Wajah Baru Museum Geologi Bandung

Pengunjung melihat koleksi Museum Geologi yang hadir dengan konsep baru bertajuk 'Sejarah Kehidupan'. (Nur Fidhiah Shabrina/RADAR BANDUNG)

Pengunjung melihat koleksi Museum Geologi yang hadir dengan konsep baru bertajuk 'Sejarah Kehidupan'. (Nur Fidhiah Shabrina/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BERWISATA – di Kota Bandung tidak melulu kuliner dan fesyen saja. Wisata sejarah mengenal asal usul manusia dan bumi juga bisa jadi destinasi pariwisata yang menyenangkan. Museum Geologi sebagai salah satu museum terbesar dan terlengkap di Kota Bandung kini hadir dengan wajah baru yang menyegarkan.


Sejak dilakukan revitalisasi ruang pamer ‘Sejarah Kehidupan’ diawal Juni 2019, salah satu ruangan pamer ini memang jadi yang paling favorit. Ruang pamer ini berisi berbagai bukti kehidupan masa lampau, terutama koleksi fosil makhluk hidup dari berbagai masa.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar menuturkan revitalisasi ini sebagai bentuk pengembangan museum supaya kembali pada fungsi museum sebagai tempat wisata yang mengedukasi. Maka dari itu tampilan ruang pamer ‘Sejarah Kehidupan’ kini lebih nyaman dan berbasis teknologi yang memudahkan pengunjung museum dalam mendapatkan informasi.

“Revitalisasi ini untuk menyajikan tampilan museum yang lebih nyaman kemudian kami juga terus berbenah untuk menggali dan merekonstruksi sumber yang bisa menginformasikan menjadi sejarah kegeologian,” sambungnya.

Dalam tata pamer yang baru, pengunjung diajak untuk memahami perkembangan kehidupan di bumi secara kronologis, mulai dari proses awal terbentuknya bumi, terbentuknya air di bumi, munculnya makhluk hidup, sampai ke masa kini melalui media cetak, elektronik, maupun dari koleksi yang tersaji, termasuk koleksi baru Museum Geologi yang tidak pernah dipamerkan sebelumnya.

Berbagai koleksi proses awal terbentuknya bumi dengan lengkap bisa ditemukan di sini. Mulai dari jenis bebatuan, makhluk yang pertama tinggal di bumi, berbagai fosil hewan purba, seperti dinosaurus dan t-rex. Kemudian proses evolusi bumi yang terbagi menjadi empat, yaitu azoikum, palaezoikum, mesozoikum, dan neozoikum.

Rudy menambahkan bangunan Museum Geologi termasuk sebagai bangunan heritage sehingga sehingga terkesan tua dan menyeramkan. Untuk mengubah stigma tersebut, pihak museum membuat museum sebagai tempat yang menyenangkan, salah satunya dengan penyegaran ruang pamer.

Diungkapkan, jumlah pengunjung Museum Geologi setiap tahunnya mencapai 600 ribu dan masih didominasi kunjungan domestik. Kerap dijadikan salah satu tempat study tour anak sekolah, museum ini memang tidak pernah sepi.

Setelah revitalisasi, Rudy menargetkan satu juta pengunjung setiap tahun ke Museum Geologi. Tentunya dengan pelayanan dan program museum yang lebih variatif. Untuk merevitalisasi ruang pamer ‘Sejarah Kehidupan’, pihaknya menyiapkan anggaran sebesar Rp 5,3 miliar.

Pemanfaatan media elektronik juga akan meningkatkan jangkauan, efisiensi, dan efektivitas dalam edukasi atau penyampaian informasi koleksi dan keologian kepada pengunjung. Pelayanan di ruang ini juga akan makin ditingkatkan dengan pelaksanaan revitalisasi tahap lanjut yang akan berfokus pada kenyamanan bagi pengunjung dalam mewujudkan Museum Geologi yang ramah disabilitas.

Kedepannya, bukan cuma ruang pamer ini saja yang akan dibenahi, bangunan museum disamping timur rencananya akan jadi ruang penyimpanan katalog geologi Indonesia. Ada 11 storage yang sudah disimpan di sana, baik fosil atau batuan.

Dengan revitalisasi, Museum Geologi akan semakin baik menjalankan tugasnya dalam melakukan pengkajian, pendidikan, dan kesenangan sesuai amanat perundangan. Rekonstruksi fosil Celebochoerus heekereni adalah salah satu hasil kajian Musuem Geologi yang kemudian disajikan diruang ‘Sejarah kehidupan’.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds