Mengupas Makna Lain dari Kaleng Bekas

Pengunjung mengamati salah satu karya seni dalam pameran

Pengunjung mengamati salah satu karya seni dalam pameran "Ngindeuw" di Selasar Sunaryo Art Space, Jalan Bukit Pakar Timur, Kota Bandung, Rabu (19/2/2020).

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – MENURUT khazanah lokal bahasa Sunda, ngindeuw berarti memungut barang bekas. Selain menggambarkan proses memungut langsung objek dan material–yaitu kaleng bekas– dari tempat pemrosesannya, ngindeuw berhubungan juga dengan kecenderungan Arya yang ‘memungut’ gagasan berkarya dengan berkeliling dan mengamati lingkungan sekitar.


Penggalan catatan kuratorial ini merupakan benang merah dari pameran ‘Ngindeuw: Proyek Solo Arya Sudrajat’. Berlokasi di Selasar Sunaryo Art Spaca (SSAS) Jalan Bukit Timur nomor 100, pameran ngindeuw berlangsung pada 31 Januari sampai dengan 1 Maret.

Ketertarikan Arya terhadap barang bekas kaleng berawal saat ia mengikuti residen transit #4 (2018). Saat itu, Arya mencermati dan merespon secara artistik kaleng-kaleng cat bekas yang telah digunakan oleh para pelukis di Jelekong. Hal ini merupakan upaya Arya untuk memotret sisi lain kampung pelukis ini, tempat di mana ia lahir, besar dan berkesenian hingga sekarang.

Di dalam lukisannya, Arya seolah membingkai kaleng-kalengnya, memisahkannya dari lingkungan sekeliling, termasuk dari narasi yang melingkupinya. “Ngindeuw bagi Arya adalah proses sekaligus sebuah metafor,” kata kurator Danuh Tyas pada catatan kuratorial di ruang Bale Tonggoh, SSSA, Jalan Bukit Timur, Rabu (19/02).

Dalam pameran tunggal perdananya, Arya semakin mencermati karakter-karakter khas kaleng bekas, sekaligus melepaskannya dari asosiasi Jelekong, serta asosiasi yang lain. Melalui metode ngindeuw, Arya mencoba memberi nilai estetis pada kaleng-kaleng bekas tersebut yang diaplikasikan lewat lukisan, patung dan instalasi.

Puluhan karya mulai dari lukisan, instalasi, dan patung, Arya lebih menonjolkan pada perkara yang melekat di kaleng. Seperti bentuk, warna, karat, cacat, retak pada kaleng, menurut Arya bisa menjadi hal yang menarik perhatian.

Sementara, di dalam karya patung dan instalasi, kaleng merupakan material berkarya. “Arya mengenali kaleng sebagai sebuah material. Tentu sudah dia amati, melalui pengamatan itu akhirnya bisa ketemu kalau kaleng tidak cuma material tapi bisa juga jadi karya yang estetis,” sambungnya.

Ketertarikannya pada kaleng tergambar jelas melalui ragam jenis material kalengan yang digunakan. Pada beberapa instalasi yang dibuat, kaleng-kaleng bekas ini dipotong kecil memanjang. Seperti karya instalasi berjudul ‘Timbris #3’, lempengan kaleng bekas yang sudah dipress dicampur membentuk pajangan.

Kemudian, instalasi ‘Serabut #1’ tampak jadi perhatian utama pengunjung. Potongan kaleng bekas ini dipajang memanjang disalah satu bagian Bale Tonggoh. Dibuat tahun 2020, lempengan kaleng bekas tersebut menggambarkan banyaknya material kaleng bekas yang dibentuk layaknya serabut akar.

“Kaleng bekas, boleh saja memberikan makna semantik bagi sebagian orang. Tapi Arya mengesampingkan makna tersebut, penglihatan kita dibawa untuk mencermati detail yang mungkin ada pada sebuah kaleng bekas,” terangnya.

(fid/b)

 

CAPTION

TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG

MENGAMATI : Pengunjung mengamati salah satu karya seni dalam pameran “Ngindeuw” di Selasar Sunaryo Art Space, Jalan Bukit Pakar Timur, Kota Bandung, Rabu (19/2).

Loading...

loading...

Feeds

Tarif PPh Turun, WP Diimbau Segera Lapor SPT

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA–Sesuai Perppu 1 Tahun 2020 pemerintah telah menurunkan tarif pajak penghasilan badan dari sebelumnya sebesar 25 persen menjadi 22 …