Unpas Jadi Tuan Rumah GAJE ke 10

KONFERENSI: Sejumlah perwakilan delegasi mencoba memainkan alat musik bonang saat prosesi penutupan Konferensi 10th Gaje World Wide Conference di Kantor Paguyuban Pasundan, Jalan Sumatera, Kota Bandung, Minggu (8/12/2019).
(TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

KONFERENSI: Sejumlah perwakilan delegasi mencoba memainkan alat musik bonang saat prosesi penutupan Konferensi 10th Gaje World Wide Conference di Kantor Paguyuban Pasundan, Jalan Sumatera, Kota Bandung, Minggu (8/12/2019). (TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Negara yang tergabung dalam Global Alliance For Justice Education (GAJE), bicarakan metode dan merealisasikan pembelaan hukum dan produk hukum untuk masyarakat termaginalkan.
Tahun ini, Kota Bandung tepatnya Fakultas Hukum Univeritas Pasundan (FH Unpas) menjadi tuan rumah pertemun bergengsi yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali itu yang diselenggarakan mulai 4 – 10 Desember 2019
.


Menurut Rektor Unpas, Prof. Dr. H. Eddy Jusuf, wakil paling banyak datang dari negara-negara dari Ameri dan Eropa.

“Ternyata yang membuat kita kagum adalah ditengah masyarakat di negara yang disebutkan indovidualisnya tinggi seperti Amerika dan Eropa, justru pada pertemuan GAJE tahun ini, kirimkan wakil terbanyak,” ujar Edy yang ditemui di sela Gala Dinner GAJE di Taman Badak Putih, Balai Kota Pemkot Bandung, Jalan Wastu Kencana, Sabtu (8/12/2019) malam.

Menurut Edy, dari 52 negara yang menjadi anggota GAJE, 48 negara diantaranya hadir dan USA menjadi negara dengan peserta terbanyak, selain Indonesia sebagai tuan rumah.
Dengan adanya acara ini, Edy berharap bisa membawa hasil bagi kaum termajinalkan.

“Semoga apa yang dihasilkan dalam GAJE di Bandung tahun ini bisa membawa hasil dan dampak positif khususnya bagi masyarakat dan negara termaginalkan khususnya dalam penuntutan hak azasi dan kesadaran hukum,” harapnya.

Menurut Edy, GAJE merupakan organisasi yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dunia, dari mulai aktivis, pendidikan dan akademisi serta warga biasa.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum (FH) UNPAS, Dr. Anthon Freddy Susanto S.H M.Hum menyebutkan, ada beberapa negara yang tidak mengirimkan delegasinya.

“Hanya 4 yang tidak hadir dan salah satunya tidak bisa masuk ke Indonesia karena memang pihak Imigrasi menolak dan terpaksa kami pun menolaknya yakni dari Israel,” ujarnya di tempat yang sama.

Menurut Anton, acara ini lebih memfokus bagaimana pendidikan hak asasi dan hukum dalam penerapannya di dunia pendidikanya khususnya di kaum marginal.

“Jadi peserta mendatangi langsung bukan hanya mempresentasikan ide dan gagasan mereka dalam paper. Namun kami mengajak bagaimana untuk terjun langsung kepada masyarakat kaum marginal seperti disabiltas atau ke lab hukum Unpas yang memang banyak menangani kasus – kasus hukum kaum marginal,” tegas Anton.

Anton menegaskan Gala dinner yang diselenggarakan Unpas dan Pemkot Bandung, bukan hanya jamuan makan malam, namun juga memperkenalkan apa saja tradisi kuliner dan juga kebudayaan negara peserta GAJE dan tentunya kebudayaan masyarakat Pasundan.“Dan salah satunya kami kenalkan angklung yang memang sangat diminati oleh orang luar negeri. Dan selalu kami kenalkan di luar negeri juga dan mereka memang cukup senang bermain angklung ini. Apalagi banyak dari mereka yang memang baru datang ke Indonesia dan Bandung,” tambah Anton.Sementara itu, Perwakilan Pemkot Bandung yakni Asisten Daerah I, Priana Wirasaputra, menyampaikan terimasihnya kepada Unpas karena sudah menjadi tuan rumah GAJE ke 10.

“Pemkot mengucapkan terimasih dan kehormatan karena Kota Bandung menjadi tuan rumah dalam konferensi yang diikuti puluhan negara luar ini. Kami berharap kedepannya hasil dari konferensi ini bisa berguna dan bermanfaat bagiw arga Bandung khususnya,” jelasnya.Selain itu dijadikannya Bandung sebagai tuan rumah GAJE memberikan dampak positif bagi kota Bandung juga memberikan kontribusi pariwisata untuk Kota Bandung.

“Dan tentunya promosi Kota Bandung nantinya untuk di Luar Negeri melalui para peserta GAJE dari puluhan negara ini,” harapnya.Sementara itu peserta asal Slovakia, Maria Havelkova mengungkapkan, bahwa ia mengikuti seminar ini sebagai delegasi untuk mengenal tentang hukum bagi kaum marginal, tentang masyarakat miskin dan isu global.“Dimana kami juga tergabung dalam klinik organisasi hukum dan NGO sehingga perlu untuk mendiskusikan program, sebagai mahasiwi hukum saya juga ingin membangun kepedulian kepada kaum marginal, seperti tunawisma dan lainnya,” terangnya.

Adapun negara yang menghadiri acara ini meliputi Austria, Australia, Banglades, Belarusia Bulgaria, Brazil, Kamboja, Kanada, Kolombia, Kroasia, Chez Republik, Mesir, Ethiopia, Perancis, Ganbia, Jerman, India, Indonesia, Iran, Irlandia, Itali, Malawi, Malaysia, Meksiko, Modldova, myanmar Nigeria, Pakistan, Afrika Selatan, USA, Inggris, Rusia Zimbabwe dan lainnya.

(mur)

Loading...

loading...

Feeds