Upaya Elektrifikasi 100 Persen Banyak Tantangan, PLN Siapkan Strategi Baru

ILUSTRASI : Rasio elektrifikasi ribuan desa di Provinsi Papua dan Papua Barat menjadi fokus dari PLN untuk ditingkatkan. (dok. Jawa Pos)

ILUSTRASI : Rasio elektrifikasi ribuan desa di Provinsi Papua dan Papua Barat menjadi fokus dari PLN untuk ditingkatkan. (dok. Jawa Pos)

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA – Rasio elektrifikasi di Provinsi Papua dan Papua Barat masuk kategori yang perlu ditingkatkan. Untuk itu, ribuan desa di kedua daerah tersebut akan menjadi fokus dari PLN untuk dialiri listrik.

Direktur Human Capital Management (HCM) PLN Muhamad Ali menyatakan sampai bulan Juli 2019 rasio elektrifikasi Provinsi Papua adalah 48,5 persen dan Papua Barat 91,22 persen. Dengan jumlah desa sebanyak 7.358 desa, masih ada sekitar 1.724 desa yang masih gelap gulita.

“Rasio elektrifikasi di Indonesia ditargetkan mencapai 100% tahun 2020, kami berupaya meningkatkan rasio elektrifikasi dua provinsi yang masih rendah,” kata dia melalui siaran pers yang diterima, Kamis (3/10).

Itulah awal mula yang sekaligus menjadi dasar pertimbangan, PT PLN (Persero) Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua, menetapkan program inisiatif strategis bertajuk Ekspedisi Papua Terang. Langkah awal yang dilakukan ntuk membangun sistem kelistrikan, adalah mengadakan survei kelistrikan, yang menjadi dasar menentukan tahapan atau langkah berikutnya.

Sebagai kelanjutan dari Ekspedisi Papua Terang yang merupakan program tahun lalu, di tahun 2019 ini pihaknya menetapkan “Program 1.000 Renewable Energy for Papua. Program itu merupakan kerjasama PT PLN (Persero) Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua dengan Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Cenderawasih, LAPAN, dan TNI AD.

Salah seorang peserta ekspedisi Papua Terang, Vita Khairunnisa bahwa masyarakat desa di Papua memiliki pandangan yang berbeda. Ada yang menerimaa, namun tak sedikit yang menunjukan penolakan terhadap tim ekspedisi.

Distrik daerah pantai relatif mudah menerima tamu di luar warga Papua, sedangkan warga di daerah pegunungan tidak mudah menerima tim ekspedisi. Ia menduga, kawasan pegunungan terdapat areal pertambangan. Maka sebagai penduduk yang berdomisili di sana, praktis mereka tidak mendapatkan manfaat yang setimpal dari potensi sumber daya alam yang ada.

“Itu sebabnya kerap sebagai penduduk setempat, mereka menaruh rasa curiga terhadap kedatangan orang asing. Namun, semua bisa berakhir baik setelah tim menjelaskan maksud kedatangan adalah untuk memasang listrik,” kata dia.

Tawarkan Pembangkit Listrik Dari hasil kajian dan survei menurut Kepala Divisi Pengembangan Regional Maluku – Papua PT PLN (Persero) Eman Prijono Wasito Adi, ada empat alternatif EBT yang ditawarkan dalam EPT yakni Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro; Tabung Listrik (Talis); Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm); serta PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Untuk Pikohidro menurut Vita, lebih cocok apabila diaplikasikan pada daerah yang memiliki perbedaan ketinggian.

Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro merupakan pembangkit skala sangat kecil yang memanfaatkan energi potensial air untuk menghasilkan listrik berkapasitas hingga 5.000 Watt. Energi potensial air menggerakkan turbin, sedangkan turbin memutar generator, dan generator inilah yang dapat menghasilkan listrik.

Sedangkan Tabung Listrik merupakan alat penyimpanan energi (energy storage) layaknya power bank, yang digunakan untuk melistriki rumah. Cukup dengan plug-and-play, masyarakat di pedalaman Papua sudah dapat memanfaatkan listrik dengan Talis ini untuk kebutuhan penerangan hingga menyalakan televisi. Talis dapat diisi ulang di Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL).

Sementara PLTBm adalah pembangkit listrik skala kecil yang memanfaatkan potensi energi biomassa, seperti bambu, kayu, serat kelapa sawit dan bahan organik kering lainnya. Pembakaran biomassa menghasilkan uap air bertekanan yang memutar turbin, kemudian menggerakkan generator untuk menghasilkan listrik. PLTBm yang dikembangkan oleh PLN Regional Maluku dan Papua berkapasitas 3 – 10 kW.

Seperti yang kita kenal selama ini Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), menjadi alternatif melistriki daerah yang sulit dijangkau oleh transportasi darat. Karena itu dengan mengandalkan sumber energi matahari, maka sangat cocok untuk kawasan terpencil. Energi listrik disalurkan melalui jaringan tegangan rendah atau digunakan sebagai SPEL untuk Talis / Energy Storage (cadangan energi).

(rls/azs)

Loading...

loading...

Feeds

Pemkab Bandung Serius Tegakkan KTR

Keseriusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung untuk mengimplementasikan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 Tahun 2017 Tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sangat …

DLH Juara KIP Kabupaten Bandung 2019

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung mendapatkan penghargaan sebagai peringkat pertama untuk kategori Utama Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penerapaan Undang-undang …

Ketua KPK “Kejar” Jokowi Terbitkan Perppu

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih bersedia untuk dapat menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti …