Kembali pada Fitrah dalam Seni Lukis

POJOKBANDUNG.com, NIRMANA – pada lingkup seni gambar selalu jadi hal dasar yang dipelajari. Baik itu oleh pelajar atau profesional seniman yang ingin coba berkreasi dengan seni lukis. Guna memperkenalkan gambar nirmana yang penuh arti, para pengajar nirmana dwimatra di kampus Institut Teknologi Nasional (ITENAS) menggelar pameran seni. Berjudul ‘Mana Rana’, pameran berlangsung di Ruang Segi Empat Jalan Raya Dago Goltf, pada 28 Januari – 4 Februari.


Ada sembilan pameris yang ikut berpameran di sini. Mereka adalah Bambang Arief, Delia Safira, Dini Cinda Kirana, Heny Haerany, Itsnataini Rahmadillah, Luki Lutvia, Puri Fidhini, Rani Lassmiati, dan Titie Rosbury. Para pameris dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITENAS ini mempresentasikan karya-karya berbasis dua dimensi yang menyoroti pentingnya posisi nirmana dua dimensi sebagai sebuah landasan.

Nirmana dianggap begitu esensial posisinya dalam proses perumusan solusi kreatif. “Nirmana menawarkan sentuhan estetis yang memperlihatkan sisi humanis dan fungsi-fungsi praktis juga utilitarian dari sebuah karya kreatif,” tulis kurator Ganjar Gumilar pada kuratorial di Ruang Segi Empat, Senin (3/02/2020).

Ganjar melanjutkan, pada proses pembelajaran nirmana, seseorang akan meninggalkan prasangka representasi yang sudah melekat sejak dini. Nirmana kemudian mengajak pengunjung untuk melihat dan memahami visualitas dalam tingkatan yang begitu dasar.

“Mengembalikan kita pada fitrah bentuk seperti titik, garis, bidang, ruang, penekanan, irama, kontras, dan lainnya. Karena semua bentuk tersebut pada nirmana bisa bercampur menjadi satu kesatuan,” sambungnya.

Sebagai sebuah pameran, Mana Rana mencoba untuk mengisolasi dan menyoroti pentingnya persoalan nirmana sebagai asas dan praktik kerja yang kreatif. Pameran ini sejatinya menawarkan perspektif yang khas karena justru kembali pada hal-hal yang mendasar, alih-alih spesifik membahas persoalan khusus.

Istilah mana rana dipilih untuk mencerminkan spirit yang hendak disampaikan. Diambil dari kata ‘mana’ yang bisa diartikan sebagai makna dan ‘rana’ yang bisa dimaknai sebagai komposisi yang seimbang. Paduan kata ini kemudian dimaknai secara cukup sublim dalam pameran ini dengan cara menampilkan ‘makna dari keseimbangan bentuk’ beserta peranannya dalam menjawab persoalan.

Karya-karya yang hadir dalam pameran ini pun menunjukan kekhususan dan keragaman ini. Karya seni, kerajinan, fotografi, lukisan, dan gambar, semuanya potensial untuk menjadi berbeda antara satu dan lainnya, namun tetap bersandar pada elemen rupa dasar, nirmana.

Bambang Arief mempresentasikan nirmana dengan karya instalasi berjudul ‘Imaji Garis-garis Alam’. Konsep dasar nirmana yang menyatukan semua elemen visual menjadi harmonis coba digambarkan Bambang diatas mixed media berukuran 130×90 sentimeter. Garis tak beraturan dengan warna-warna seperti merah tua, hijau, biru muda, putih, hitam, cokelat, dan lainnya bercampur dan hanya dipisahkan oleh sebuah garis pendek tak berbentuk.

Tidak melulu gambar atau foto, karya berjudul ‘Vigorous’ mempresentasikan nirmana dwimatra pada pajangan macrame dan permadani. Karya instalasi milik Delia Safira ini terlihat paling berbeda karena mengusung seni macrame.

Wanita kelahiran Bandung ini menempuh pendidikan di kriya tekstil FSRD ITB ITB dan bekerja di sebuah perusahaan fashion retail. Tujuh tahun menggeluti bidang fesyen dan tekstil, tahun 2017 Delia mencoba kembali ke dunia kriya dengan mulai mendalami seni macrame. Bagi Delia, sejak dulu macrame dan permadani merupakan teknik yang menarik untuk dieksplorasi.

Kemudian, teknik nirmana lain diaplikasikan pada karya seni lukis milik Puri Fidhini. Lahir di Bandung pada 8 Januari 1992, Puri mengeksplor berbagai visual pada karya diatas kanvas berukuran 90×90 sentimeter. Berjudul ‘My Hus is Your Hus’ #2, gambar ini menampilkan garis, titik, warna, ruang, dan tekstur menjadi satu. Tampak aesthetic dan cantik, di sini ia memberi warna pink muda pada bagian luar ruang gambar.

“Pameran Mana Rana kembali mengingatkan kita pada pentingnya kembali pada ‘fitrah’, kembali pada yang esensial, dan kembali pada hal-hal mendasar,” tutupnya.

(fid/b)

Loading...

loading...

Feeds