam para petugas yang dalam melakukan razia atau penjaringan kerap dibarengi dengan tindakan kekerasan.

“Begitupun dalam proses karantina atau pembinaan oleh pihak dinas sosial. Alat musik kami disita. Ketika kami ditangkap, kami akan disatukan dengan orang gila, kurang sehat atau sebagainnya. Bahkan pernah ada yang meninggal saat dikarantina. Kami diperlakukan seolah kami ini kriminal,” tuturnya.

“Oleh karena itu kami menuntut Pemkot Bandung untuk membina dan mengayomi para musisi jalanan,” pungkasnya

(muh/b)

Loading...

loading...

Feeds

DWP Jabar Gelar Pelatihan Budi Daya Tanaman Hias

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana …

Petugas Temukan Kompor Listrik di Lapas Banceuy

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Banceuy melakukan razia terhadap warga binaannya untuk menyikapi kejadian kejadian di masyarakat, …

Penerima Vaksinasi Masih Fleksibel

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Ketentuan siapa yang bisa menerima vaksin Covid-19, masih fleksibel. Pasalnya, belum ada hasil penelitian yang valid mengenai …

2.280 File Vaksin Sinovac Tiba

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Sebanyak 2.280 file vaksin telah tiba di Gudang Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, Kamis (25/2/2021). Vaksin Sinovac kiriman …

Pemkab Siapkan 1.000 Hektar Lahan

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Bupati Subang, H. Ruhimat menerima kunjungan kerja anggota DPR RI Komisi IV Dr. H Sutrisno, terkait program …