Rasio Elektrifikasi di Papua Rendah, PLN Galang Kerjasama dan Siapkan Program TALIS

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – PT PLN (Persero) fokus meningkatkan rasio elektrifikasi (RE) di Papua yang masih rendah. Pihak perusahaan menggalang kerjasama dengan berbagai pihak agar target rasio elektrifikasi mencapai 100 persen pada tahun 2020.

Executive Vice President Pengembangan Regional Maluku-Papua PT PLN, Eman Prijono Wasito Adi menyatakan diperlukan program percepatan penerangan di wilayah tersebut. Ia merencanakan lebih dari 899 desa dengan jumlah 63.930 rumah yang dialiri listrik tersebar di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Saat ini, di dua provinsi tersebut sudah ada 111 sistem kelistrikan yang terdiri dari 16 sistem kelistrikan besar (di atas 2 MW) dan 95 sistem kelistrikan kecil untuk yang kapasitasnya di bawah 2 MW. Dengan kata lain, terdapat daya mampu sebanyak 327,65 MW sedangkan beban puncaknya hanya sekitar 280,88 MW.

Sedangkan tingkat rasio elektrifikasi PLN sampai dengan Agustus 2019 di kedua provinsi itu kini mencapai 57,93% yang berasal dari tingkat elektrifikasi di Papua sebanyak 48,3 % dan Papua Barat 91,50%.

PLN berencana pada tahun 2020 Rasio Elektrifikasi di Provinsi Papua dan Papua Barat sudah 99,9%. Sementara saat ini Rasio Elektrifikasi PLN atau tingkat pemasangan listrik di Indonesia, per September 2019 sudah mencapai 98,86%.

“Upaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Papua masih terhambat oleh masalah geografis berupa lokasi desa yang berjauhan dan minimnya jalur tranportasi darat dan laut,” kata dia melalui siaran pers yang diterima, Senin (7/10/2019).

Agar bisa mencapai rasio elektrifikasi, Eman mengakui jika PLN tidak bisa berjalan sendirian. Ia perlu bekerjasama dengan sejumlah instansi lainnya yakni Kementerian ESDM, termasuk juga dalam bentuk CSR baik dari perusahaan dan juga partisipasi dari pemerintah daerah.

“Berdasarkan survei yang dilakukan melalui program EPT thun 2018, ada salah satu perangkat dalam rangka pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang ditawarkan, yakni Tabung Listrik (TALIS), alat penyimpanan energi (energy storage) yang juga berfungsi seperti power bank, digunakan untuk melistriki rumah.” ucap Eman.

Tabung Listrik (TALIS)

Selain menggunakan potensi sumber pembangkit listrik yang ada di desa, PLN juga telah menyiapkan program penggunaan aliran listrik melalui tabung listrik (TALIS). Tabung listrik ini merupakan hasil kerja sama PLN dengan Universitas Indonesia (UI).

Adapun fungsi dari TALIS itu adalah menyimpan daya listrik yang nantinya bisa digunakan masyarakat untuk menerangi rumah atau desanya. Sebuah tabung listrik yang berbobot sekitar 5 kilogram, bisa menampung daya listrik sebesar 300 watt hour (Wh) hingga 1.000 Wh. Penggunaannya pun cukup mudah, pemilik hanya tinggal memilih sistem AC atau DC dan tinggal dihubungan dengan kabel lampu.

Sedangkan jika daya listriknya sudah habis, pemilik bisa men-chargenya di PLTS, mikrohidro, pikkohidro, PLTA ataupun pembangkit listrik biomassa. “TALIS lebih hemat dan mudah digunakan,” kata Eman.

Dengan menggunakan TALIS, masyarakat bisa berhemat dalam pemasangan jaringan listrik karena biaya pembelian dan pemasangan listrik dengan menggunakan TALIS hanya sekitar Rp.3,5 juta. Sedangkan jika menggunakan jalur konvensional, tarifnya biasa lebih dari Rp 4 juta.

(*/azs)

Loading...

loading...

Feeds

Pemkab Bandung Serius Tegakkan KTR

Keseriusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung untuk mengimplementasikan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 Tahun 2017 Tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sangat …

DLH Juara KIP Kabupaten Bandung 2019

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung mendapatkan penghargaan sebagai peringkat pertama untuk kategori Utama Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penerapaan Undang-undang …

Ketua KPK “Kejar” Jokowi Terbitkan Perppu

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih bersedia untuk dapat menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti …