Warga Siap Tanam Pohon Keras

Kepala BNPB, Doni Monardo bersama rombongan saat meninjau hulu Sungai Citarum di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung, Sabtu (22/2/2020).

Kepala BNPB, Doni Monardo bersama rombongan saat meninjau hulu Sungai Citarum di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung, Sabtu (22/2/2020).

POJOKBANDUNG.com, KERTASARI – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkejut, usai mengetahui di kawasan sekitar hulu Sungai Citarum hanya ditanami oleh pohon musiman.


Kepala BNPB,  Doni Monardo, mendapatkan informasi bahwa warga yang tinggal di sekitar hulu sungai hanya menanam tanaman semusim tanpa pohon keras, seperti kopi. Hal tersebut membuat karakteristik tanah menjadi labil, mudah longsor dan tidak menyerap air, sehingga sebagian air hujan mengalir ke hilir dan banjir tidak dapat dihindari.

“Bencana alam tidak boleh menjadi bencana sosial. Tanaman kopi adalah tanaman keras yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Karena kebutuhan kopi dalam negeri masih sangat tinggi dan masih ada beberapa yang impor.  Dengan demikian, gunakan bibit nomor satu agar masyarakat mendapatkan hasil yang baik. Masyarakat yang menanam dan masyarakat yang panen,” ungkap Doni saat wawancara di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung, Sabtu (22/2/2020).

Doni juga menekankan harus ada kesepakatan antara Perhutani dan PTPN dengan masyarakat. Kesepakatan yang dimaksud yaitu penanaman, panen dan kompensasi bagi hasil harus disepakati bersama.  “Sehingga alam terjaga, ekonomi masyarakat juga meningkat,” tegasnya.

Kawasan sekitar daerah aliran sungai (DAS) di Jawa Barat, khususnya Sungai Citarum, menjadi salah satu perhatian BNPB mengingat bencana banjir sering melanda beberapa kecamatan. Kecamatan yang sering dilanda bencana banjir yaitu Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang dan Majalaya. Salah satu pemicu terjadinya banjir yaitu konversi lahan di hulu Sungai Citarum.

Sementara itu, Kepala Desa Tarumajaya, Ahmad Iksan, mengatakan bahwa jika diganti dengan tanaman kopi, yang panen dua kali setahun, para buruh tersebut akan kesulitan secara ekonomi. Mereka yang umumnya bekerja di sektor penanaman sayur mendapatkan upah buruh tani setiap hari. Dengan demikian, dirinya berharap adanya penyiapan pekerjaan untuk para buruh tani yang jumlahnya sekitar 2.200 KK.

”Mohon bantuannya tidak hanya memikirkan bantuan bencana alam saja tetapi juga untuk mengatasi bencana sosial,” ujar Ahmad.

Senada dengan kepala desa, petani asal Desa Tarumajaya, Henggin Fadillah, menyampaikan perlunya solusi untuk menunjang mata pencaharian apabila mereka mengkombinasi tanaman di kawasan desa seluas 2.743 hektar itu, dengan tanaman selain sayur. ”Minimal buruh tani tidak kehilangan penghasilan,” harap Henggin.

Henggin berpendapat bahwa salah satu solusi yang dapat ditawarkan kepada warga, yaitu melalui pemanfaatan potensi alam untuk kawasan wisata alam. Pemberdayaan warga melalui wisata alam dapat menutup kesenjangan saat mereka menunggu panen.  Selain itu juga, akan ada potensi lapangan kerja di industri wisata pedesaan. Hal ini dapat menjadi tawaran apabila warga diharuskan menanam tamana keras seperti kopi atau lemon, yang membutuhkan jarak empat meter setiap pohonnya.

“Sehingga masih dapat juga menanam tanaman semusim,” pungkas Henggin.

(fik/b)

Loading...

loading...

Feeds

FIFGROUP Salurkan 75.510 Paket Sembako

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – PT Federal International Finance (FIFGROUP) yang merupakan bagian dari Astra Financial dan juga salah satu anak perusahaan …