BSSN dan Telkom University Perkuat SDM di Bidang Cyber Security

KERJA SAMA: Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi pada BSSN, Aries Wahyu Sutikno (kiri) dan Rektor Telkom University, Adiwijaya (kanan) menandatangani program kerja sama di Gedung Damar Kampus Tel-U, Selasa (12/11).

KERJA SAMA: Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi pada BSSN, Aries Wahyu Sutikno (kiri) dan Rektor Telkom University, Adiwijaya (kanan) menandatangani program kerja sama di Gedung Damar Kampus Tel-U, Selasa (12/11).

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggandeng Telkom University terkait deteksi dini dan koordinasi dalam rangka Cyber Situational Awarness. Tujuannya, meningkatkan kemampuan dan kapabilitas bidang keamanan dunia siber di lingkungan akademisi.


Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi BSSN, Aries Wahyu Sutikno menjelaskan, kerjasama dengan perguruan tinggi merupakan salah satu upaya pencegahan ancaman dunia siber. Kata dia, ancaman terbagi menjadi dua kelompok yakni fisik dan non fisik.

Ancaman fisik seperti serangan terhadap sistem jaringan. Sedangkan ancaman non fisik hubungannya dengan manusia. Aries mencontohkan, paham radikal yang bisa dipelajari melalui internet, kemudian mengoperasionalkan paham tersebut dengan melakukan berbagai cara seperti membuat bom, menyerang seseorang atau melakukan ancaman kepada individu seperti yang dialami eks Menko Polhukam, Wiranto, beberapa waktu lalu.

“Ancaman siber itu jelas. Mereka tidak perlu pergi ke Suriah atau belajar pada ISIS untuk menjadi radikal. Cukup di internet,” ujar Aries saat ditemui usai seminar dan workshop meningkatkan kemampuan deteksi dini dan koordinasi di Gedung Damar, Kampus Telkom University, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Selasa (12/11).

Aries juga menyebut, pihaknya sudah menyiapkan sebuah konsep atau wadah yang akan menghimpun keluhan warga soal informasi hoaks atau bukan. Jika benar hoaks, melalui wadah tersebut bisa diluruskan dan menginformasikan kebenarannya.

“Konsepnya masih dirancang. Tapi wadah tersebut di bawah naungan BSSN,” tegasnya.

Aries menyebut, tidak hanya radikalisme ancaman atau serangan melalui siber juga banyak tersebar seperti isu-isu ekonomi, politik, SARA dan lain sebagainya. Ancaman itu banyak beredar di wilayah-wilayah kelompok radikal berkembang seperti Poso, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta atau NTB.

“Tergantung persentase kelompok itu berada. Kami punya datanya informasi itu,” imbuhnya.

Aries mengungkapkan, untuk antisipasi pihaknya selalu berkoordinasi dengan instansi terkait dan tak bosan mengimbau warga agar sadar sisi positif dan negatif dari perkembangan informasi yang tersebar di internet.

“Jadi jangan sembarangan menyerap informasi mentah yang tersebar di internet, apalagi menyebarluaskan. Cek dan ricek dulu kebenarannya,” tuturnya.

Direktur Deteksi Ancaman BSSN, Sulistyo menambahkan, sebenarnya konsen BSSN salah satunya melakukan kolaborasi dengan stakeholder seperti universitas atau komunitas. Dalam kontek ini yakitu membangun kewaspadaan bersama seperti informasi ancaman siber yang terbebar di internet.

Loading...

loading...

Feeds