Ujicoba IPAL Alat Filterisasi Limbah

TES : Tim periset dari Fakultas Sains dan Informatika, Program Studi Kimia, Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), saat mecoba alat IPAL sederhana, di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (foto : ILUSTRASI)

TES : Tim periset dari Fakultas Sains dan Informatika, Program Studi Kimia, Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), saat mecoba alat IPAL sederhana, di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (foto : ILUSTRASI)

POJOKBANDUNG.com, PADALARANG – Prototipe alat untuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) bernama Ultrafiltrasi Membran Polimer berbasis Crude-PPO karya tim periset dari Fakultas Sains dan Informatika, Program Studi Kimia, Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) diuji langsung di salah satu industri di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.


Ketua Kelompok Keahlian Kimia Analitik/Kimia Fisik, Anceu Murniati mengatakan, alat filtrasi untuk limbah cair tersebut dibuat dari bahan pangan yang mudah didapat, murah, serta ramah terhadap lingkungan. Terciptanya prototipe alat ini berkat sokongan dana dari riset Dikti dan dana internal Unjani.

“Simulasi lapangan langsung ke industri ini sebagai upaya menyampaikan produk kampus. Bagaimanapun riset produk kampus harus dapat dirasakan oleh user, dalam hal alat filtrasi limbah cair maka usernya adalah kalangan industri,” kata Anceu Murniati saat ditemui ketika simulasi bersama sejumlah mahasiswa di salah satu industri di Padalarang, Sabtu (3/7/2019).

Menurut Anceu, selain perkenalan produk, pihaknya juga ingin mengetahui cara kerja prototipe alat tersebur dalam memfiltrasi limbah, apakah berhasil atau tidak.

“Hasilnya ternyata cukup bagus, dari asalnya air kotor bisa jadi bening dengan PH 7 atau netral,” terangnya

Dia menjelaskan, alat ini sebelumnya sudah diuji di IPAL terpadu PT Mitra Citarum Air Biru (MCAB) yang mengelola limbah 24 pabrik besar di Cisirung, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Meskipun hasilnya cukup memuaskan tapi pihaknya dan tim periset tidak mau berpuas diri dan terus melakukan inovasi. “Salah satunya dengan mengurangi pemakaian zat kimia untuk beralih ke pengembangan teknologi dengan harga yang lebih murah dan ramah lingkungan,” jelasnya.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unjani ini menambahkan, Ultrafiltrasi Membran Polimer berbasis Crude-PPO ini memiliki cara kerja yang lebih simpel.

Namun memiliki kemampuan filtrasi dan menetralisir air limbah yang baik. Hasilnya pun setelah dicek, bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, beban pencemaran setelah memakai alat ini masih memenuhi baku mutu sesuai dengan standar Permen LH Nomor 5 Tahun 2014.

“Air hasil filtrasi alar ini sudah netral jadi tidak masalah kalau dibuang ke saluran air lingkungan. Ke depan kami akan terus kembangkan, karena research itu tidak pernah puas dalam menemukan hal-hal baru. Semoga bisa lebih disempurnakan seperti dari waktu dan kejernihannya,” kata dia.

Periset dan juga Asisten Peneliti dari Fakultas Sains dan Informatika, Kimia, Unjani, Irsyaad Fauzi Ramadhan (22) mengatakan, pada alat ini tidak menggunakan treatmen biologis dan kimia tapi memakai sistem auto elektrokiagulasi. Tujuannya untuk mengurangi limbah B3 seperti kadar BOD, COD, dan TSS.

Ada tiga bak utama yang dipakai selama proses filtrasi yakni bak elektrokiagulasi, bak netralisir, dan bak membran atau zat aktif. Sebab di industri senyawa organik seperti fenol meski ada manfaatnya namun bersifat korosif dan beracun sehingga harus dinetralisir.

“Hasil penelitian kami di sini dari PH air limbah yang sebelum difiltrasi sebesar 8, setelah disaring menjadi PH 7. Itu artinya ada penurunan PH air menjadi netral dan aman bagi lingkungan,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Desa Padalarang, Ivan Adriansyah (26) mengapresiasi simulasi langsung dari alat penetralisir limbah yang dibuat oleh tim mahasiswa dan dosen dari Fakultas Sains dan Informatika, Kimia, Unjani.

Hal ini bisa membantu kalangan industri dalam mengurangi kadar pencemaran limbah sekaligus mendukung program Citarum Harum. Apalagi industri di

kawasan padalarang banyak yang bermuara ke Sungai Citarum sehingga limbahnya harus difilter sampai aman sebelum dibuang ke saluran air lingkungan.

“Ini karya yang bagus, terus berkreasi dan ciptakan ide-ide baru yang bisa bermanfaat bagi masyarakat. Semoga bisa membuat prototipe alat yang lebih baik lagi bagi kalangan industri,” pungkasnya.

(bie)

Loading...

loading...

Feeds