Menilik Gaya Busana yang Menghiasi 2020

Model berjalan memamerkan koleksi pakaian dalam acara 23 Fashion District. (Nur Fidhiah Shabrina/RADAR BANDUNG)

Model berjalan memamerkan koleksi pakaian dalam acara 23 Fashion District. (Nur Fidhiah Shabrina/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, TAHUN 2020 tinggal menghitung hari. Berbagai trend satu per satu dikeluarkan berbagai perusahaan, mulai dari industri fesyen, wedding, sampai dengan properti. Bandung sebagai pusat fesyen Indonesia tidak mau kalah menghadirkan mode baru. Diprediksi, sustainable fesyen dengan keragaman ready to wear akan jadi highlightnya.


Melalui 23 Fashion District yang merupakan perhelatan mode terbesar pertama di Kota Bandung, di sini para desainer berkesempatan mengeluarkan karyanya dengan tema dan gaya yang sudah disepakati. Digelar pada 6-8 Desember, 23 Fashion District menghadirkan rangkaian parade busana karya lebih dari 50 desainer mode Indonesia yang mewakili busana mulai dari urban wear, modest wear, dan evening wear.

Diantaranya desainer dan brand dari Danjyo Hiyoji, Alleira Batik, Andreas Lim, Bateeq, Sofie, Imaji Studio, Etu, Lekat Dua, Ferry Sunarto, Harry Ibrahim, Deden Siswanto, Irna Mutiara, Ivan Gunawan, Lenny Agustin, Weda Githa, Hannie Hananto, Nuniek Mawardi, Ariy Arka, dan lainnya.

Bekerja sama dengan Indonesian Fashion Chamber (IFC), parade fesyen 23 Fashion District sudah dimulai sejak tahun 2017. “Kami mengangkat inspirasi atau kultur lokal serta mengacu pada perkembangan trend terkini, sehingga dapat mengembalikan potensi Bandung sebagai sentra produksi dan belanja fesyen, sekaligus sebagai acuan tren fesyen Indonesia,” kata National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC), Ali Charisma di 23 Paskal Bandung, belum lama ini.

Mengacu pada perkembangan Indonesia Trend Forecasting 2019/2020, kepedulian terhadap fesyen berkelanjutan atau sustainable fashion dipilih sebagai tema utama. Sejalan dengan isu yang tengah menjadi perhatian dunia, Ali dan para desainer sepakat membuat fesyen yang tidak lekang waktu, sehingga bisa memperpanjang masa pakai sebuah pakaian. Dengan begitu potensi Bandung sebagai sentra belanja, produkai, dan tren fesyen berkelanjutan akan semakin kuat.

Ali menambahkan pada perhelatan fesyen ini mereka tidak cuma sekadar menampilkan pakaian-pakaian sustainable yang modern, ada banyak pesan di setiap pakaian dengan motif dan potongan yang berbeda. “Mengusung tema sustainable fesyen mari kita peduli pakaian yang kita gunakan. Menggunakan pakaian tidak cuma menutupi aurat, fungsinya apakah bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan bukan tugas desainer saja,” jelasnya.

Aninda Nazmi, salah satu pelaku fesyen yang ikut mengeluarkan trend 2020 dengan meluncurkan koleksi busana dengan judul ‘Dune’. Desainer pemilik brand ‘Nazmi’ ini terinspirasi oleh undakan landskap gumuk pasir yang tertata alami oleh angin dan menghasilkan hamparan layer-layer asimetris yang indah di kala senja.

Sand dunes, asimetris dan bentuk lengkungan bergama dipermanis dengan pilihan warna mustard, sand, tembaga, dan hitam dengan layer-layer kain yang di bentuk menggunakan teknik laser cut. Sebagai detail, Aninda memberikan aksesoris akrilik sisa industri perikanan yang melengkapi tampilan busana ini. Gaya ini sekaligus menjadi salah satu supaya Aninda menuju arah sustainable fesyen yang diusung oleh Nazmi.

Beda halnya dengan ‘Rengganis’ yang mengeluarkan koleksi dengan judul ‘Passage to Spice Island’. Mengambil benang merah wanita-wanita di masa penjajahan Portugis, Rengganis mengatakan sang penjelajah di kala itu adalah wanita yang fashionable dan menciptakan gaya tersendiri yang menggabungkan antara pakaian ‘folk’ Portugis dengan inspirasi dari perjalanannya.

Maka di koleksi ready to wear ini tampak sentuhan gaya bohemian yang disederhanakan (maxi skirt, puffed sleeves, ruffles, floral embroidery) dilengkapi dengan beberapa elemen yang menampilkan jiwa petualang. Elemen ini dia tampilkan seperti pada jaket dan celana dengan detail kantong cargo.

Tentunya, Rengganis tetap mengangkat bordir tangan dan wastra (kain tradisional) Indonesia. Kali ini bordirnya bermotifkan berbagai tanaman rempah seperti pala, lada, bunga Lawang, kunyit, kayu manis, dan cengkeh, lalu dipadukan dengan batik tulis katun pewarna alam dari Bayat, Jawa Tengah. Material lain yang digunakan adalah katun, linen, dan rayon polos dengan skema warna dasar nuansa netral kecoklatan, krem dan hitam.

“Koleksi ini merupakan salah satu perwujudan Trend Singularity 2019/2020 yang bertemakan Svarga (keindahan spiritual dan warisan tradisi), dengan subtema Couture Boho,” kata desainer Riri Rengganis.

igami menjadi tema utama dari koleksi desainer Nuniek Mawardi. Seni ini merupakan sebuah seni tradisional yang diperkenalkan di Tiongkok oleh Ts’ai Lun di abad pertama tahun 105. Di Jepang, origami menjadi suatu cara memisahkan masyarakat golongan atas dan bawah. Origami berasal dari kertas dan dalam proses regenerasi origanus pun bisa diterapkan ke kain.

Desainer asal Bandung ini menerapkan konsep regenerasi origami kedalam koleksinya untuk menghasilkan kesan bersih, tegas, dan avantgarde dalam pandangan desain. Nuniek memanfaatkan material ramah lingkungan dan material sisa tanpa harus dalam bentuk datar atau 2 dimensi, tapi bisa juga dalam bentuk dimensi lebih yaitu origami.

“Koleksi kali ini saya mengambil warna-warna down to earth dan bersiluetkan A dan H line. Bahan yang digunakan adalah foal, cotton, linen, raw silk, velvet, dan sedikit nylon,” terangnya.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds