PDAM Fokus di Daerah Kekeringan

KEKERINGAN : PDAM Tirta Raharja mendistribusikan air ke daerah yang mengelami kekeringan. (Ivan Mardiansyah/Lombok Pos/JawaPos Group)
( ILUSTRASI  )

KEKERINGAN : PDAM Tirta Raharja mendistribusikan air ke daerah yang mengelami kekeringan. (Ivan Mardiansyah/Lombok Pos/JawaPos Group) ( ILUSTRASI )

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Meski saat ini persediaan air dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Raharja Kabupaten Bandung mengalami penurunan, bantuan pasokan air bersih untuk didistribusikan ke sejumlah daerah yang kekeringan tetap dilakukan. Setiap hari, rata-rata disalurkan 125.000 liter ke sejumlah daerah di tiga wilayah, yakni Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan Kota Cimahi.

Manager Junior Humas dan Kesekretariatan Perumda Air Minum Tirta Raharja, Sri Hartati mengatakan, sejak satu bulan terakhir rata-rata ada 25 ritase armada tangki yang mendistribusikan air dari Perumda ke sejumlah daerah yang mengalami krisis air bersih. Satu tangki rata-rata berkapasitas 5.000 liter.

“Penyaluran air bersih berkoordinasi dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) di setiap wilayah. Untuk armada tangki, disediakan dari daerah masing-masing, sedangkan Perumda hanya menyediakan pasokan air,” ungkap Sri saat dihubungi melalui telepon selulernya, Minggu (15/9/2019).

Sri mengungkapkan, krisis air bersih memang kerap terjadi saat musim kemarau. Hal itu pun sudah diantisipasi Perumda untuk menyediakan pasokan air. Pihaknya pun tidak hanya menyediakan pasokaan air bersih untuk pelanggan saja, tetapi juga nonpelanggan.

“Ini memang sudah menjadi rutinitas yang kami lakukan saat kemarau. Meski memang dengan stok air yang ada saat ini, kami tetap berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik,” katanya.

Sri mengungkapkan, musim kemarau cukup berdampak terhadap berkurangnya debit air di beberapa sumber air baku yang dikelola Perumda. Di antaranya Sungai Cijanggel yang memasok kebutuhan air bersih bagi para pelanggan di wilayah utara, yakni Kota Cimahi dan sebagian Kabupaten Bandung Barat wilayah utara dan barat.

“Saat ini debit air dari Sungai Cijanggel mengalami penurunan signifikan, yakni sekitar 70 persen. Dari kondisi normal 166 liter per detik, debit air kini hanya 43 sampai 45 liter per detik. Tentunya ini berdampak juga terhadap minimnya pasokan ke wilayah utara, makanya kami lakukan pendistribusian secara bergilir atau terjadwal,” terangnya.

Pihaknya, kata dia, terus berupaya mengoptimalkan pendistribusian air bersih dengan pasokan yang tersedia. Sri mengakui, faktor alam seperti kemarau panjang saat ini memang tidak bisa dihindari, sehingga berdampak terhadap berkurangnya pasokan air bersih yang dikelola Perumda.

“Kami harap segera turun hujan, sehingga pasokan air bisa kembali normal dan kebutuhan pelanggan bisa terpenuhi. Sekarang, yang terpenting pelayanan tidak sampai berhenti. Tapi penjadwalan terpaksa dilakukan,” katanya.

(gat)

Loading...

loading...

Feeds