Tanam Pohon Gagal, Ketua PDIP Jabar: Itu Pakai Pendekatan Proyek

Ketua PDIP Jabar Ono Surono (kiri) saat memberikan keterangan pers pada acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema:

Ketua PDIP Jabar Ono Surono (kiri) saat memberikan keterangan pers pada acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema: "Hutan sebagai Simbol Peradaban" di Hotel Astrilia Bandung pada Jumat (13/12/2019).

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Gerakan menanaman pohon yang dinamai Gerhan (Gerakan Rehabilitasi dan Lahan) periode 1999-2004 dinilai gagal total. PDIP Jabar menelisik kondisi tersebut sama dengan keadaan saat ini, karena menggunakan pendekatan proyek semata.


Tak dipungkiri, bencana alam yang melanda Jawa Barat tidak kunjung tuntas bahkan makin parah. Namun bercermin dari kegagalan itu, Ketua PDIP Jabar Ono Surono mengevaluasi kesalahan masa lalu dan sekarang dengan resep ala Banteng Moncong Putih.

Kepada Pojokbandung, Ono menceritakan, dahulu kita mengenal Gerhan yakni Gerakan Rehabilitasi dan Lahan yang sangat dibanggakan di masa 1999-2004. Namun, selama periode itu tidak terjadi perubahan sama sekali dengan lingkungannya. “Ada yang salah cara pendekatannya. Pasti mereka menggunakan pendekatan proyek,” tegas Ono kepada Pojokbandung usai acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema: “Hutan sebagai Simbol Peradaban” di Hotel Astrilia Bandung pada Jumat (13/12/2019).

BACA JUGA: Tanam Pohon Memble, PDIP Jabar Gregetan, Ini Alasannya

Menurut Ono, pendekatan proyek hanya asal pengadaan bibit, pena naman pohon dan dibayar, bahkan tidak ada pemeliharaan dan tanggungjawabnya. “Mungkin selama ini yang terjadi tidak muncul suatu program yang benar-benar menanam dengan melibatkan masyarakat,” katanya.

Dengan kondisi sekarang ini, menurut Ono, tidak jauh beda dengan periode 1999-2004 yang menggunakan pendekatan proyek. “Makanya perlu ditelusuri secara mendalam, kenapa saat ini banyak tanam pohon tetapi bencana tetap ada,” ujar Ono.

Meski demikian, Ono ingin mengubah kegagalan itu dengan program yang melibatkan semua unsur, bahkan penanaman setiap pohon itu terdata di sebuah aplikasi. “Langkah kami ini akan kami terapkan seperti masyarakat harus diberi kewajiban mengawasi dan memastikan bahwa pohon itu tidak mati,” jelasnya.

Dengan melibatkan masyarakat secara keseluruhan dalam menanam pohon menjadi harapan terbesar agar lingkungan menjadi terpelihara. “Harapan itu misalnya kita mulai dari hulu atau secara total DAS Citarum di 1.200 desa ditanam pohon. Tentunya dengan melibatkan kepala desa dan masyarakat sehingga sama-sama menjaga dan ini demi kepentingan semua nantinya,” ungkapnya.

(apt)

Loading...

loading...

Feeds