Ekspresi KegelisahanTerhadap Masa Depan Bumi

Pengunjung mengamati salah satu karya seni dalam pameran Art of the Eart di Glaeri di Thee Huis Gallery, Dago Teahouse, Senin (9/3/2020).

Pengunjung mengamati salah satu karya seni dalam pameran Art of the Eart di Glaeri di Thee Huis Gallery, Dago Teahouse, Senin (9/3/2020).

POJOKBANDUNG.com, KEKHAWATIRAN tentang bumi di masa depan banyak dikisahkan di film-film apocalypse. Fiksi ilmiah yang mengisahkan alam ini dianggap bisa mengedukasi masyarakat tentang riskannya kondisi bumi yang semakin tua. Ini menjadi benang merah dari pameran dengan judul ’30×30 Art for the Earth’ yang berlangsung di Thee Huis Gallery, 7-17 Maret.


Kurator Thee Huis Gallery, Diyanto dalam keterangan kuratorial menerangkan Art of the Earth tidak digagas secara terburu-buru demi mendapatkan hasil pameran yang sesuai. Namun tujuan dari masing-masing karya menghasilkan benang merah yang bisa didapat pengunjung.

Batas ukuran yang ditentukan pada bidang gambaran, maupun dimensi yang dijadikan patokan bersama, kata Diyanto, bukanlah ketetapan yang membatasi ekplorasi. “Kecil itu ‘indah’ atau apapun yang analogi sehingga bisa dilekatkan padanya, tentu adalah serpihan penghargaan yang menyangkut estetika masing-masing karya,” katanya, Senin (09/03/2020).

Art of the Earth melibatkan 87 perupa dengan gabungan seni lukis dan instalasi. Kebanyakan, lukisan-lukisan yang dipajang menggambarkan kegelisahan akan kondisi bumi yang semakin memprihatinkan. Mulai dari pemanasan global, pepohona ditebang, sampai pemukiman padat penduduk.

Sekurangnya, ada tiga hal yang mau dipesankan lewat pameran ini. Pertama, gagasan mengenai ‘order teks’ yang menjadi modus penciptaan karya para perupa, kata Diyanto mereka nampak berhasrat untuk menelaah gambar yang jadi objek pameran.

Kedua, dalam banyak aspek, inisiatif untuk melakukan pameran bersifat ‘road show’ ini berupaya untuk menjalin ikatan emosional di antara para perupa yang tinggal dan bekerja di tempat berbeda. “Para perupa di sini sejak awal sudah menentukan apa masalah yang mau diangkat. Sehingga ketika eksekusi pengunjung bisa merasakan masalahnya dari setiap karya yang ditampilkan,” sambungnya.

Ketiga, di balik penggunaan batasan ukuran yakni 30×30 sentimeter pada dasarnya adalah tantangan sekaligus metaphor yang terbuka. Dalam batasan itu, setiap perupa yang terlibat harus mereduksi ego dan berupaya memaknai kembali cara pandang atas bidang gambar tidak berdasar skala.

Secara umum, hamparan karya-karya ini hadir dan menyapa kita dengan bahasa personal dan ekspresi yang berbeda. “Art of the Earth adalah alarm yang menginterupsi dan mengajak kita untuk segera meraih kesadaran (kolektif) baru untuk lebih peduli pada bumi dan semesta,” imbuhnya.

Perupa, Eva Febrianti menggambarkan kondisi hutan di Indonesia lewat lukisan berjudul ‘Hopes’. Dibuat tahun 2020, diatas kanvas Eva menggoreskan kuasnya menjadi gambaran humanis. Digambarkan dua buah jamur yang tetap hidup dengan seorang anak kecil dan peliharaan kelincinya. Naasnya, dibelakang jamur itu terjadi kebakaran hutan hebat.

Permalasahan lingkungan juga diangkat Yoga Bege dengan karyanya yang berjudul ‘Tebang Pohon Tanam Beton’. Sesuai judulnya, kondisi hamparan tanah yang seharusnya penuh pepohonan kini diganti dengan bangunan beton. Membuat kondisi semakin gersang.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds

Gubernur Jabar Siap Divaksin Covid-19

Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jabar menyatakan kesiapan menjadi relawan uji klinis vaksin COVID-19 …