Pelatih Persib Pusing Tujuh Keliling

LONCAT: Winger Persib Bandung Febry Hariadi menghindari terjangan  pemain PSIS Semarang dalam Liga 1 Indonesia di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (6/11/2019). (FOTO:Taopik Hidayat/Radar Bandung)

LONCAT: Winger Persib Bandung Febry Hariadi menghindari terjangan pemain PSIS Semarang dalam Liga 1 Indonesia di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (6/11/2019). (FOTO:Taopik Hidayat/Radar Bandung)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Robert Alberts harus memutar otak karena lima pemain inti harus absen ketika melawan Arema. Yang lebih membuatnya pusing adalah empat dari lima pemain tersebut adalah andalan di lini depan. Esteban Vizcarra akumulasi kartu, Kevin Van Kippersluis cedera, sedangkan Febri Hariyadi dan Ezechiel N’douassel yang merupakan top skorer tim dipanggil timnas.


Pelatih asal Belanda itu pun mengakui bahwa memang sejak awal komposisi pemain Persib bermasalah. Karena sangat minim stok pemain depan yang dimiliki oleh Maung Bandung. Bahkan Persib kini tidak punya stok striker lokal siap pakai andai Ezechiel dan Kippersluis harus menepi.

“Itu sudah saya katakan sejak awal bahwa keseimbangan tim ini, terlalu sedikit opsi ketika situasi seperti ini terjadi. Dan penting di tahun depan untuk mengubah situasi ini supaya tak terjadi lagi,” kata Robert.

Robert juga turut menyoroti keputusan operator kompetisi yang tetap menggelar laga di tengah FIFA matchday. Sejumlah partai tunda yang belum dimainkan di Liga 1 2019 diselipkan saat tim nasional bertanding. Imbasnya klub yang pemainnya masuk dalam panggilan timnas harus tampil tanpa kekuatan terbaiknya.

“Dan yang terpenting, musim depan seharusnya klub tidak perlu bermain saat kalendar FIFA, itu yang lebih penting. Saya tidak mengerti, sebagai pelatih yang sudah 35 tahun berkecimpung di dunia sepakbola bagaimana hal itu bisa terjadi,” kata Robert.

Persib tidak bisa memainkan Ardi Idrus, Febri Hariyadi serta Ezechiel N’douassel karena dipanggil timnas. Padahal ketiganya adalah pemain penting bagi Persib untuk menghadapi Arema. Sang pelatih pun tidak bisa berbuat banyak dan tetap ikuti regulasi ini, tapi dia juga merasa perlu mengkritisi.

“Ya saya harus mengikuti aturannya, tapi hal itu tidak sesuai logika. Saya harus kritis ketika ada sesuatu yang memang itu harus dikritisi dan ini yang harus diperhatikan. Mungkin ini satu-satunya liga di dunia yang tetap bermain di tengah agenda FIFA dan itu tidak bagus untuk Persib,” katanya.

Laga Persib melawan Arema seharusnya digelar di pekan-21 lalu tapi batal digelar sesuai jadwal. Persib pun sempat mengajukan laga tunda ini digelar Desember mendatang tapi ditolak pihak operator. Menurutnya situasi ini tentu menyulitkan dia sebagai pelatih karena kehilangan banyak pemain penting.

“Jadi bagi saya seorang pelatih, pelatih hadir untuk mendapat hasil. Dan ketika hasil tidak bagus lantaran saya tidak mampu mengontrolnya, seperti situasi saat ini, yang disalahkan tetap saja pelatihnya,” pungkasnya.

(net)

Loading...

loading...

Feeds