Tim Dosen Universitas Widyatama Latih Warga Derwati

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT : Pelatihan peningkatan pengetahuan pengelolaan sampah anorganik menjadi aneka kreasi daur ulang bagi ibu rumah tangga dan remaja putri di Kecamatan Rancasari, Kelurahan Derwati. (Foto: IST)

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT : Pelatihan peningkatan pengetahuan pengelolaan sampah anorganik menjadi aneka kreasi daur ulang bagi ibu rumah tangga dan remaja putri di Kecamatan Rancasari, Kelurahan Derwati. (Foto: IST)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Tim dosen Universitas Widyatama yang diketuai oleh Neneng Susanti S.M.B., M.M., berupaya meningkatan pengetahuan pengelolaan sampah anorganik menjadi aneka kreasi daur ulang memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai.


Neneng Susanti S.M.B., M.M., mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan ibu-ibu PKK dan remaja putri Kelurahan Derwati Kecamatan Rancasari Kota Bandung. ”Sumber dana berasal dari LP2M Universitas Widyatama dengan mengadakan pelatihan dan pengetahuan pengelolaan sampah di daerah tersebutm,” ujar Neneng, Selasa (7/1).

Menurut Neneng, metode yang dilakukan dalam pelatihan ini adalah dengan memilah sampah organik dan anorganik.

”Sampah anorganik yang memiliki nilai seperti botol plastik, piringan CD,dan kemasan plastik diolah menjadi bahan-bahan prakarya sehingga menjadi sesuatu yang lebih bernilai dan bermanfaat. Misalnya, botol plastik dan piringan CD dibuat menjadi vas bunga atau pot tanaman. Pot tanaman tersebut diisi dengan tanaman yang sesuai ukurannya seperti kaktus dan bonsai bisa lebih bernilai dan bisa dijual dengan harga Rp. 25.000,00,” tutur Neneng.

”Hal ini bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para ibu dan remaja putri di daerah tersebut. Adanya hasil ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sampah di sekitarnya,” sambung Neneng.

Permasalahan sampah merupakan hal yang krusial. Bahkan, dapat diartikan sebagai masalah kultural karena dampaknya mengenai berbagai sisi kehidupan, terutama di kota besar. Berdasarkan perkiraan,volume sampah yang di hasilkan oleh manusia rata-rata sekitar 0,5 kg/perkapita/hari,sehingga untuk kota besar seperti Jakarta yang memiliki penduduk sekitar 10 juta orang menghasilkan sampah sekitar 5000 ton/hari. Bila tidak cepat ditangani secara benar, maka kota-kota besar tersebut akan tenggelam dalam timbunan sampah berbarengan dengan segala dampak negatif yang ditimbulkannya seperti pencemaran air, udara, tanah, dan sumber penyakit.

Banyak kota yang maju peradabannya di dunia sudah mengurangi dan memisahkan sampah sebagai bagian dari keseharian masyarakatnya. Kota Bandung memulai inisiatif yang sama di tahun 2018 ini. Kota Bandung meluncurkan sebuah gerakan, kolaborasi antara pemerintah, warga, swasta dan lainnya dalam membangun peradaban baru pengelolaan sampah yang lebih maju melalui upaya KANG (Kurangi) PIS (Pisahkan) MAN (Manfaatkan) Sampah. Gerakan ini adalah wujud NyaahKaBandung yang sudah semakin bersih dan kita sedang naik level dengan gerakan Kang Pisman.

Terkait dengan Gerakan Kang Pisman, saat ini masyarakat belum menyadari akan bahaya sampah karena masih terangkut dan masih tertampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Namun apa yang terjadi jika TPA Sarimukti ditutup, bagaimana dengan produksi sampah di Kota Bandung setiap harinya mencapai 1.500 ton atau setara dengan luas lapangan bola dengan ketinggian 7 cm.

Loading...

loading...

Feeds