Dalam Setahun, Sebelas Ribu Orang Mengidap Kanker

Sejumlah anak pengidap kanker beraktifitas di Yayasan Rumah Cinta Kanker Anak, Kota Bandung, Selasa (4/2/2020).

Sejumlah anak pengidap kanker beraktifitas di Yayasan Rumah Cinta Kanker Anak, Kota Bandung, Selasa (4/2/2020).

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Penyakit kanker berada diurutan kedua sebagai penyebab kematian terbesar di dunia. Lebih dari 9,6 juta orang dikabarkan meninggal setiap tahunnya. Hanya dalam rentang 2019, di RSHS Kota Bandung, terhitung 11.318 orang terdiagnosa kanker. Kanker payudara ditemukan sebagai kasus terbanyak di samping kanker serviks, leukimia, ovarium dan tiroid, nasofaring limfomua, kanker hati dan kanker prostat.


Dari total kasus yang tercatat, pasien perempuan berjumlah 7.468 pasien. Angka tersebut lebih banyak daripada laki-laki sekitar 3.850 pasien. Dalam segmen usia, tinjauan RSHS menunjukan adanya pergesaran pola penderita kanker yang kini cenderung mengarah pada usia muda. Faktor risiko perubahan gaya hidup ditengarai menjadi pemicu utama, ketimbang lingkungan atau genetik.

“Konsumsi alkohol, rokok, serta maraknya junkfood menjadi beberapa contoh dari sebab gaya hidup tak sehat,” papar Ketua Tim Penanganan Kanker RSHS, Maman Abdurrahman, Selasa (4/2/2020).

Dengan tingkat kematian yang sangat tinggi, kanker sama sekali tak bisa dianggap remeh. Karenanya, pada 4 Februari 2000 silam, dunia akhirnya menetapkan hari tersebut sebagai Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day). Tujuannya, menebar kesadaran untuk semua pihak guna bersungguh menekan angka kematian akibat kanker. Masyarakat dituntut semakian gencar mendeteksikan kasus sedari dini.

“Semakin cepat kasus ditemukan, prognosa akan semakin baik,” ujar Maman.

Di Kota Bandung, setidaknya terdapat 27 anak dari rentang usia 2-18 tahun yang kini berkumpul sebagai ‘pejuang kanker’ di Rumah Cinta Anak Kanker. Rumah singgah yang terletak di bilangan Jalan Bijaksana, Kelurahan Pasteur tersebut menjadi tempat sementara bagi mereka yang tengah menjalani masa pengobatan.

Dewi Nurjanah (45) yang lebih akrab disapa Ambu, menjadi pemprakarsa awal berdirinya rumah cinta. Menurut wanita kelahiran Garut tersebut, berdirinya Rumah Cinta Anak Kanker bermula dari rasa kehilangan sang buah hati akibat kanker mata pada 2012 lalu. Selepas kepergian anaknya, Ambu justru bertekad untuk terus membantu anak-anak penderita kanker dari manapun asalnya, terlebih mereka yang terbilang masyarakat tak mampu.

“Ini bentuk cinta rasa syukur saya kepada Tuhan, kepada kehidupan,” tutur Ambu saat ditemui Radar Bandung, di Rumah Cinta Anak Kanker, Selasa (4/2/2020).

Di rumah singgah tersebut, tutur Ambu, baik anak-anak juga orang tua, diberikan motivasi dan edukasi. Bagi penderita, selain dukungan materil, bantuan moril pun dinilai tak kalah penting untuk diberikan. Semangat dan harapan untuk bertahan, menurut Ambu, dapat disemai dengan kesadaran saling membantu.

“Tak sedikit orang tua atau anak yang putus asa. Maka di rumah ini kita berkumpul, menjadi keluarga. Saling bantu dengan apapun yang bisa dilakukan,” tuturnya.

Selama delapan tahun sejak berdirinya rumah singgah, aktivitas dijalankan dengan swadaya. Kegiatan operasional bersumber dana donatur. Ambu mengaku, semua anak dan orang tua yang singgah tidak dipungut biaya sepeser pun. Segala kebutuhan keseharian, seperti kebutuhan makan, mandi dan keperluan lainnya disediakan oleh rumah singgah.

Tak hanya itu, rumah singgah turut menanggung biaya pembelian obat bagi obat-obatan yang tidak ditanggung oleh BPJS. Satu ambulan pun disediakan untuk membantu akomodasi bagi mereka yang memerlukan penanganan darurat. Bahkan, sepenuturan Ambu, kadang kala ia ikut mengongkosi orang tua dan anak yang akan pulang ke daerah asalnya.

“Selama delapan tahun terakhir, sekitar 500 anak yang pernah singgah di Rumah Cinta Anak Kanker. Saat ini anak singgah berasal dari berbagai daerah, seperti Karawang, Majalengka, Tasikmalaya dan Lampung,” pungkasnya.

(cr4/b).

Loading...

loading...

Feeds