Pemikiran Tiga Guru Besar UPI Dibutuhkan Walau Sudah Purnabakti

PIDATO KEHORMATAN; Tiga Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung foto bersama usai sampaikan pidato kehormatan jelang masa purnabakti, di Gedung Achmad Sanusi, Kampus UPI Jalan Dr Setiabudhi, Kamis (17/10).

PIDATO KEHORMATAN; Tiga Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung foto bersama usai sampaikan pidato kehormatan jelang masa purnabakti, di Gedung Achmad Sanusi, Kampus UPI Jalan Dr Setiabudhi, Kamis (17/10).

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Tiga Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung
sampaikan pidato kehormatan jelang masa purnabakti, di Gedung Achmad Sanusi, Kampus UPI, Jalan Dr Setiabudhi, Kamis (17/10/2019). Dalam orasinya mereka menyampaikan pemikiran dan gagasan strategis berdasarkan keilmuannya. Ketiganya ialah Prof Ishak Abdulhak, Prof Ahmad Munandar dan Prof Liliasari.


Rektor UPI, Asep Kadarohman menuturkan, ketiga guru besar tersebut meskipun sudah memasuki masa purnabakti namun masih bisa diberdayakan. Ia menilai, pemikiran dan gagasannya tetap diperlukan dalam dunia pendidikan.

“Ketiganya bisa menjadi profesor emeritus atau profesor dengan perjanjian kerja,” ujar Asep saat ditemui usai acara.

Asep melanjutkan, para guru besar tersebut akan mendapat tunjangan walau besar. Perjanjian kerja setiap tiga tahun akan dievaluasi. Tujuannya, kata dia, tak lain mendorong lahirnya guru besar baru lewat pemikiran dan gagasan sesuai bidang keilmuan.

“Saat ini UPI punya106 guru besar tetap status ASN dan 8 guru besar emeritus dengan perjanjian kerja. Dengan kehadiran tiga guru besar yang purnabakti di lingkungan kampus ini, kami yakin bisa mendorong lahirnya guru besar baru,” paparnya.

Asep mengungkapkan, sejauh ini secara kompetensi akademik tenaga pengajar UPI (doktor) bisa dibilang cukup memenuhi untuk mengajukan jadi guru besar. Namun, yang jadi permasalahan adalah kemauan dari yang bersangkutan.

“Kalau masalah syarat seperti publikasi jurnal, kami yakin tenaga pengajar UPI mampu. Masalahnya mau atau tidak.

Karena jadi guru besar tidak hanya cerdas atau intelektualnya tinggi tapi, harus memiliki emosial yang bagus dan patuh pada peraturan yang ada dan ini jadi catatan untuk calon guru besar,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Guru Besar UPI, Karim Suryadi menambahkan, orasi ilmiah penghormatan tiga guru besar ini bukan soal pensiunnya tapi momentum untuk mewariskan pengalaman terbaik atau pemikiran dan gagasan, yang layak jadi tonggak bagi dosen-dosen muda.

“Bangsa ini butuh keteladanan, biarlah kampus mempelopori keteladanan itu,” imbuhnya.

Kata dia, terkait status emeritus atau profesor dengan perjanjian kerja memang sangat diperlukan mengingat pemikiran-pemikiran ketiga guru besar tersebut masih dibutuhkan.

“Saya percaya pengalaman guru besar itu tak akan terganti oleh dosen muda, karena banyak hal yang belum tersampaikan pada generasi selanjutnya,” pungkasnya.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds

New Normal, Ini Manfaat Sistem HRIS bagi Perusahaan

POJOKBANDUNG.com–BELAKANGAN pemerintah Indonesia mulai mempersiapkan pemberlakuan aktivitas new normal pasca PSBB.  New normal sendiri adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan …