Teknologi yang Ditawarkan Curug Jompong Belum Maksimal dalam Mengatasi Banjir

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat meninjau lokasi banjir di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Selasa (28/1/2020). (dok. Humas Pemprov Jabar)

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat meninjau lokasi banjir di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Selasa (28/1/2020). (dok. Humas Pemprov Jabar)

POJOKBANDUNG.com, KAB.BANDUNG-Proyek pengendali air untuk mengantisipasi tidak bisa hanya mengandalkan curug jompong. Proyek tersebut merupakan bagian dari sistem yang perlu pendamping utuk memaksimalkan fungsinya.


Berdasarkan catatan Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, banjir masih merendam enam kecamatan di Kabupaten Bandung. Enam kecamatan tersebut meliputi Kecamatan Baleendah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kecamatan Bojongsoang, Kecamatan Rancaekek, Kecamatan Majalaya dan Kecamatan Ciparay.

Sebanyak 18.046 KK atau 59.917 jiwa terdampak banjir dengan ketinggian muka air rata-rata 10-200 sentimeter. Banjir memaksa 1.454 KK atau 3.882 jiwa mengungsi.

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil mengaku terus berupaya menangani dan mengendalikan banjir, serta pemenuhan kebutuhan pengungsi di Kabupaten Bandung. Meski demikian ia mengaku teknologi yang ditawarkan curug jompong belum maksimal dalam mengatasi banjir.

“Kami tidak tinggal diam, tetapi kalau disebut 100 persen bebas saya kira tidak boleh takabur lah,” kata Ridwan Kamil saat meninjau lokasi banjir di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Selasa (28/1/2020).

Dia berharap banjir dapat surut pada minggu ini dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan normal. Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat akan membangun sejumlah infrastruktur pengendali banjir. Salah satunya adalah floodway Cisangkuy.

“Jadi kalau dibilang Curug Jompong (Terowongan Nanjung) satu-satunya solusi mengatasi banjir itu keliru, tapi dia bagian dari sistem,” katanya.

Setelah Terowongan Nanjung, pemerintah akan membangun kolam retensi di Kelurahan Andir dan sodetan (floodway) Cisangkuy. Keberadaan floodway disebut bisa mengatasi air yang menggenang Baleendah dan Dayeuhkolot sebanyak 90 persen.

“Jadi, kami mohon maaf dengan kerja keras di tahun 2020 kejadian seperti ini dimasa depan bisa jauh lebih berkurang,” imbuhnya.

Belum maksimalnya curug jompong diakui oleh Bupati Bandung, Dadang M. Naser. Ia mengaku terus berupaya mengatasi pengurangan banjir tersebut dengan membebasakan lahan di sejumlah wilayah untuk dijadikan kolam retensi tambahan.

“Kami beli juga lahan untuk mengaktifkan Situ Kamojang. Di Majalaya kami juga bebaskan lima hektar lahan untuk dijadikan kolam retensi juga yang nantinya berfungsi sebagai pengurangan banjir di Majalaya dan sekitarnya,” kata dia.

Selain itu, Pemkab Bandung juga tengah mendorong pemerintah untuk segera mempercepat pembangunan Situ Andir. Pasalnya, Pemkab Bandung sudah membebaskan lahan seluas 25 hektar untuk pembangungan Situ Andir.  Keinginannya itu akan disampaikan langsung ke Presiden Joko Widodo agar segera terealisasi.

Menurutnya, pengurangan banjir di Kabupaten Bandung tidak bisa hanya dilakukan dengan cara teknis saja seperti pembangunan kolam retensi, namun harus ada sinergitas dengan seluruh pihak, termasuk masyarakat sendiri.

“Dari pola penanaman, pola buang sampah, penataan lahan kritis dan lainnya, itu kan perlu kerjasama dengan segala pihak. Jadi banjir bisa berkurang jika semuanya saling bersinergi,” tutur Dadang.

(cr1)

Loading...

loading...

Feeds

Sampah Menumpuk di Pasar Gedebage

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Terjadi penumpukan sampah di Pasar Gedebage, Kota Bandung, Senin (17/5). Tumpukan sampah disebut terjadi menjelang lebaran, akibat …