Museum Bandung Ogah Bayar Utang Rp575 Juta

PAMERAN: Pengunjung mengamati karya seni rupa yang ngusung tema

PAMERAN: Pengunjung mengamati karya seni rupa yang ngusung tema "Bebaskeun" di Museum Kota Bandung, Jalan Aceh, Kota Bandung, Kamis (22/8/2019). FOTO : (TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Keberadaan Museum Kota Bandung masih menyisakan masalah.
Perihal tunggakan sebesar Rp575 kepada vendor hingga saat ini belum jelas pembayarannya. Padahal, pekerjaan display grafis dan mural interior museum sudah rampung 2017.


Salah seorang vendor, Chafid Yoedawinata mengatakan, masalah ini sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya. Ia meminta pihak terkait segera menyelesaikan masalah ini.

“Museum sudah digunakan dan banyak menggelar acara, tapi kenapa kami seolah diabaikan,” ucap Chafid, Selasa (27/8/2019).

Chafid menuturkan, sebagai penyedia jasa tentu nilai itu sangat berarti. Menurut dia, dari nilai total pekerjaan Rp906 juta masih ada sisa tunggakan sebesar Rp575 juta.

“Saat ini Museum Bandung terus beroperasi secara normal, seakan tidak ada masalah. Makanya saya khawatir jika persoalan ini dianggap remeh,” sebutnya.

Pada Desember 2017, Chafid mendapat pekerjaan dari Tim Museum Kota Bandung untuk mengerjakan pembuatan display grafis. Pekerjaannya meliputi pembuatan display grafis tahap pertama di area dinding ruang pamer bangunan museum lama (cagar budaya), serta mengisi panel grafis yang berisi sejarah Kota Bandung serta tokoh-tokoh Bandung pada bangunan baru museum di bagian depan.

Tim Museum Kota Bandung meminta pekerjaan selesai dalam waktu dua minggu demi mengejar pembukaan museum pada akhir 2017, meski idealnya pekerjaan tersebut seharusnya dikerjakan 6 bulan. Ternyata Tim Museum Kota Bandung menyatakan pembukaan ditunda. Selain itu, beberapa vendor lain diketahui masih belum menyelesaikan pekerjaannya.

“Kami bekerja dengan memerhatikan detail, karena ini proyek seni. Kami juga mengebut pengerjaan karena ingin menolong Tim Museum Bandung supaya bisa mengejar rencana pembukaan museum,” ujarnya.

Perjanjian kontrak antara Tim Museum Bandung dengan Chafid disepakati di atas materai pada 14 Desember 2017, dengan nilai pekerjaan Rp 431 juta. Chafid dijanjikan pelunasan pada saat setelah tanda tangan kontrak. Akan tetapi, pelunasan itu mundur. Baru pada Januari 2018 uang muka masuk dengan dicicil pada 2 Januari dan 26 Januari senilai Rp 181 juta.

“Beberapa kali dipastikan akan dibayar. Tetapi sampai saat ini belum juga diselesaikan. Saya sih terus mencoba sabar, sampai sekarang. Saya cuma berharap ini bisa selesai baik-baik,” ujarnya.

Pada 23 Februari 2018, kata Chafid, barang produksi tahap pertama diminta Tim Museum Kota Bandung agar segera dikirim karena akan ada audit dari Dinas. Padahal barang produksi tersebut belum lunas, dengan janji dari Tim Museum bahwa akan dilunasi segera setelah barang dikirim, tetapi ternyata tidak juga dilunasi. Ia terus menagih setiap bulan.

Pada awal September 2018, Tim Museum menawarkan pekerjaan baru dengan dalih agar pelunasan proyek sebelumnya bisa dibayar sekaligus. Pekerjaan pembuatan display grafis dan mural tahap kedua itu berupa tambahan pembuatan dinding display grafis dan pembuatan dinding mural di lobby utama gedung lama senilai Rp 475 juta.

Chafid sempat menolak tawaran itu karena pembayaran tahap 1 belum selesai. Namun, uang muka tahap II senilai Rp 150 juta kadung ditransfer pada 5 September 2018. Berbeda dengan 4 kali transfer tahap I yang menggunakan rekening pribadi, kali ini pembayaran uang muka tersebut diterima dari Lalu Lintas Giro dari Bank Jabar Banten Museum Sejarah BDG. Akhirnya, kata dia, kontrak pekerjaan ditandatangani pada 14 september 2018.

Tahap II selesai hanya seminggu setelah kontrak, atau sebelum rencana pembukaan akhir Desember 2018. Ia kembali dijanjikan pembayaran lunas pada November 2018. Namun, pelunasan itu kembali mundur hingga April 2019, dengan janji dari Tim Museum Kota Bandung bahwa katanya akan dibayarkan dengan dana dari APBD 2019.

“Hingga saat ini total sisa pembayaran Rp 575 juta belum kami terima,” ungkapnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Dewi Kaniasari mengaku tak tahu menahu soal piutang tersebut.

“Pemkot atau Disbudpar Bandung tidak ada hutang kepada vendor-vendor,” kata perempuan yang akrab disapa Kenny tersebut.

Menurut Kenny, selama ini vendor mendapat proyek pengerjaan dari Tim Museum Bandung.

“Sehingga untuk hutang piutang merupakan urusan Tim Museum dengan vendor. Kami tidak diikutsertakan, bahkan diberitahukan tidak,” pungkasnya.

(mur)

Loading...

loading...

Feeds

Kerugian Bencana Capai Rp816 Juta

POJOKBANDUNG.com, SUKABUMI — Selama Januari hingga Februari 2021, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, mencatat terdapat 23 kejadian bencana. …

Angin Kencang, Pohon Timpa Mobil

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Sebuah mobil tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya Cijambe, Subang. Akibatnya bodi kendaraan pun ringsek. Peristiwa yang …

Dorong Bupati Rampingkan SOTK

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Pemkab Subang dinilai terlalu gamuk sehingga pembuatan perencanaan dan penyusunan anggaran …

Bakal Punya Wadah Industri Kreatif

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH – Wakil Bupati Bandung Barat, Hengky Kurniawan bertekad mewujudkan industri kreatif milenial. Gagasan itu rupanya tak main-main. Upaya …

Gandeng LBH Gerakan Pemuda Anshor

POJOKBANDUNG.com, CIMANGGUNG – Untuk melindungi warga karang taruna dan masyarakat Cimanggung yang berurusan dengan masalah hukum, Forum Pengurus Karang Taruna …