Kerajaan Sriwijaya Fiktif? Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad: Buktikan dengan Data

Guru Besar Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjajaran (Unpad), Reiza D. Dienaputra

Guru Besar Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjajaran (Unpad), Reiza D. Dienaputra

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Guru Besar Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjajaran (Unpad), Reiza D. Dienaputra membatah pernyataan pemerhati sejarah dan budaya, Ridwan Saidi, ihwal Kerajaan Sriwijaya fiktif. Menurut Reiza, pernyataan itu tidak mendasar dan tak berbasis data.


Reiza mengakatan, jika benar Kerajaan Sriwijaya fiktif maka yang jadi pertanyaannya ialah, data apa yang digunakan?. Sebab, kata Reiza, apa yang sudah direkonstruksi tim dan sejarawan selama ini adalah fakta karena didukung data.

“Berbicara Sriwijaya adalah sebuah kerjaan, itu benar. Tidak bisa diubah, karena data-datanya ada,” jelas Reiza saat ditemui di Kampus Unpad, Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, Senin (2/9).

Reiza melanjutkan, selama berpuluh-puluh tahun pascaruntunya Kerajaan Sriwijaya, semuanya sudah menjadi bahan konsumsi baik untuk penelitian atau pembelajaran didunia pendidikan. Jika berbicara lebih jauh, dapat diartikan Kerajaan Sriwijaya yang berdiri pada abad ke-7 merupakan sebuah realitas sejarah yang ada di nusantara.

“Sejarah itu tidak bisa tiba-tiba. Ada yang namanya data, kritik kemudian interpretasi untuk selanjutnya dituliskan. Itulah tahapan yang dilakukan. Sejarah tak mungkin ditulis tanpa didukung data,” jelasnya.

Reiza menyebut, dalam kontek seorang sejarawan apa yang diteliti harus jelas,
no document-no history (tanpa dokumen tidak ada sejarah). Sejarah tidak boleh bicara alkisah, konon atau katanya.

“Sejarah itu tidak boleh asal. Tapi harus berbasis data dan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Reiza menyadari, selama ini banyak pembiasan tentang sejarah. Namun, yang paling penting ialah memberi pemahaman kepada masyarakat tentang sejarah yang benar itu harus didukung data.

“Terkadang masyarakat salah pemahaman dengan foklor (dongeng, legenda, mitos). Foklor dianggap sejarah dan sejarah dianggap foklor.
Oleh karena itu, untuk memahami sejarah harus bisa dijelaskan dengan real, tentunya kembali lagi pakai
data,” pungkasnya.

Seperti diketahui, baru-baru ini budayawan Ridwan Saidi menyatakan Kerajaan Sriwijaya hanyalah fiktif, serta prasasti Sriwijaya yang ada di Indonesia hanyalah tiruan. Ridwan menuding kerajaan Sriwijaya hanya kelompok bajak laut yang dibesar-besarkan.

Ridwan mengatakan, sejarah di Indonesia bukan diawali oleh masuknya agama Hindu dan Buddha melalui kerajaan Sriwijaya dan Tarumanegara. Ia merasa ajaran Islam sudah lebih dulu masuk ke Indonesia. Pernyataan itu diunggah melalui kanal media sosial (medsos) YouTube.

“Sriwijaya itu enggak ada, yang ada kerajaan Islam Palembang abad ke-8 kemudian jadi kesultanan Islam Palembang, itu ada kenapa ditutupin,” ujar Ridwan.

(arh)

Loading...

loading...

Feeds

Sampah Menumpuk di Pasar Gedebage

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Terjadi penumpukan sampah di Pasar Gedebage, Kota Bandung, Senin (17/5). Tumpukan sampah disebut terjadi menjelang lebaran, akibat …