Wawasan Kebangsaan Penyeimbang Nilai Hidup di Tengah Era Industri 4.0

Anggota MPR Ledia Hanifa Amaliah menyampaikan paparannya dalam Sosialisasi Empat Pilar di Bumi Aher, Pasir Impun, Bandung. Foto/Dok.Ledia Hanifa Amaliah

Anggota MPR Ledia Hanifa Amaliah menyampaikan paparannya dalam Sosialisasi Empat Pilar di Bumi Aher, Pasir Impun, Bandung. Foto/Dok.Ledia Hanifa Amaliah

BANDUNG – Kemajuan terknologi dan era industri 4.0 merupakan keniscayaan dari perkembangan zaman. Namun, jangan sampai semua itu mengubah nilai kebangsaan, khususnya bagi generasi muda.


Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Empat Pilar olehAnggota MPR RI, Ledia Hanifa Amaliah di Bumi Aher, Pasir Impun, Kota Bandung, Sabtu 23 November 2019. Kegiatan itu diikuti para pengurus dan anggota Wanita Persatuan Umat Islam (PUI) Kota Bandung dan beberapa perwakilan wilayah lainnya.

Ledia menuturkan, era industri 4.0 adalah gelombang perkembangan zaman yang ditandai dengan otomasi industri berbasis data dengan dukungan internet dimana sekat ruang, waktu, dan jarak terpangkas. Di sisi lain, kebutuhan akan tenaga manusia yang semakin mudah tergantikan oleh mesin dan artificial intelligent.

“Mungkin saja hubungan person to person akan berkurang. Silaturahim saja bisa tergantikan via gadget. Juga beberapa jenis pekerjaan dan hubungan kemasyarakatan. Namun, ada hal mendasar yang tidak bisa tergantikan, yaitu sisi kemanusiaan berupa ekspresi akal, rasa, emosi, dan jiwa,” kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (25/11).

Sisi kemanusiaan ini akan terus membutuhkan pembinaan dan penguatan. Manusia yang memiliki akal, rasa, emosi, dan jiwa ini akan terus kembali pada fitrah kemanusiaannya yang membutuhkan ketentraman dan kedamaian, selain kenyamanan dalam hidupnya.

“Karena itulah, mengukuhkan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang termaktub dalam empat pilar kebangsaan negeri kita adalah upaya kita bersama, bangsa Indonesia, untuk selalu siap menjadi manusia modern seutuhnya yang memiliki fisik, akal, emosi rasa dan jiwa yang perlu selalu dirawat dan dipenuhi kebutuhannya,” paparnya.

Di tengah era industri 4.0 yang dinamis, nilai-nilai Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bisa memantapkan kesadaran jiwa masyarakat Indonesia untuk selalu hidup dalam prinsip-prinsip berketuhanan, berperikemanusiaan, bersatu, bermusyawarah, dan berkeadilan.

Begitu pula ketika berjuta informasi, termasuk hoaks menyerbu masuk ke rumah-rumah masyarakat dengan leluasa, membenturkan persoalan-persoalan kesukuan, agama, ras dan antargolongan, maka pemahaman akan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika bisa menjaga kesadaran kita untuk berlapang dada, menerima, dan saling menghormati perbedaan di antara sesama anak bangsa.

“Dengan demikian, menyosialisasikan nilai-nilai kebangsaan melalui pemahaman akan Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) Negara RI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada setiap generasi menjadi suatu keniscayaan agar negeri ini, Indonesia, terus bisa mengantarkan masyarakatnya menyambut setiap era baru dengan keseimbangan antara kebutuhan fisik, akal, emosi, rasa, dan jiwanya,” pungkasnya. (fid/*)

Loading...

loading...

Feeds

Ajak Masyarakat Pelihara Budaya Sunda

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna mendukung penuh program “Saur Sepuh” yang diinisiasi oleh PGRI Kota …

Kerugian Bencana Capai Rp816 Juta

POJOKBANDUNG.com, SUKABUMI — Selama Januari hingga Februari 2021, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, mencatat terdapat 23 kejadian bencana. …

Angin Kencang, Pohon Timpa Mobil

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Sebuah mobil tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya Cijambe, Subang. Akibatnya bodi kendaraan pun ringsek. Peristiwa yang …

Dorong Bupati Rampingkan SOTK

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Pemkab Subang dinilai terlalu gamuk sehingga pembuatan perencanaan dan penyusunan anggaran …

Bakal Punya Wadah Industri Kreatif

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH – Wakil Bupati Bandung Barat, Hengky Kurniawan bertekad mewujudkan industri kreatif milenial. Gagasan itu rupanya tak main-main. Upaya …