Perkenalkan Seni Keramik Tradisional Korea

PAMERAN KERAMIK : Sejumlah Pengunjung mengamati salah satu karya seni keramik dalam pameran Buncheong Seni Keremik Tradisional Korea di Galeri Soemardja, ITB, Kota Bandung, Selasa (10/3/2020).

PAMERAN KERAMIK : Sejumlah Pengunjung mengamati salah satu karya seni keramik dalam pameran Buncheong Seni Keremik Tradisional Korea di Galeri Soemardja, ITB, Kota Bandung, Selasa (10/3/2020).

POJOKBANDUNG.com, DEKAT dengan seni keramik sejak kecil, membawa Cho Jang-Hyun menjadi perupa handal. Karya-karya keramik yang minimalis dan kaya dengan unsur tradisional Korea, membuat seni keramik semakin populer diberbagai negara, termasuk Indonesia. Berlangsung di Galeri Soemardja Institut Teknologi Bandung (ITB), pameran tunggal Cho Jang-hyun menampilkan karya seni keramik yang beragam.


Asmudjo dan Sunyoung Oh sebagai kurator menerangkan bahwa bagi Cho Jan-hyung, seni keramik kontemporer dan seni rupa kontemporer merupakan dua hal terpisah. Meski pada kenyataannya, seni rupa kontemporer dan keramik adalah turunan dari seni rupa modern namun Cho tidak menolak adanya tumpang tindih persepsi tersebut.

Pada sisi lain Cho ragu jika karya-kqryanya ditempatkan sebagai contoh wilayah ‘abu-abu’ tersebut. “Dia sangat paham bahwa seni rupa kontemporer bersandar pada kekuatan isu dan representasi persoalan masa kini. Seni rupa kontemporer juga kerap mengabaikan keterampilan atau craftmanship warisan tradisi,” katanya pada catatan kuratorial di Galeri Soemardja ITB, Jalan Ganesha, Selasa (10/03/2020).

Bedanya pandangan ini disebabkan karya-karya Cho yang didasari oleh kecintaannya pada seni keramik tradisional Korea, khususnya yang dikenal dengan sebutan Buncheong. Cho paham bahwa penampilan karya-karyanya tidak sebangun dengan penampilan karya-karya seni rupa kontemporer pada umumnya.

Kendati karya-kafya Cho berbasis seni keramik, namun karya tersebut begitu personal bagi Cho. Pada pameran dengan judul ‘Southward-bound Buncheong’, Cho menghadirkan seni keramik yang mengangkat isu potensi warisan tradisional dalam konteks masa kini.

“Berbasis seni keramik tradisional, karya-karya Cho memang menjadi terlalu sublim dan menyembunyikan motif sesungguhnya dari sang seniman,” tutur Asmudjo. Bertahun-tahun Cho mendalami teknik teknik keramik tradisional Korea. Salah satu tempatnya belajar menggali keterampilan keramik tersebut adalah dari ayahnya, Cho Ki-jung.

Cho Ki-jung adalah salah satu living national treasure Korea pada masanya. Cho Ki-jung mendapat banyak penghargaan karena berhasil menemukan teknik Celadon Korea yang sempat hilang beberapa abad sebelumnya. Karena itu Cho merasa berkepentingan untuk meneruskan tradisi tersebut.

Menurut Cho, tradisi merupakan hal yang sangat penting. Identitas yang sudah melekat pada diri individu sejatinya akan terus dibawa sampai akhir hayat. Begitupun dengan Cho yang sejak kecil sudah kenal dekat dengan kerajinan keramik Buncheong.

Sebagai generasi penerus, Cho merasa berkewajiban untuk melanjutkan perjuangan ayahnya untuk memperkenalkan seni keramik tradisional ini ke seluruh dunia. Saat ini Cho dianggap telah selesai dengan penguasaan teknik keramik sesuai standar keramik tradisional Korea.

Karya-karyanya, sebagaimana yang ditampilkan di pameran ini lebih ditujukan untuk kepuasan estetik personalnya. “Sebagain masih menunjukan perfeksionis teknik, namun sebagian besar menunjukkan sentuhan personal, melalui efek-efek pembentukan dan glasir yang kadang dibiarkan lebih kasar dan tidak sempurna,” terang Asmudjo.

Berbagai efek yang menunjukkan keunikan tiap benda keramiknya diralat melalui upaya Cho memanfaatkan bahan-bahan lempung dan glasir langsung dari alam di sekitar studionya. Menurut Asmudjo, kesederhanaan, membumi dan tidak pretensius merupakan karakter dari seni keramik Cho.

Sebuah karya instalasi di tengah ruang pamer merupakan penekanan Cho mengenai pentingnya tradisi. Kain beludru yang menutup benda-benda seperti wadah di atas meja, menjadikan pengunjung bertanya-tanya bagaimana rupa dan material sesungguhnya dari wadah-wadah tersebut.

Karya tersebut seolah merepresentasikan situasi ketidakpahaman atau kehilangan sesuatu yang sesungguhnya telah atau pernah dialami individu. “Judul pameran ini seperti ajakan untuk kembali menggali potensi warisan tradisi, sebelum benar-benar punah dan tidak kita kenali lagi,” imbuh Asmudjo.

(fid/b)

 

Loading...

loading...

Feeds

Sampah Menumpuk di Pasar Gedebage

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Terjadi penumpukan sampah di Pasar Gedebage, Kota Bandung, Senin (17/5). Tumpukan sampah disebut terjadi menjelang lebaran, akibat …