Tim Dosen Universitas Widyatama Latih Warga Derwati

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT : Pelatihan peningkatan pengetahuan pengelolaan sampah anorganik menjadi aneka kreasi daur ulang bagi ibu rumah tangga dan remaja putri di Kecamatan Rancasari, Kelurahan Derwati. (Foto: IST)

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT : Pelatihan peningkatan pengetahuan pengelolaan sampah anorganik menjadi aneka kreasi daur ulang bagi ibu rumah tangga dan remaja putri di Kecamatan Rancasari, Kelurahan Derwati. (Foto: IST)

Secara umum jenis sampah dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu sampah organik/basah dan sampah anorganik/kering.Seiring meningkatnya jumlah penduduk maka volume sampah di lingkungan juga ikut bertambah.Keberadaan sampah dapat bersumber dari rumah tangga, kegiatan pertanian, kegiatan pembangunan dan pemugaran gedung, daerah perdagangan, maupun lembaga pendidikan.Sampah rumah tangga merupakan salah satu sumber sampah yang cukup besar peranannya dalam pencemaran lingkungan.


Pemerintah Kota Bandung telah menerapkan program penanganan sampah melalui program Kang Pisman (Kurangi Pisahkan Manfaatkan). Berbagai pihak telah mendukung terhadap Program Kang Pisman ini, dan diharapkan akan diimplementasikan oleh berbagai pihak hingga ke seluruh RT-RW di Kota Bandung.

Pemkot Bandung pun telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) No 17 Tahun 2012 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik. Dari berbagai sumber dikatakan bahwa untuk menuju Zero Waste, dapat dilakukan dengan strategi bahwa “sampah dari warga, diolah warga dan dimanfaatkan warga” melalui Program Kang Pisman yakni :

KANG (Kurangi) : Kurangi penggunaan semua yang terbuat dari bahan plastik dan bahan lainnya yang sulit diurai oleh alam, seperti kantong plastik, botol/gelas air mineral dll.

Untuk penggunaan bahan plastik kurangi dengan :

  1. Mengganti kantong plastik dengan kantong jinjing/tote bag atau kantong lipat yang terbuat dari kain kanvas yg dapat dipakai berulang-ulang.Gunakan sedotan dari bambu, atau kaca, selain bisa dibawa ke mana-mana, sedotan ini juga lebih ramah lingkungan.
  2. Gunakan sedotan dari bambu, atau kaca, selain bisa dibawa ke mana-mana, sedotan ini juga lebih ramah lingkungan.
  3. Membawa kotak makan dan tempat minum sendiri, juga bawa sendok dan garpu sendiri.
  4. Mengurangi/tidak menggunakan “peralatan sekali pakai” yang umumnya berbahan plastik krn merusak/berbahaya bagi kelestarian lingkungan.
  5. Tidak menggunakan cotton buds bergagang plastik, gunakan yg bergagang karton

PIS (Pisahkan) : Pisahkan sampah organik, sampah anorganik daur ulang dan sampah sisanya / B3 (bahan beracun berbahaya)

MAN (Manfaatkan) : Kelola sampah organik dengan menggunakan metode komposter, biopori dan takakura serta untuk sampah anorganik yang bisa didaur ulang serahkan ke pengepul atau bank sampah.

Program tersebut guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah yang masih minim sampai saat ini. Padahal sampah yang tidak dikelola bisa berdampak buruk terhadap lingkungan. Pemerintah Republik Indonesia sudah menetapkan UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang menyatakan bahwa masyarakat harus ikut berpartisipasi dan berperan aktif untuk mendukung program pemerintah dalam pengelolaan sampah. Salah satu upaya yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat adalah dengan memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai sehingga dapat memberikan keuntungan untuk masyarakat tersebut.

(azm/ags)

Loading...

loading...

Feeds