Pelaku Industri Kecil Menengah Dituntut Memulai Proses Transformasi Digital

Bandung – Jumlah Industri Kecil Menengah (IKM) potensial menjadi penggerak ekonomi. Namun dalam merealisasikannya, mereka harus mengoptimalkan teknologi informasi.


Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa jumlah IKM lebih dari 4,4 juta unit usaha yang. Angka itu setara dengan 99% dari seluruh unit usaha industri di Indonesia.

Namun, keberadaan mereka yang potensial itu masih belum diimbangi dengan akses pemanfaatkan teknologi. Itu pula lah yang membuat Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meluncurkan gerakan transformasi digital industri kecil dan menengah dengan tech startup sebagai penyedia teknologi.

Kasubdit IKM Elektronika dan Telematikan Ditjen lKMA Kemenperin, Agus Tavip berharap banyak pelaku IKM membuka diri dan berkolaborasi untuk memulai proses transformasi digital dengan bantuan startup sebagai technology provider atau pemecah masalah.

“Inovasi teknologi digital yang dihasilkan merupakan tools (alat) yang dapat menjawab kebutuhan industri,” kata dia usai acara roadshow seminar dan sosialisasi ‘Startup, Tech Provider 4 IKM’ di Block 71 Bandung, Sabtu (31/8/2019).

Ia menjelaskan, seminar dan sosialisasi tersebut melibatkan akademisi, startup, lembaga penelitian untuk membantu menyelesaikan permasalahan industry kecil dan menengah serta membut produk inovasi untuk industri kecil dan menengah.

“Tidak sedikit dari startup tersebut merupakan technology provider yang dapat menghasilkan teknologi digital yang aplikatif dan solutif bagi IKM untuk dimanfaatkan di lini manajerial, produksi, maupun pemasaran,” kata dia.

Adapun rangkaian program ini dimulai pada tanggal 20 Agustus hingga 20 Oktober 2019. Ada beberaoa rangkaian kegiatan yang dilakuak, yaitu Tech Link atau business matching antara IKM dengan startup yang akan dilaksanakan di Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Makassar, Medan, Tangerang dan Bekasi pada rentang 31 Agustus 18 September.

Selain itu, sosialisai kompetisi Hack Industry dan Comptech di kota Bandung, Malang, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Makassar, Medan, Batam, dan Bali pada 31 Agustus – 19 September 2019.

“Program Startup 4 Industry ini diharapkan dapat mengkatalisator proses transformasi digital di IKM yang berbasis pada pemecahan masalah yang dihadapi,” katanya.

Sementara itu, Kabiro Perekonomian Pemprov Jabar, Rachmat Taufik mengatakan bahwa ada beragam masalah yang dihadapi. Di antaranya kesulitan akses modal dan pemasaran.

“Biasanya, mereka itu bisa membuat produk tetapi tidak tahu pasarnya harus seperi apa, permodalannya dari mana,” kata dia.

Untuk itu, program ini membantu para pelaku IKM melalui platform sebagai media menjual produknya. Selain itu, program ini bisa dikolaborasi dengan program pemerintah yang berkaitan dengan standarisasi produk.

“kita bantu seperti sertifikasi halal, sertifikasi SNI segala macam itu untuk mendorong para pelaku industri kreatif di Jabar. Kemudian, BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen) Ini untuk menjaga agar konsumen kita itu tidak ada yang dikecewakan,” terang dia.

“Lalu, pelatihan maupun yang kita kerjasamakan untuk permodalan. Untuk yang kecil ada kredit mesra terus ada KCR (kredit cinta rakyat) yang diteruskan pada zaman Ahmad Heryawan,” pungkasnya. (Fid)

Loading...

loading...

Feeds