Belum Semua Jenis Ular Berbisa Ditemukan Anti Racunnya

PENANGANAN: Seorang warga mendapat penanganan medis pertama pascadigigit ular berbisa.
( IST )

PENANGANAN: Seorang warga mendapat penanganan medis pertama pascadigigit ular berbisa. ( IST )

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Indonesia seakan ‘diteror’ oleh ular berbisa. Beberapa waktu lalu, banyak orang yang menjadi korban, termasuk di Jawa Barat. Sayangnya sejauh ini belum semua jenis ular berbisa ditemukan penawar atau anti racunnya.


Pakar Gigitan Ular dan Toksikologi, dr. Tri Maharani mengatakan,
ada 76 jenis ular di Indonesia yang berbisa. Dari jumlah itu hanya satu anti venom (anti racun) aktif ular yang dapat digunakan sebagai penawar tiga jenis ular berbisa.

Ia menjelaskan, jenis ular berbisa pertama yang berpotensi menyebabkan kematian di Indonesia, yakni king cobra. Hal tersebut berdasarkan data korban dari tujuh tahun terakhir di Indonesia.

“Lebih dari 50 orang yang jadi korban akibat gigitan ular ini dalam tujuh tahun terakhir,” ujar Tri di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Minggu (21/7/2019).

Tri mengatakan, bisa ular yang marak di Pulau Jawa antara lain berjenis neurotoksin, hematotoksin dan nekrotoksin. Efek yang akan terasa ketika terkena gigitan ular berbisa yakni pembengkakkan dan rasa nyeri.

“Setelah rasa nyeri, mulai sesak nafas tapi hematotoksin kalau pembengkakan sama mulai terjadi ada kayak bulir-bulir yang isinya cairan-cairan,”jelasnya.

Tri berharap, pemerintah dapat memberi alat untuk penanganan pertama bagi para pekerja yang lokasi kerjanya rentan terkena gigitan ular. Kemudian pemerintah juga bisa memproduksi anti racun aktif ular. Sebab masih ada 68 jenis ular berbisa di Indonesia yang belum memiliki obat tersebut.

“Kemudian edukasi kepada masyarakat haru ditingkatkan kembali, seperti dibuatkan film-film edukasi bisa dalam bentuk visual,”ucapnya.

Ditempat yang sama, Pembina Yayasan Sioux Regional Jawa Barat, Herlina Agustin mengatakan, penanganan gigitan ular di Indonesia masih dipengaruhi mitos atau kepercayaan masyarakat. Sehingga banyak masyarakat saat terkena gigitan ular diobati ke paranormal dibanding ke dokter.

“Pergi ke (dukun) atau ke pengobatan alternatif justru dapat mengakibatkan luka itu menjadi semakin parah,” ujar Herlina.

Herlina berharap, pemerintah ataupun kementrian kesehatan dapat memberikan fasilitas kepada masyarakat untuk edukasi ataupun penyediaan anti racun aktif ular berdasarkan masing-masing gigitan jenis ular berbisa.

“Kami minta ke Kementerian Kesehatan untuk perangkat menyediakan edukasi dan tersedianya anti racun aktif ular,”pungkasnya.

(azs)

Loading...

loading...

Feeds

Calon Jemaah Haji Wajib Divaksin

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Kementerian Kesehatan Arab Saudi dikabarkan telah mengeluarkan kebijakan baru terkait syarat mengikuti ibadah haji. Berdasarkan informasi hanya …

Rachmat Yasin Dituntut Empat Tahun Bui

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Mantan Bupati Bogor, Rachmat Yasin, dituntut empat tahun penjara atas kasus korupsi. Yasin diduga menerima gratifikasi dari …

Tukang Rias Meninggal di Kamar Kos

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Warga Kelurahan Panglejar, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, mendadak geger. Mereka dikejutkan dengan temuan sesosok mayat laki-laki di …

15 Nakes Covid, Puskesmas Cisalak Ditutup

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Puskesmas Cisalak, Kabupaten Subang ditutup. Ini karena 15 nakesnya terkonfirmasi positif virus Covid-19. Penutupan dilakukan selama 14  …

Ratusan Prajurit Kodam Divaksin Sinovac

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Ratusan prajurit TNI dijajaran Kodam III/Siliwangi menerima suntikan Vaksinasi Sinovac. Hal tersebut disampaikan Kapendam III/Siliwangi Kolonel Inf …